SEMARANG — Budaya berbagi pengetahuan dan pengalaman terus dibangun di lingkungan SMKN Jateng di Semarang. Salah satunya melalui Program Berbagi Praktik Baik yang digagas Kepala SMKN Jateng di Semarang, Ardan Sirodjuddin, S.Pd., M.Pd. Program yang dilaksanakan secara rutin setiap Jumat tersebut menjadi ruang bagi seluruh tenaga kerja untuk saling berbagi pengalaman, memperluas wawasan, sekaligus memperkuat interaksi dan kolaborasi di lingkungan sekolah.
Program Berbagi Praktik Baik dilaksanakan setiap Jumat mulai pukul 13.00 hingga selesai. Kegiatan tersebut dilakukan secara bergiliran berdasarkan jadwal yang telah ditentukan sehingga seluruh tenaga kerja di SMKN Jateng di Semarang memperoleh kesempatan untuk tampil sebagai pembicara maupun pewara. Pola tersebut menjadi salah satu keunikan program karena setiap orang yang akan menjadi pembicara pada suatu kesempatan sebelumnya harus terlebih dahulu mendapatkan pengalaman sebagai pewara atau master of ceremony (MC).
Melalui mekanisme tersebut, Program Berbagi Praktik Baik tidak hanya menjadi forum untuk menyampaikan materi, tetapi juga menjadi sarana pengembangan kemampuan komunikasi dan kepercayaan diri. Setiap Guru dan Tenaga Kependidikan mendapatkan pengalaman untuk tampil di hadapan rekan sejawat, mengelola sebuah kegiatan, menyampaikan gagasan, sekaligus belajar mendengarkan dan merespons pengalaman orang lain.
Program ini dirancang sebagai wadah untuk menciptakan budaya belajar bersama di lingkungan sekolah. Pengetahuan tidak hanya diperoleh melalui kegiatan formal, tetapi juga dapat tumbuh dari pengalaman dan praktik yang dilakukan oleh sesama tenaga kerja. Dengan demikian, setiap individu memiliki kesempatan untuk menjadi sumber belajar bagi lingkungan kerjanya.
Kegiatan Berbagi Praktik Baik pada Jumat, 7 Agustus 2026, menghadirkan Arif Catur Sulistyo, S.E., sebagai pembicara. Sementara itu, Fatkur Rohman, S.Pd., bertugas sebagai pewara. Kegiatan tersebut mengangkat tema “Takola Dokatrasi”, yang merupakan akronim dari Tata Kelola Dokumen Administrasi.
Tema tersebut dipilih karena pengelolaan dokumen administrasi merupakan bagian penting dalam mendukung kelancaran pelaksanaan tugas di lingkungan sekolah. Administrasi yang tertata akan membantu setiap tenaga kerja dalam memastikan berbagai dokumen yang berkaitan dengan tugas dan tanggung jawabnya dapat dikelola secara sistematis, mudah ditemukan, serta dapat dipertanggungjawabkan.
Dalam pemaparannya, Arif Catur Sulistyo menjelaskan berbagai hal yang berkaitan dengan dokumen administrasi dan runtutan tata kelolanya. Materi tidak hanya membahas dokumen administrasi secara umum, tetapi lebih menekankan pada pelaksanaan dan pengelolaan dokumen yang berkaitan dengan administrasi pribadi serta tugas pokok dan fungsi atau tupoksi masing-masing tenaga kerja di lingkungan SMKN Jateng di Semarang.
Menurut Arif, pemahaman terhadap tata kelola dokumen perlu dimiliki oleh setiap tenaga kerja karena administrasi merupakan bagian yang tidak terpisahkan dari pelaksanaan pekerjaan. Setiap individu memiliki tanggung jawab dan dokumen yang berkaitan dengan tugasnya masing-masing sehingga pengelolaannya perlu dilakukan secara tertib.
“Takola Dokatrasi ini pada dasarnya mengingatkan kita bahwa dokumen administrasi harus dikelola dengan baik. Masing-masing memiliki dokumen pribadi dan dokumen yang berkaitan dengan tupoksi, sehingga perlu dipahami bagaimana pelaksanaan dan tata kelolanya,” ujar Arif Catur Sulistyo dalam kegiatan tersebut.
Penyampaian materi berlangsung dalam suasana yang santai dan tidak kaku. Arif membawakan materi dengan bahasa yang sederhana serta menyelipkan sejumlah candaan di tengah pemaparan. Cara tersebut membuat peserta lebih mudah mengikuti materi sekaligus menciptakan suasana diskusi yang cair dan interaktif.
Antusiasme peserta terlihat sepanjang kegiatan. Peserta yang hadir berasal dari berbagai unsur tenaga kerja SMKN Jateng di Semarang, baik tenaga pendidik maupun tenaga kependidikan. Mereka terdiri atas guru dan tenaga kependidikan yang mencakup karyawan administrasi, toolman, pramusaji, pamong, serta perawat.
Keberagaman latar belakang tugas peserta justru membuat tema Takola Dokatrasi menjadi relevan. Setiap bagian memiliki tugas dan tanggung jawab yang berbeda, tetapi seluruhnya tetap membutuhkan tata kelola administrasi yang tertib. Melalui kegiatan tersebut, peserta diajak untuk melihat administrasi bukan sekadar pekerjaan tambahan, melainkan bagian penting dari profesionalitas dalam menjalankan tugas.
Forum tersebut juga memberikan ruang bagi peserta untuk berinteraksi secara lebih dekat di luar rutinitas pekerjaan. Dalam keseharian, tenaga pendidik dan tenaga kependidikan memiliki tugas masing-masing. Melalui Program Berbagi Praktik Baik, sekat tersebut dapat mencair karena seluruh unsur tenaga kerja berkumpul dalam satu forum untuk belajar dan berbagi.
Bagi Arif, kesempatan menjadi pembicara dalam program tersebut juga menjadi bagian dari proses berbagi pengalaman dengan rekan sejawat. Pengetahuan yang dimiliki seseorang akan menjadi lebih bermanfaat ketika dapat disampaikan dan didiskusikan bersama. Dengan pola tersebut, praktik baik yang berkembang pada satu bagian dapat diketahui dan mungkin diterapkan oleh bagian lainnya sesuai kebutuhan.
“Harapannya program ini dapat terus berjalan dengan baik ke depannya. Saya juga berharap seluruh tenaga kerja, baik tenaga pendidik maupun tenaga kependidikan, mendapatkan kesempatan untuk tampil, berbagi wawasan, dan berbagi pengalaman kepada teman sejawat di lingkungan SMKN Jateng di Semarang,” kata Arif.
Menurutnya, kesempatan tampil tersebut penting karena setiap orang memiliki pengalaman dan pengetahuan yang berbeda. Guru memiliki pengalaman dalam proses pembelajaran, sementara tenaga kependidikan memiliki pengalaman dalam bidang administrasi, pelayanan, pendampingan, perawatan, maupun pekerjaan teknis lainnya. Seluruh pengalaman tersebut dapat menjadi sumber inspirasi apabila dibagikan dalam forum yang tepat.
Program Berbagi Praktik Baik yang digagas Ardan Sirodjuddin tersebut pada akhirnya tidak hanya berbicara tentang materi yang disampaikan setiap Jumat. Lebih dari itu, program tersebut menjadi bagian dari upaya membangun ekosistem kerja yang mendorong setiap tenaga kerja untuk terus belajar, berbagi, berkomunikasi, dan berkembang bersama.
Kehadiran program tersebut juga menunjukkan bahwa praktik baik dapat lahir dari lingkungan kerja sendiri. Pengalaman seorang guru, karyawan, pamong, perawat, toolman, maupun pramusaji dapat menjadi pengetahuan yang berguna bagi rekan lainnya. Ketika pengalaman tersebut dibagikan secara rutin, terbentuk proses pembelajaran bersama yang berlangsung secara alami di lingkungan sekolah.
Dengan pelaksanaan yang terjadwal dan melibatkan seluruh tenaga kerja secara bergiliran, Program Berbagi Praktik Baik diharapkan dapat terus menjadi agenda yang dinantikan. Bukan hanya sebagai forum penyampaian materi, tetapi juga sebagai ruang bertumbuh, bertukar gagasan, dan mempererat kebersamaan seluruh keluarga besar SMKN Jateng di Semarang.
Tema “Takola Dokatrasi” pada Jumat, 7 Agustus 2026, menjadi salah satu contoh bagaimana persoalan yang dekat dengan pekerjaan sehari-hari dapat diangkat menjadi bahan pembelajaran bersama. Melalui penyampaian yang sederhana, santai, dan interaktif, materi tata kelola dokumen administrasi dapat diterima dengan lebih mudah oleh peserta.
Pada akhirnya, semangat utama Program Berbagi Praktik Baik adalah membangun kesadaran bahwa setiap tenaga kerja memiliki sesuatu yang dapat dibagikan. Pengetahuan, pengalaman, keterampilan, maupun praktik kerja yang baik tidak berhenti pada diri sendiri, tetapi dapat menjadi bekal bersama untuk meningkatkan kualitas pelayanan dan profesionalitas di lingkungan SMKN Jateng di Semarang. Dari ruang sederhana setiap Jumat siang, budaya berbagi itu diharapkan tumbuh menjadi kebiasaan positif yang memberi dampak bagi seluruh warga sekolah.

Beri Komentar