Senin, 10-08-2026
  • Website Ardan Sirodjuddin menerima tulisan artikel Guru, Kepala Sekolah dan Praktisi Pendidikan dalam Kolom Tulisan SahabatWebsite Ardan Sirodjuddin menerima tulisan artikel Guru, Kepala Sekolah dan Praktisi Pendidikan dalam Kolom Tulisan SahabatWebsite Ardan Sirodjuddin menerima tulisan artikel Guru, Kepala Sekolah dan Praktisi Pendidikan dalam Kolom Tulisan SahabatWebsite Ardan Sirodjuddin menerima tulisan artikel Guru, Kepala Sekolah dan Praktisi Pendidikan dalam Kolom Tulisan SahabatWebsite Ardan Sirodjuddin menerima tulisan artikel Guru, Kepala Sekolah dan Praktisi Pendidikan dalam Kolom Tulisan Sahabat
  • Website Ardan Sirodjuddin menerima tulisan artikel Guru, Kepala Sekolah dan Praktisi Pendidikan dalam Kolom Tulisan SahabatWebsite Ardan Sirodjuddin menerima tulisan artikel Guru, Kepala Sekolah dan Praktisi Pendidikan dalam Kolom Tulisan SahabatWebsite Ardan Sirodjuddin menerima tulisan artikel Guru, Kepala Sekolah dan Praktisi Pendidikan dalam Kolom Tulisan SahabatWebsite Ardan Sirodjuddin menerima tulisan artikel Guru, Kepala Sekolah dan Praktisi Pendidikan dalam Kolom Tulisan SahabatWebsite Ardan Sirodjuddin menerima tulisan artikel Guru, Kepala Sekolah dan Praktisi Pendidikan dalam Kolom Tulisan Sahabat

SMAN 4 Semarang Jajaki Kolaborasi SMA Mantap dengan SMKN Jateng, Siapkan Lulusan SMA Lebih Siap Hadapi Dunia Kerja

Diterbitkan : - Kategori : Berita

SEMARANG — SMAN 4 Semarang melakukan kunjungan ke SMKN Jateng di Semarang, Senin (10/8/2026), dalam rangka menjajaki kerja sama pelaksanaan Program SMA Mantap. Kunjungan yang berlangsung pukul 08.00 hingga 11.30 WIB tersebut menjadi momentum bagi kedua sekolah untuk membangun sinergi dalam memberikan bekal keterampilan kepada siswa SMA, tanpa mengesampingkan tujuan utama pendidikan akademik.

Rombongan SMAN 4 Semarang dipimpin Kepala Sekolah Dr. Sri Wahyuni, S.Pd., M.Pd., bersama wakil kepala sekolah dan bendahara sekolah. Kedatangan rombongan diterima langsung oleh Kepala SMKN Jateng di Semarang, Ardan Sirodjuddin, S.Pd., M.Pd., didampingi Plt. Kepala Tata Usaha, Wakil Kepala Sekolah Bidang Sarana dan Prasarana, Wakil Kepala Sekolah Bidang Kurikulum, serta Ketua Jurusan Teknik Instalasi Tenaga Listrik (TITL) dan Teknik Elektronika Industri (TEI).

Kunjungan tersebut tidak sekadar menjadi agenda silaturahmi antarlembaga pendidikan. Pertemuan diarahkan untuk membahas kemungkinan kolaborasi pemanfaatan sumber daya dan fasilitas vokasi SMKN Jateng di Semarang dalam mendukung Program SMA Mantap yang dikembangkan SMAN 4 Semarang.

Dalam sambutannya, Kepala SMAN 4 Semarang Dr. Sri Wahyuni, S.Pd, M.Pd menyampaikan apresiasi atas kesempatan yang diberikan kepada pihaknya untuk belajar secara langsung dari SMKN Jateng di Semarang.

“Terima kasih sudah diberi kesempatan untuk berkunjung. Kami mohon berkenan memberikan ilmu mengenai Program SMA Mantap kepada kami,” ujar Sri Wahyuni.

Menurut Sri Wahyuni, penjajakan kerja sama tersebut diharapkan tidak berhenti pada pertemuan kali ini. Ia berharap hubungan kedua sekolah dapat terus dikembangkan dalam berbagai bentuk kegiatan yang memberikan manfaat langsung bagi siswa.

“Ke depan kami berharap kerja sama ini terus berlanjut. Tidak hanya terkait Program SMA Mantap, tetapi juga kegiatan-kegiatan lain yang bisa kita kolaborasikan antara SMA 4 dan SMKN Jateng di Semarang,” katanya.

Sri Wahyuni menjelaskan, Program SMA Mantap memiliki arti penting, terutama dalam memberikan alternatif pembekalan bagi siswa yang setelah lulus SMA tidak melanjutkan pendidikan ke perguruan tinggi. Dengan bekal keterampilan yang tepat, lulusan diharapkan tidak hanya memiliki kemampuan akademik, tetapi juga kompetensi yang dapat digunakan untuk memasuki dunia kerja maupun mengembangkan usaha.

“SMA Mantap ini untuk anak-anak yang tidak kuliah, sehingga mereka tetap memiliki bekal dan kemampuan untuk menghadapi dunia setelah lulus,” tuturnya.

Salah satu perwakilan manajemen SMAN 4 Semarang, Ririn Muslikah, menambahkan bahwa sekolahnya sebenarnya telah melaksanakan kegiatan dengan konsep yang serupa dengan Program SMA Mantap selama empat tahun. Namun, dari hasil evaluasi, masih terdapat ruang yang perlu diperbaiki, terutama pada tahap setelah siswa mengikuti proses seleksi.

“SMAN 4 Semarang sudah melaksanakan kegiatan seperti Program SMA Mantap, dan ini sudah tahun keempat. Tetapi setelah kami evaluasi, program kami baru mengantar anak sampai tahap seleksi, belum sampai mereka benar-benar diterima bekerja,” ujar Ririn.

Karena itu, menurut Ririn, SMAN 4 Semarang ingin belajar lebih banyak dari SMKN Jateng di Semarang, terutama mengenai pengelolaan pembelajaran keterampilan, praktik kerja, pemanfaatan fasilitas vokasi, hingga hubungan dengan dunia industri.

“Kami ingin belajar banyak dari SMKN Jateng di Semarang, terutama bagaimana anak-anak tidak hanya mendapatkan pembekalan, tetapi juga mempunyai kompetensi yang benar-benar bisa digunakan setelah lulus,” katanya.

Menanggapi inisiatif tersebut, Kepala SMKN Jateng di Semarang Ardan Sirodjuddin menyambut baik rencana kolaborasi kedua sekolah. Menurutnya, kemitraan antara SMA dan SMK dapat menjadi salah satu strategi untuk memberikan perlindungan tambahan kepada siswa dalam menghadapi ketidakpastian setelah menyelesaikan pendidikan menengah.

Ardan menjelaskan bahwa lulusan SMA pada umumnya dipersiapkan untuk melanjutkan pendidikan ke perguruan tinggi. Namun, tidak semua lulusan memiliki kesempatan atau memilih untuk melanjutkan kuliah. Di sisi lain, sebagian siswa juga menghadapi risiko ketidaksesuaian antara pilihan pendidikan tinggi dengan kebutuhan dunia kerja serta risiko menganggur setelah lulus.

“Anak SMA tetap harus kita kuatkan secara akademik. Namun, kita juga perlu memberikan semacam life vest atau pelampung keselamatan agar ketika mereka tidak melanjutkan kuliah, mereka memiliki keterampilan yang bisa digunakan untuk bekerja, bekerja paruh waktu, bekerja secara remote, atau bahkan menjadi micro-entrepreneur,” jelas Ardan.

Menurut Ardan, solusi tersebut tidak berarti SMA harus berubah menjadi SMK. Justru, kolaborasi dirancang dengan pembagian peran yang jelas. SMAN 4 Semarang tetap memegang kendali terhadap pendidikan akademik, sementara SMKN Jateng berperan sebagai mitra penyelenggara dalam memberikan pembelajaran keterampilan.

“SMKN Jateng tidak mengubah status siswa SMA menjadi siswa SMK. Ijazah mereka tetap ijazah SMA. Yang kita lakukan adalah melengkapi ijazah tersebut dengan kompetensi teknis yang memiliki nilai di dunia kerja,” tegasnya.

Dalam konsep tersebut, SMAN 4 Semarang tetap bertanggung jawab terhadap kurikulum intrakurikuler, penguatan literasi dan numerasi, serta persiapan siswa menghadapi jalur pendidikan tinggi seperti UTBK dan SNBP. Sementara itu, SMKN Jateng menyediakan fasilitas Teaching Factory, instruktur yang memiliki kompetensi dan sertifikasi, pembelajaran keterampilan dasar, serta akses terhadap ekosistem dunia usaha, dunia industri, dan dunia kerja atau DUDIKA.

Ardan menyebut pola tersebut sebagai Resource Hub, yakni pemanfaatan sumber daya SMKN Jateng sebagai pusat pembelajaran keterampilan bagi siswa SMA. Dengan model ini, sekolah tidak harus membangun fasilitas vokasi sendiri dari awal.

“Kalau SMA harus membangun bengkel dan membeli mesin-mesin dari nol, investasinya sangat besar. Padahal fasilitas dan ekosistem itu sudah tersedia di SMKN Jateng di Semarang. Jadi yang kita bangun adalah sinerginya, bukan menggandakan aset,” ungkap Ardan.

Dalam pembahasan, SMKN Jateng juga menawarkan konsep Dual Learning System yang memisahkan secara jelas pembelajaran akademik dan pembelajaran keterampilan. Waktu belajar reguler siswa tetap menjadi wilayah akademik, sedangkan pelatihan keterampilan dapat dilaksanakan pada hari Jumat melalui model bootcamp yang intensif.

Model pembelajaran tersebut dirancang dengan komposisi sekitar 70 persen praktik berbasis proyek dan 30 persen teori. Dengan demikian, siswa tidak sekadar memahami konsep, tetapi memperoleh pengalaman mengerjakan pekerjaan yang menyerupai situasi nyata di dunia industri.

“Prinsipnya, hak akademik anak tetap kita jaga. Jangan sampai karena ingin memberikan keterampilan, kemudian pembelajaran akademiknya terganggu. Zona akademik tetap aman, sedangkan keterampilan diberikan pada ruang waktu yang memang dirancang untuk itu,” kata Ardan.

Selain pembagian waktu, siswa juga akan diarahkan berdasarkan minat. SMKN Jateng di Semarang mengusulkan metodologi 3M, yakni Minat, Pemilihan, dan Pendampingan. Pemetaan minat tersebut dapat menjadi dasar untuk mengelompokkan siswa ke dalam klaster keterampilan yang sesuai dengan potensi masing-masing.

Klaster pertama adalah Digital Creative Hub yang diarahkan untuk mencetak calon pekerja remote dan digitalpreneur, seperti content creator, webmaster, serta tenaga administrasi marketplace. Klaster kedua adalah Applied Technical Skills yang berorientasi pada keterampilan teknis, antara lain pengelasan, kelistrikan, elektronika industri, teknik konstruksi, dan teknik kendaraan.

Menurut Ardan, pendekatan tersebut penting agar siswa tidak dipaksa menguasai semua bidang. Pembelajaran justru diarahkan pada keterampilan yang sesuai dengan minat, potensi, dan peluang kerja.

“Anak harus kita tempatkan pada bidang yang sesuai dengan minat dan potensinya. Setelah itu baru kita berikan pendampingan secara intensif. Dengan cara itu, pembelajaran keterampilan menjadi lebih bermakna dan peluang untuk berkembang juga lebih besar,” ujarnya.

Aspek karakter kerja juga menjadi bagian penting dalam konsep kolaborasi. Siswa tidak hanya dilatih menggunakan peralatan atau menghasilkan produk, tetapi juga dibiasakan dengan budaya Keselamatan dan Kesehatan Kerja (K3) serta 5R, yaitu Ringkas, Rapi, Resik, Rawat, dan Rajin.

Selain itu, siswa akan dilatih menyelesaikan masalah, bekerja dalam tim, berkomunikasi, serta memenuhi tenggat waktu yang menyerupai standar pekerjaan di industri. Pembelajaran berbasis Teaching Factory dan Project-Based Learning (PjBL) diharapkan membuat siswa memahami bahwa sebuah pekerjaan memiliki standar kualitas, target, proses, dan tanggung jawab.

“Yang kita bangun bukan hanya tangan yang terampil, tetapi juga karakter kerja. Anak harus tahu bagaimana bekerja aman, bekerja dalam tim, menyelesaikan masalah, dan bertanggung jawab terhadap deadline,” tutur Ardan.

Dalam sistem pengakuan kompetensi, setiap pengalaman praktik dan sikap kerja siswa juga dirancang terdokumentasi melalui Sistem Kredit Keterampilan (SKK). Dokumentasi tersebut dapat dikembangkan menjadi e-portfolio yang berisi karya dan pengalaman siswa selama mengikuti program.

Data kompetensi tersebut selanjutnya dapat menjadi dasar penerbitan Surat Keterangan Pendamping Ijazah (SKPI) oleh SMA dengan validasi dari SMKN Jateng di Semarang. Jika memungkinkan sesuai skema dan ketentuan sertifikasi, kompetensi siswa juga dapat diarahkan menuju sertifikasi melalui Lembaga Sertifikasi Profesi (LSP) atau Badan Nasional Sertifikasi Profesi (BNSP).

“Jadi nanti ketika anak lulus, yang dibawa bukan hanya ijazah. Ada portofolio, ada rekam kompetensi, dan kalau memenuhi persyaratan bisa mendapatkan sertifikasi. Ini penting supaya anak tidak masuk dunia kerja sebagai tenaga yang tidak memiliki bukti keterampilan,” jelas Ardan.

Kerja sama tersebut juga berpotensi dikembangkan tidak hanya dalam bentuk pelatihan keterampilan. Beberapa program pendukung yang dibahas antara lain transfer SOP magang, penyelenggaraan Job Fair Mini, inkubasi pasar, pengembangan Bursa Kerja Khusus (BKK) di SMA, hingga Tracer Study untuk mengetahui perjalanan lulusan setelah menyelesaikan pendidikan.

Ardan berharap kolaborasi tersebut dapat menjadi model sinergi antara SMA dan SMK yang tetap menjaga identitas masing-masing sekolah. SMA tetap fokus pada penguatan akademik dan persiapan melanjutkan pendidikan tinggi, sedangkan SMKN Jateng memberikan penguatan kompetensi teknis dan pengalaman vokasi.

“Tidak perlu mempertentangkan jalur akademik dan vokasi. Keduanya bisa saling menguatkan. SMA tetap unggul dalam akademik, sementara SMKN Jateng memberikan bekal keterampilan teknis. Tujuannya satu, yaitu memastikan anak memiliki pilihan masa depan yang lebih luas,” ujarnya.

Setelah sesi pemaparan dan diskusi, rombongan SMAN 4 Semarang kemudian melihat secara langsung sejumlah bengkel praktik yang dimiliki SMKN Jateng di Semarang. Kunjungan lapangan tersebut memberikan kesempatan kepada rombongan untuk melihat fasilitas yang nantinya berpotensi digunakan sebagai tempat praktik siswa dalam skema Program SMA Mantap.

Rombongan juga mendapatkan gambaran mengenai lingkungan pembelajaran vokasi, fasilitas praktik, serta pola pembelajaran yang mengutamakan pengalaman langsung. Kegiatan tersebut menjadi bagian penting dari penjajakan kerja sama karena kedua pihak dapat melihat secara langsung kesiapan sarana dan ekosistem yang tersedia.

Pertemuan antara SMAN 4 Semarang dan SMKN Jateng di Semarang diharapkan menjadi langkah awal menuju kerja sama yang lebih konkret. Tahapan berikutnya dapat diarahkan pada pemetaan kebutuhan dan minat siswa, perumusan kegiatan teknis, penyusunan mekanisme pembelajaran, hingga penandatanganan nota kesepahaman atau MoU dan Perjanjian Kerja Sama (PKS).

Melalui kolaborasi tersebut, Program SMA Mantap diharapkan tidak berhenti sebagai program pembekalan, tetapi berkembang menjadi ekosistem yang memberikan pengalaman nyata kepada siswa. Dengan dukungan fasilitas vokasi, instruktur, pembelajaran berbasis proyek, penguatan karakter kerja, portofolio, serta jejaring industri, siswa SMA diharapkan memiliki lebih banyak pilihan ketika memasuki fase setelah kelulusan.

Bagi SMAN 4 Semarang, kunjungan tersebut menjadi kesempatan untuk memperkuat program yang telah berjalan selama empat tahun. Sementara bagi SMKN Jateng di Semarang, inisiatif tersebut membuka ruang lebih luas untuk berbagi praktik baik dan mengoptimalkan fasilitas serta kompetensi vokasi yang dimiliki.

Kedua sekolah sepakat bahwa masa depan siswa tidak selalu memiliki satu jalur. Sebagian akan melanjutkan ke perguruan tinggi, sebagian lainnya memasuki dunia kerja, dan sebagian mungkin membangun usaha sendiri. Karena itu, pembekalan akademik dan keterampilan dapat berjalan beriringan untuk memberikan pilihan yang lebih luas kepada lulusan.

Penjajakan kerja sama pada Senin pagi tersebut pun menjadi langkah awal untuk membangun jembatan antara pendidikan akademik dan keterampilan vokasi. Jembatan itu diharapkan mampu membuat lulusan SMA tidak hanya siap melanjutkan pendidikan, tetapi juga memiliki keterampilan yang dapat menjadi bekal ketika harus berdiri mandiri di tengah perubahan dunia kerja yang semakin dinamis.

0 Komentar

Beri Komentar

Balasan