Minggu, 10-05-2026
  • Website Ardan Sirodjuddin menerima tulisan artikel Guru, Kepala Sekolah dan Praktisi Pendidikan dalam Kolom Tulisan SahabatWebsite Ardan Sirodjuddin menerima tulisan artikel Guru, Kepala Sekolah dan Praktisi Pendidikan dalam Kolom Tulisan SahabatWebsite Ardan Sirodjuddin menerima tulisan artikel Guru, Kepala Sekolah dan Praktisi Pendidikan dalam Kolom Tulisan SahabatWebsite Ardan Sirodjuddin menerima tulisan artikel Guru, Kepala Sekolah dan Praktisi Pendidikan dalam Kolom Tulisan SahabatWebsite Ardan Sirodjuddin menerima tulisan artikel Guru, Kepala Sekolah dan Praktisi Pendidikan dalam Kolom Tulisan Sahabat
  • Website Ardan Sirodjuddin menerima tulisan artikel Guru, Kepala Sekolah dan Praktisi Pendidikan dalam Kolom Tulisan SahabatWebsite Ardan Sirodjuddin menerima tulisan artikel Guru, Kepala Sekolah dan Praktisi Pendidikan dalam Kolom Tulisan SahabatWebsite Ardan Sirodjuddin menerima tulisan artikel Guru, Kepala Sekolah dan Praktisi Pendidikan dalam Kolom Tulisan SahabatWebsite Ardan Sirodjuddin menerima tulisan artikel Guru, Kepala Sekolah dan Praktisi Pendidikan dalam Kolom Tulisan SahabatWebsite Ardan Sirodjuddin menerima tulisan artikel Guru, Kepala Sekolah dan Praktisi Pendidikan dalam Kolom Tulisan Sahabat

Menanamkan Benih Kesejahteraan melalui Konsep PERMA di Sekolah

Diterbitkan : Minggu, 10 Mei 2026

Di tengah derap modernitas yang menuntut hasil instan dan angka-angka prestasi yang kaku, sekolah sering kali terjebak dalam labirin tekanan yang melelahkan bagi para penghuninya. Sekolah, yang seharusnya menjadi taman persemaian budi pekerti dan ilmu pengetahuan, terkadang berubah menjadi mesin birokrasi yang mengabaikan aspek paling fundamental dari kemanusiaan, yakni kesejahteraan psikologis.

Namun, sebuah paradigma baru dalam psikologi positif kini mulai merambah dinding-dinding kelas, menawarkan sebuah kompas yang disebut dengan model PERMA. Konsep ini, yang dipopulerkan oleh Martin Seligman, bukan sekadar teori di atas kertas, melainkan sebuah peta jalan operasional untuk menciptakan kondisi di mana guru, siswa, dan seluruh staf dapat mencapai kondisi flourishing atau mekar sepenuhnya. Di lingkungan sekolah, penerapan PERMA—yang mencakup positive emotion, engagement, relationships, meaning, dan accomplishment—menjadi kunci transformasi dari sekadar proses belajar-mengajar menjadi sebuah pengalaman hidup yang bermakna dan berkelanjutan.

Langkah awal dalam membangun ekosistem sekolah yang sejahtera dimulai dengan penumbuhan emosi positif atau positive emotion. Emosi ini bukanlah sekadar senyum palsu atau upaya berpura-pura bahwa segala sesuatu baik-baik saja demi menjaga suasana hati, melainkan sebuah proses evaluasi afektif yang jujur terhadap lingkungan kerja. Di dalam ruang guru, emosi positif tercermin ketika seorang pendidik merasa dihargai, memiliki otonomi, dan secara konsisten merasakan rasa syukur atas profesi yang dijalaninya.

Emosi seperti sukacita, ketenangan, dan harapan berfungsi sebagai pelindung atau buffer alami terhadap stres kerja dan risiko burnout yang kerap menghantui dunia pendidikan. Ketika seorang guru memasuki kelas dengan kondisi mental yang sejahtera secara emosional, energi tersebut akan menular kepada siswa, menciptakan ruang belajar yang aman secara psikologis di mana kreativitas dapat tumbuh tanpa rasa takut akan penghakiman.

Setelah fondasi emosi positif terbentuk, elemen berikutnya adalah keterlibatan atau engagement. Dalam konteks sekolah, keterlibatan ini manifestasinya jauh lebih dalam daripada sekadar kehadiran fisik di kelas. Ini adalah kondisi flow atau keasyikan di mana seorang guru merasa begitu terikat pada tugas pengajarannya sehingga waktu terasa berlalu begitu cepat.

Keterlibatan kerja atau work engagement ini ditandai dengan adanya energi yang meluap atau vigor, dedikasi yang tak tergoyahkan, serta penyerapan atau absorption yang mendalam terhadap interaksi edukatif. Seorang guru yang memiliki tingkat engagement yang tinggi tidak lagi melihat kurikulum sebagai beban administratif, melainkan sebagai tantangan intelektual yang menggairahkan. Hal ini secara langsung akan memicu keterlibatan akademik atau academic engagement pada siswa, di mana mereka tidak hanya belajar untuk nilai, tetapi karena rasa ingin tahu yang tulus dan antusiasme yang dipantik oleh energi sang pendidik.

Keberhasilan sebuah sekolah sebagai institusi sosial sangat bergantung pada kualitas hubungan atau relationships yang terjalin di dalamnya. Manusia pada dasarnya adalah makhluk sosial yang saling bergantung, dan di sekolah, hubungan positif antar sejawat, antara pemimpin dengan staf, serta antara guru dengan siswa adalah urat nadi kesejahteraan. Hubungan yang sehat ditandai dengan adanya empati, rasa saling percaya, dan dukungan sosial yang kuat atau perceived social support.

Ketika seorang guru merasa memiliki sistem pendukung di mana mereka dapat berbagi tantangan tanpa rasa cemas, harga diri mereka akan meningkat, yang pada akhirnya menekan angka turnover dan ketidakhadiran. Dalam perspektif social well-being, sekolah yang menerapkan konsep ini akan meminimalkan konflik interpersonal dan meningkatkan kolaborasi tim, karena setiap individu merasa menjadi bagian dari keluarga besar yang saling menguatkan demi tujuan bersama.

Elemen keempat, yakni makna atau meaning, memberikan alasan yang melampaui kepentingan pribadi mengapa seseorang berada di sekolah. Mengajar sering kali disebut sebagai sebuah panggilan atau vocation, dan dalam kerangka PERMA, makna ini sangat krusial karena berkaitan dengan tujuan transendental. Guru yang merasa pekerjaannya memiliki dampak signifikan bagi masa depan generasi bangsa akan memiliki ketahanan mental atau resilience yang lebih kuat saat menghadapi hambatan birokrasi atau keterbatasan fasilitas. Makna hidup ini memberikan arah dan motivasi intrinsik yang tidak bisa digantikan oleh kompensasi finansial semata. Ketika sekolah mampu mengomunikasikan visi dan misinya sedemikian rupa sehingga setiap staf merasa kontribusinya berharga bagi kemanusiaan, maka terciptalah lingkungan kerja yang penuh dengan kedamaian batin dan harmoni.

Pilar terakhir dari model ini adalah pencapaian atau accomplishment. Setiap individu memiliki kebutuhan dasar untuk merasa kompeten dan berhasil dalam bidangnya. Di lingkungan sekolah, pencapaian bukan hanya soal memenangkan kompetisi atau mendapatkan nilai ujian tertinggi, tetapi tentang rasa pemenuhan diri atau self-fulfillment atas target-target profesional dan pribadi yang tercapai. Pemberian pengakuan atas prestasi kecil maupun besar, serta ruang untuk pengembangan diri atau personal growth, sangat penting untuk membangun self-efficacy guru.

Dengan merasakan kemajuan dalam karier dan melihat perkembangan nyata pada anak didiknya, seorang guru akan merasakan kepuasan kerja yang mendalam. Pencapaian ini memberikan energi untuk terus berinovasi dan belajar setiap hari, yang merupakan esensi dari pembelajaran sepanjang hayat yang seharusnya dicontohkan di sekolah.

Secara keseluruhan, integrasi kelima elemen PERMA ini menciptakan sebuah kondisi kesejahteraan di tempat kerja atau workplace well-being yang komprehensif. Sekolah yang memprioritaskan kesejahteraan ini akan melihat dampak nyata pada kinerja organisasi, di mana produktivitas meningkat dan kualitas pelayanan pendidikan menjadi jauh lebih baik.

Guru yang bahagia bukan hanya mengajar lebih efektif, tetapi juga membangun hubungan yang lebih empati dengan siswa berkebutuhan khusus di sekolah inklusi atau memberikan pengasuhan yang penuh kesadaran melalui prinsip mindful parenting dalam interaksi harian mereka. Dengan demikian, well-being bukan lagi dianggap sebagai isu pribadi yang terpisah dari pekerjaan, melainkan strategi utama untuk mencapai kesuksesan kolektif.

Transformasi sekolah melalui konsep PERMA menuntut kepemimpinan yang empatik dan transparan. Pemimpin sekolah harus bertindak sebagai role model dalam menjaga kesejahteraan diri mereka sendiri sebelum menuntut hal yang sama dari stafnya. Lingkungan kerja yang inklusif, kolaboratif, dan memberdayakan akan memberikan ruang bagi setiap individu untuk mengaktualisasikan potensi penuh mereka atau mencapai self-actualization. Ketika seluruh warga sekolah merasa sejahtera secara fisik, emosional, sosial, finansial, dan spiritual, maka sekolah benar-benar telah menjalankan fungsinya bukan hanya sebagai tempat mentransfer ilmu, tetapi sebagai ekosistem kehidupan yang memanusiakan manusia.

Sebagai penutup, penting untuk disadari bahwa perjalanan menuju sekolah yang sejahtera adalah sebuah proses berkelanjutan yang memerlukan komitmen dari seluruh pihak. Kebahagiaan di tempat kerja bukanlah kondisi berpura-pura tanpa masalah, melainkan kemampuan untuk bangkit kembali dari kesulitan dengan optimisme dan harapan. Dengan menanamkan benih PERMA di setiap interaksi dan kebijakan, sekolah akan mekar menjadi institusi yang penuh dengan energi positif, di mana setiap individu di dalamnya merasa bermakna, terhubung, dan berprestasi.

Inilah visi pendidikan masa depan, di mana keberhasilan tidak lagi diukur hanya dari angka-angka di rapor, melainkan dari binar mata para pendidik dan siswa yang benar-benar bahagia dalam proses bertumbuh bersama. Sekolah yang merangkul kesejahteraan adalah sekolah yang sedang membangun fondasi bagi peradaban yang lebih sehat, harmonis, dan penuh kasih.

Penulis : Ardan Sirodjuddin, S.Pd, M.Pd, Kepala SMKN Jateng di Semarang

0 Komentar

Beri Komentar

Balasan