Senin, 10-08-2026
  • Website Ardan Sirodjuddin menerima tulisan artikel Guru, Kepala Sekolah dan Praktisi Pendidikan dalam Kolom Tulisan SahabatWebsite Ardan Sirodjuddin menerima tulisan artikel Guru, Kepala Sekolah dan Praktisi Pendidikan dalam Kolom Tulisan SahabatWebsite Ardan Sirodjuddin menerima tulisan artikel Guru, Kepala Sekolah dan Praktisi Pendidikan dalam Kolom Tulisan SahabatWebsite Ardan Sirodjuddin menerima tulisan artikel Guru, Kepala Sekolah dan Praktisi Pendidikan dalam Kolom Tulisan SahabatWebsite Ardan Sirodjuddin menerima tulisan artikel Guru, Kepala Sekolah dan Praktisi Pendidikan dalam Kolom Tulisan Sahabat
  • Website Ardan Sirodjuddin menerima tulisan artikel Guru, Kepala Sekolah dan Praktisi Pendidikan dalam Kolom Tulisan SahabatWebsite Ardan Sirodjuddin menerima tulisan artikel Guru, Kepala Sekolah dan Praktisi Pendidikan dalam Kolom Tulisan SahabatWebsite Ardan Sirodjuddin menerima tulisan artikel Guru, Kepala Sekolah dan Praktisi Pendidikan dalam Kolom Tulisan SahabatWebsite Ardan Sirodjuddin menerima tulisan artikel Guru, Kepala Sekolah dan Praktisi Pendidikan dalam Kolom Tulisan SahabatWebsite Ardan Sirodjuddin menerima tulisan artikel Guru, Kepala Sekolah dan Praktisi Pendidikan dalam Kolom Tulisan Sahabat

Sholat Jumat di Masjid Baitul Ilmi SMKN Jateng Semarang, Khotib Ajak Jamaah Mewarnai Kehidupan dengan Iman

Diterbitkan : - Kategori : Berita

SEMARANG — Suasana khidmat menyelimuti Masjid Baitul Ilmi SMKN Jateng di Semarang saat guru, karyawan, dan siswa melaksanakan Sholat Jumat pada Jumat, 7 Agustus 2026. Kegiatan yang dimulai sekitar pukul 12.00 WIB hingga selesai tersebut diisi dengan khutbah Jumat yang disampaikan oleh Munjawir dengan mengangkat tema “Mewarnai Kehidupan dengan Iman”.

Pelaksanaan Sholat Jumat menjadi salah satu momentum bagi warga SMKN Jateng di Semarang untuk bersama-sama meningkatkan ketakwaan sekaligus memperkuat nilai-nilai keimanan dalam kehidupan sehari-hari. Tidak hanya menjadi kewajiban ibadah bagi umat Islam, kegiatan tersebut juga menjadi ruang untuk melakukan refleksi dan mengambil pesan moral yang relevan dengan kehidupan di lingkungan sekolah maupun masyarakat.

Dalam khutbahnya, Munjawir menegaskan bahwa iman tidak semestinya berhenti pada pengakuan yang diucapkan melalui lisan. Keimanan harus tercermin dalam sikap, perilaku, serta amal perbuatan seseorang dalam menjalani kehidupan.

“Iman bukanlah sekadar ucapan di lisan yang mudah diucapkan, tetapi hakikatnya adalah cahaya yang bersemayam dalam hati dan diwujudkan dalam amal perbuatan sehari-hari,” ujar Munjawir dalam khutbahnya di Masjid Baitul Ilmi, Jumat (7/8/2026).

Menurutnya, seseorang yang benar-benar beriman tidak cukup hanya mengatakan bahwa dirinya beriman. Keimanan harus dibuktikan melalui ketaatan kepada Allah SWT, menjauhi berbagai larangan-Nya, serta membangun akhlak yang baik terhadap sesama manusia.

Munjawir kemudian mengingatkan jamaah mengenai sabda Rasulullah SAW yang menjelaskan bahwa iman memiliki banyak cabang. Ia membacakan hadis riwayat Muslim yang menyebutkan bahwa iman memiliki lebih dari enam puluh cabang, dengan ucapan “La ilaha illallah” sebagai cabang yang paling tinggi, sementara menyingkirkan gangguan dari jalan menjadi salah satu bentuk iman yang paling rendah. Dalam hadis tersebut, rasa malu juga disebut sebagai salah satu cabang iman.

“Iman itu memiliki lebih dari enam puluh cabang. Yang tertinggi adalah mengucapkan ‘La ilaha illallah’, yang terendah adalah menyingkirkan gangguan dari jalan, dan rasa malu adalah salah satu cabang dari iman,” kata Munjawir menyampaikan makna hadis tersebut.

Ia menjelaskan, hadis tersebut memberikan gambaran bahwa iman mencakup berbagai aspek kehidupan manusia. Iman tidak hanya berkaitan dengan keyakinan yang berada di dalam hati atau ucapan yang keluar dari lisan, tetapi juga diwujudkan melalui tindakan nyata.

Menurut Munjawir, pengakuan keimanan harus berjalan seiring dengan perilaku yang mencerminkan nilai-nilai keimanan. Ucapan syahadat merupakan bagian penting dalam keimanan, tetapi pada saat yang sama seorang muslim juga dituntut membuktikan keimanannya melalui perbuatan yang memberikan manfaat bagi dirinya maupun orang lain.

“Hadis ini mengajarkan kepada kita bahwa iman mencakup seluruh aspek kehidupan: dari akidah dalam hati, ucapan di lisan, hingga amal nyata dalam perbuatan,” tuturnya.

Pesan tersebut menjadi pengingat bagi jamaah bahwa bentuk keimanan dapat diwujudkan melalui berbagai tindakan, termasuk hal-hal sederhana yang sering kali dianggap sepele. Menyingkirkan benda yang dapat mengganggu atau membahayakan orang lain, misalnya, merupakan tindakan sederhana tetapi memiliki nilai sebagai bagian dari iman.

Demikian pula dengan sikap malu. Munjawir menjelaskan bahwa rasa malu dalam konteks keimanan bukan sekadar perasaan dalam hubungan sosial, melainkan sikap batin yang dapat mendorong seseorang untuk menjaga dirinya dari perbuatan tercela. Rasa malu kepada Allah SWT dan kepada sesama manusia dapat menjadi pengendali agar seseorang tidak mudah melakukan dosa atau tindakan yang merugikan orang lain.

“Bahkan rasa malu — yang sering dianggap sepele — disebut oleh Nabi SAW sebagai salah satu cabang penting dari iman, karena rasa malu akan mendorong seseorang untuk meninggalkan dosa dan menjaga kehormatan dirinya,” jelasnya.

Dalam khutbah tersebut, jamaah juga diajak memahami bahwa kualitas iman seseorang dapat mengalami perubahan. Iman tidak bersifat statis, melainkan dapat bertambah ketika seseorang memperbanyak ketaatan dan dapat berkurang ketika seseorang melakukan kemaksiatan.

“Iman bersifat dinamis — dapat bertambah dengan ketaatan dan dapat berkurang karena kemaksiatan,” kata Munjawir.

Karena itu, ia mengingatkan jamaah agar tidak merasa cukup hanya dengan pengakuan iman secara lisan. Keimanan harus memiliki pengaruh nyata terhadap cara seseorang berpikir, berbicara, bersikap, dan mengambil keputusan dalam kehidupan sehari-hari.

“Jangan sampai iman kita hanya berhenti di lisan tanpa menembus ke hati dan tanpa tercermin dalam amal,” tegasnya.

Ia juga mengingatkan bahwa seseorang dapat dengan mudah mengucapkan kalimat-kalimat yang menunjukkan keimanan, tetapi pada saat yang sama masih melakukan perbuatan yang bertentangan dengan nilai-nilai iman. Kebiasaan berbohong, berkhianat, berbuat zalim, maupun melakukan kemaksiatan merupakan perilaku yang harus dihindari oleh setiap muslim.

“Betapa banyak orang yang fasih berkata ‘La ilaha illallah’, namun masih bermaksiat, berbohong, berkhianat, atau zalim kepada sesama. Itu tanda bahwa imannya belum kokoh dalam hati,” ujar Munjawir.

Pesan khutbah tersebut menempatkan iman sebagai fondasi penting dalam membentuk karakter seseorang. Bagi warga sekolah, nilai-nilai tersebut memiliki relevansi dalam kehidupan sehari-hari, baik dalam proses belajar, bekerja, berinteraksi dengan teman, menghormati guru dan karyawan, maupun dalam menjalankan tanggung jawab masing-masing.

Keimanan yang diwujudkan dalam perilaku dapat menjadi landasan untuk membangun lingkungan sekolah yang lebih baik. Kejujuran dalam mengerjakan tugas, disiplin menjalankan tanggung jawab, menghormati orang lain, menjaga kebersihan, menghindari perundungan, serta membantu sesama merupakan contoh nyata bagaimana nilai keimanan dapat diterapkan dalam kehidupan.

Melalui khutbah bertema “Mewarnai Kehidupan dengan Iman”, Munjawir mengajak jamaah untuk menjadikan iman bukan sekadar identitas, melainkan kekuatan yang membentuk karakter dan perilaku. Iman diharapkan hadir dalam setiap aktivitas sehingga nilai-nilai agama tidak hanya tampak dalam pelaksanaan ibadah, tetapi juga tercermin dalam hubungan antarmanusia.

Pelaksanaan Sholat Jumat di Masjid Baitul Ilmi SMKN Jateng Semarang pada Jumat, 7 Agustus 2026, dengan demikian tidak hanya menjadi kegiatan ibadah rutin bagi guru, karyawan, dan siswa. Pesan yang disampaikan dalam khutbah menjadi pengingat agar setiap individu terus melakukan introspeksi terhadap kualitas keimanannya dan berupaya menerjemahkan keyakinan tersebut ke dalam tindakan nyata.

Pada akhirnya, “mewarnai kehidupan dengan iman” berarti menghadirkan nilai-nilai keimanan dalam seluruh ruang kehidupan. Iman yang hidup di dalam hati diharapkan melahirkan ucapan yang baik, perilaku yang terpuji, kepedulian terhadap sesama, serta keberanian untuk meninggalkan perbuatan yang bertentangan dengan ajaran agama.

Dengan demikian, pesan utama khutbah Jumat tersebut tidak berhenti setelah jamaah meninggalkan Masjid Baitul Ilmi. Nilai keimanan diharapkan terus dibawa dan diwujudkan dalam kehidupan sehari-hari, sehingga setiap aktivitas yang dilakukan menjadi bagian dari upaya membangun pribadi yang taat, berakhlak mulia, dan memberikan manfaat bagi lingkungan di sekitarnya.

0 Komentar

Beri Komentar

Balasan