Semarang — Kementerian Pelindungan Pekerja Migran Indonesia (KP2MI) bersama Badan Pelindungan Pekerja Migran Indonesia (BP2MI) menggandeng Dinas Pendidikan Provinsi Jawa Tengah untuk memperkuat kesiapan lulusan Sekolah Menengah Kejuruan (SMK) memasuki pasar kerja global. Komitmen tersebut mengemuka dalam kegiatan sosialisasi Pekerja Migran Indonesia (PMI) yang diikuti satuan pendidikan SMK se-Jawa Tengah melalui kanal Zoom, Rabu (1/7/2026) mulai pukul 09.00 WIB.
Kegiatan ini menjadi langkah strategis pemerintah dalam memperluas peluang kerja bagi lulusan vokasi sekaligus meningkatkan kualitas sumber daya manusia Indonesia agar mampu bersaing di pasar internasional. Sosialisasi tersebut juga menandai semakin kuatnya sinergi antara dunia pendidikan vokasi dan ekosistem ketenagakerjaan global melalui program yang lebih terstruktur, aman, dan berbasis kompetensi.
Kepala Bidang SMK Dinas Pendidikan Provinsi Jawa Tengah, Roberto Agung Nugroho, dalam sambutannya menegaskan bahwa pihaknya membuka ruang kerja sama yang lebih luas dengan BP2MI dan KP2MI guna mendorong keterserapan lulusan SMK, termasuk memperluas akses kerja ke luar negeri secara legal dan profesional.
“Kerja sama ini menjadi peluang besar bagi SMK di Jawa Tengah untuk meningkatkan keterserapan lulusan. Kami ingin lulusan SMK tidak hanya siap memasuki industri dalam negeri, tetapi juga mampu bersaing di tingkat global,” ujar Roberto.
Ia menambahkan, Dinas Pendidikan Jawa Tengah juga tengah menyiapkan pembahasan lanjutan terkait pengembangan program kelas migran sebagai salah satu inovasi pendidikan vokasi. Program ini diharapkan dapat memperkuat kompetensi lulusan, terutama dalam penguasaan bahasa asing, budaya kerja internasional, dan sertifikasi kompetensi global.
“Program kelas migran akan menjadi salah satu langkah konkret untuk menyiapkan lulusan yang lebih adaptif terhadap kebutuhan pasar kerja internasional. Ini juga menjadi bagian dari persiapan menuju program SMK Go Global,” tambahnya.
Sementara itu, Direktur KP2MI, Abri Danar, memaparkan berbagai program strategis nasional dalam menciptakan sumber daya manusia yang kompeten dan memiliki daya saing global. Menurutnya, arah kebijakan nasional saat ini berfokus pada penguatan kualitas SDM, peningkatan pendidikan dan pelatihan vokasi, hilirisasi SDM berbasis kompetensi, perluasan lapangan kerja, serta perlindungan pekerja Indonesia di luar negeri.
“Presiden memberikan arahan yang sangat jelas bahwa Indonesia harus menyiapkan talenta global. Bonus demografi yang kita miliki harus dimanfaatkan secara produktif untuk menghasilkan generasi muda yang siap kerja dan mampu bersaing di tingkat internasional,” kata Abri.
Menurut Abri, strategi utama pemerintah saat ini adalah menyiapkan generasi muda yang siap kerja global dengan menghubungkan pendidikan terhadap kebutuhan industri internasional. Selain itu, pekerja migran harus ditempatkan sebagai SDM profesional yang terlindungi, bukan lagi dipandang sekadar pekerja sektor informal dengan keterampilan rendah.
“Pekerja migran Indonesia harus bertransformasi menjadi tenaga profesional yang kompeten, tersertifikasi, dan memiliki perlindungan penuh. Kita ingin mengubah paradigma lama, dari low skilled worker menjadi professional migrant workers,” tegasnya.
Ia menjelaskan, relevansi program ini dengan SMK sangat besar. Sekolah kejuruan dinilai sebagai pilar utama pencetak talenta global karena memiliki basis pendidikan vokasi yang kuat. Dalam konteks ini, KP2MI mendorong penguatan program SMK 3+1, pengembangan kelas migran, serta penguatan migrant center di lingkungan pendidikan.
Abri juga mengungkapkan bahwa program nasional SMK Go Global direncanakan diluncurkan tahun ini dengan target ambisius menyiapkan 500 ribu pekerja migran Indonesia yang kompeten. Dari jumlah tersebut, 300 ribu berasal dari lulusan SMK dan 200 ribu dari lulusan umum.
Bidang pekerjaan yang menjadi prioritas meliputi caregiver, welder, hospitality, nurse, hingga truck driver, yang saat ini memiliki permintaan tinggi di berbagai negara tujuan.
“Tujuan utama program SMK Go Global adalah menyiapkan lulusan SMK yang berdaya saing internasional, meningkatkan kompetensi bahasa asing serta soft skills, sekaligus membuka jalur mobilitas kerja global yang aman dan prosedural,” jelasnya.
Lebih lanjut, Abri memaparkan sejumlah program unggulan KP2MI untuk mendukung penciptaan SDM siap global. Salah satunya adalah standarisasi lembaga vokasi pekerja migran Indonesia yang mencakup standardisasi kurikulum, sarana prasarana, instruktur, dan kompetensi lulusan.
Selain itu, KP2MI juga melakukan pemetaan kebutuhan tenaga kerja global guna melihat peluang strategis bagi Indonesia. Menurutnya, Indonesia memiliki potensi besar untuk menjadi pusat penyiapan talenta global melalui penguatan SMK dan ekosistem vokasi PMI.
Program lainnya adalah pengembangan sistem e-vokasi, yakni sistem informasi terpadu berbasis elektronik untuk mengelola seluruh siklus layanan vokasi dan pekerja migran secara terstruktur dan terstandar. KP2MI juga akan memperkuat pengembangan migrant center sebagai pusat talenta global dan kelas migran sebagai ruang pembinaan calon pekerja migran profesional.
“Kami akan terus menyiapkan peluang kerja luar negeri, termasuk memastikan link and match kurikulum hingga sertifikasi kompetensinya. Namun sekolah juga harus berhati-hati dalam memilih lembaga penyalur,” tegas Abri.
Ia mengingatkan seluruh sekolah agar memastikan lembaga penyalur tenaga kerja ke luar negeri memiliki legalitas resmi dan tidak membebani calon pekerja dengan biaya yang berlebihan.
“Pastikan lembaga penyalur resmi terdaftar dan tidak over budget. Jangan sampai siswa menjadi korban praktik penyaluran yang tidak bertanggung jawab,” pesannya.
Pada sesi berikutnya, perwakilan BP3MI, Dewi Ariyani, menjelaskan perubahan fundamental dalam tata kelola pelindungan pekerja migran Indonesia. Ia merujuk pada Undang-Undang Nomor 18 Tahun 2017 tentang Pelindungan Pekerja Migran Indonesia serta Peraturan Presiden Nomor 90 Tahun 2019 tentang BP2MI sebagai landasan transformasi sistem pelindungan PMI.
Menurut Dewi, regulasi baru telah mengubah paradigma lama yang sebelumnya menempatkan tenaga kerja Indonesia sebagai pekerja level rendah menjadi pekerja migran Indonesia yang kompeten, bermartabat, dan memiliki perlindungan menyeluruh.
“Pelindungan pekerja migran tidak hanya dilakukan saat mereka bekerja di luar negeri. Perlindungan dimulai sebelum penempatan, selama masa kerja, hingga setelah mereka kembali ke Indonesia,” jelas Dewi.
Ia menambahkan, pelindungan tersebut mencakup kesiapan administratif dan kompetensi sebelum bekerja, perlindungan hukum selama masa penempatan, serta jaminan pelindungan ekonomi setelah masa kerja berakhir.
Sosialisasi ini menegaskan bahwa masa depan pendidikan vokasi Indonesia semakin terhubung dengan kebutuhan tenaga kerja global. Dengan kolaborasi antara KP2MI, BP2MI, dan Dinas Pendidikan Jawa Tengah, lulusan SMK diharapkan tidak hanya menjadi pencari kerja, tetapi juga talenta profesional yang mampu mengisi kebutuhan industri dunia secara legal, aman, dan bermartabat. Program SMK Go Global pun diharapkan menjadi tonggak transformasi pendidikan vokasi Indonesia menuju pusat talenta global yang kompetitif.
Penulis : Putri Nur Utami, Guru Bahasa Jepang SMKN Jateng di Semarang

Beri Komentar