SEMARANG-SMKN Jateng di Semarang terus menunjukkan komitmennya dalam mendorong transformasi digital di lingkungan pendidikan. Hal tersebut terlihat dari pelaksanaan kegiatan Sumatif Akhir Tahun (SAT) yang digelar pada 2–5 Juni 2026 dan dilanjutkan pada 8 Juni 2026 sebagai asesmen akhir tahun pembelajaran bagi seluruh peserta didik kelas X dan XI. Kegiatan ini menjadi bagian penting dalam proses evaluasi akademik untuk mengukur tingkat penguasaan materi yang telah dipelajari siswa selama satu tahun pembelajaran, sekaligus menjadi salah satu indikator kelayakan siswa untuk melanjutkan ke jenjang berikutnya.
Pelaksanaan SAT tahun ini terasa berbeda dibandingkan tahun-tahun sebelumnya. Jika ujian konvensional identik dengan lembar soal cetak dan lembar jawaban manual, kali ini sekolah menerapkan sistem asesmen digital berbasis aplikasi Android bernama ATEKA, sebuah inovasi yang dikembangkan secara mandiri oleh SMKN Jateng di Semarang. Inovasi tersebut menandai langkah maju sekolah dalam memanfaatkan teknologi untuk mendukung proses evaluasi pembelajaran yang lebih modern, efektif, dan aman.
Kegiatan ujian berlangsung di Gedung Pembelajaran sekolah dengan melibatkan berbagai pihak, mulai dari panitia ujian, guru mata pelajaran, tim teknologi informasi sekolah yang bekerja sama memastikan seluruh proses berjalan lancar. Seluruh siswa mengikuti ujian dari ruang-ruang yang telah disiapkan sekolah dengan menggunakan perangkat telepon pintar masing-masing yang telah terpasang aplikasi ATEKA.
Salah satu sosok penting di balik kelancaran pelaksanaan ujian adalah Maulana, Guru Informatika sekaligus Admin Ujian SMKN Jateng di Semarang. Ia bertanggung jawab dalam pengelolaan sistem ujian, pemantauan server, serta memastikan aplikasi berjalan stabil selama pelaksanaan asesmen.
Aplikasi ATEKA dirancang khusus untuk mendukung pelaksanaan asesmen digital dengan sistem keamanan yang lebih ketat dibandingkan aplikasi ujian pada umumnya. Salah satu fitur unggulan aplikasi ini adalah kiosk mode atau sistem penguncian aplikasi. Fitur tersebut membatasi siswa untuk membuka aplikasi lain selama ujian berlangsung. Setelah peserta memasukkan token dan memulai ujian, mereka tidak dapat keluar dari aplikasi hingga ujian selesai sesuai dengan ketentuan yang berlaku.
Mekanisme ini dinilai mampu menekan potensi kecurangan yang selama ini menjadi tantangan dalam ujian berbasis perangkat digital. Selain penguncian aplikasi, ATEKA juga menerapkan sistem token keamanan yang diperbarui secara berkala setiap 15 menit. Dengan pembaruan token tersebut, akses tidak sah terhadap soal ujian dapat diminimalkan secara signifikan.
Tidak hanya unggul dari sisi keamanan, ATEKA juga menghadirkan variasi bentuk soal yang lebih kaya dibandingkan sistem ujian konvensional. Aplikasi ini mendukung soal pilihan ganda sederhana dengan satu jawaban benar, pilihan ganda kompleks yang memungkinkan siswa memilih lebih dari satu jawaban, serta soal pilihan ganda kategori benar-salah yang mengharuskan siswa menentukan status setiap pernyataan. Variasi jenis soal ini memberi keleluasaan bagi guru untuk menyusun asesmen yang lebih komprehensif sesuai karakteristik kompetensi yang diukur.
Keunggulan lain dari ATEKA terletak pada sistem penilaian otomatis yang terintegrasi. Begitu siswa menyelesaikan ujian, sistem dapat langsung melakukan proses koreksi dan rekapitulasi nilai secara cepat. Hal ini memberikan kemudahan bagi guru maupun panitia dalam mengelola hasil asesmen tanpa harus melalui proses koreksi manual yang memakan waktu.
Menurut Maulana, penggunaan ATEKA merupakan sebuah lompatan penting dalam pemanfaatan teknologi pendidikan di sekolah. Ia menilai digitalisasi asesmen bukan hanya soal efisiensi, tetapi juga tentang menciptakan sistem evaluasi yang lebih akuntabel dan adaptif terhadap perkembangan zaman.
“Menurut saya, penggunaan aplikasi ini adalah sebuah kemajuan dalam hal pemanfaatan teknologi untuk asesmen siswa. Siswa tidak bisa lagi membuka aplikasi lain ketika melaksanakan ujian. Namun, karena ini merupakan kali pertama aplikasi digunakan dalam ujian riil, tentu masih ditemukan beberapa bug sistem maupun celah kecurangan yang muncul. Meski demikian, panitia dan pengembang aplikasi dapat segera mengambil langkah untuk mengatasi berbagai kendala tersebut,” ujar Maulana.
Ia mengakui, sebagai implementasi perdana dalam skala besar, masih terdapat beberapa catatan teknis yang perlu diperbaiki. Beberapa bug sistem sempat muncul selama pelaksanaan, namun respons cepat dari tim pengembang dan panitia memungkinkan kendala tersebut segera diatasi tanpa mengganggu keseluruhan jalannya ujian.
Maulana juga menekankan bahwa ATEKA merupakan aplikasi yang cukup kompleks dan memiliki potensi penggunaan yang luas, tidak hanya untuk ujian sekolah serentak seperti SAT. Menurutnya, aplikasi ini juga sangat relevan digunakan dalam kegiatan asesmen harian yang dilakukan guru selama proses pembelajaran.
“Dari sisi fitur, aplikasi ini sudah sangat baik. Jenis soal yang tersedia lebih bervariasi dibandingkan sistem ujian konvensional, proses penilaian dapat dilakukan secara otomatis, dan keamanan sistem menjadi salah satu keunggulan utama yang dimiliki aplikasi ini,” tambahnya.
Pemanfaatan ATEKA juga sejalan dengan nilai-nilai Sekolah Berintegritas (SBI) yang diusung SMKN Jateng di Semarang, khususnya dalam menanamkan budaya kejujuran, disiplin, dan tanggung jawab kepada peserta didik. Dengan sistem yang lebih aman dan transparan, sekolah berharap integritas siswa selama proses ujian dapat semakin terjaga.
Bagi sekolah, penerapan asesmen digital bukan sekadar mengikuti perkembangan teknologi, tetapi juga bagian dari upaya membangun ekosistem pembelajaran yang lebih adaptif terhadap tantangan pendidikan masa depan. Di era digital saat ini, kemampuan memanfaatkan teknologi secara bijak menjadi kompetensi yang sama pentingnya dengan penguasaan materi akademik.
Secara keseluruhan, pelaksanaan SAT di SMKN Jateng di Semarang berjalan lancar dan memberikan banyak kemudahan bagi guru, panitia, maupun peserta didik. Meski masih terdapat sejumlah evaluasi teknis, implementasi ATEKA telah menunjukkan potensi besar sebagai solusi asesmen digital yang efektif, efisien, dan aman.
Ke depan, berbagai catatan evaluasi dari pelaksanaan SAT tahun ini akan menjadi bahan penyempurnaan sistem agar pelaksanaan ujian berikutnya dapat berlangsung semakin optimal. Dengan inovasi seperti ATEKA, SMKN Jateng di Semarang membuktikan bahwa transformasi digital di dunia pendidikan bukan lagi sekadar wacana, melainkan sebuah langkah nyata menuju masa depan pembelajaran yang lebih modern dan berintegritas.

Beri Komentar