SURAKARTA, 8 Mei 2026 — Dua guru SMKN Jateng di Semarang mengikuti Seminar Pendidikan Nasional bertajuk Implementasi Kokurikuler-Penguatan Karakter Dalam Mewujudkan Pendidikan Bermutu untuk Semua yang digelar di Balai Besar Guru dan Tenaga Kependidikan (BBGTK) Jawa Tengah pada Jumat, 8 Mei 2026. Kegiatan tersebut menjadi forum strategis bagi para pendidik untuk memperdalam pemahaman terkait implementasi kokurikuler sebagai bagian penting dalam pembentukan karakter dan peningkatan mutu pendidikan nasional.
Seminar pendidikan nasional tersebut diikuti sekitar 250 peserta dari 35 kabupaten dan kota se-Jawa Tengah yang sebelumnya juga menjadi pengirim video pendidikan dalam rangka Gema Hardiknas 2026. Kegiatan menghadirkan berbagai narasumber dari unsur kementerian, kepala sekolah, hingga praktisi pendidikan yang berbagi kebijakan terbaru serta praktik baik implementasi kokurikuler di satuan pendidikan masing-masing.
Dalam seminar tersebut, Ketua Tim Kerja Kurikulum dan Pengembangan Kurikulum Pusat Kurikulum dan Pembelajaran, Yogi Anggraena, menjadi salah satu narasumber utama yang memaparkan arah kebijakan terbaru mengenai pengelolaan kokurikuler di satuan pendidikan serta penguatan pembelajaran mendalam.
Yogi menjelaskan bahwa kegiatan kokurikuler pada pendidikan dasar dan menengah kini diatur melalui sejumlah regulasi terbaru, yakni Permendikdasmen Nomor 10, 12, dan 13 Tahun 2025 serta Permendikdasmen Nomor 1 Tahun 2026. Kebijakan tersebut disusun sebagai upaya mewujudkan pendidikan bermutu yang mampu menjangkau seluruh peserta didik dengan tetap memperhatikan penguatan karakter.
“Kurikulum harus mampu beradaptasi dengan perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi, perubahan global, serta keberagaman sosial budaya di masyarakat. Karena itu, kokurikuler menjadi bagian penting dalam membentuk manusia Indonesia yang beriman, bertakwa, berkarakter Pancasila, dan memiliki kompetensi utuh,” ujar Yogi dalam pemaparannya.
Ia menjelaskan bahwa profil lulusan pendidikan saat ini mengacu pada delapan dimensi utama, yaitu keimanan dan ketakwaan kepada Tuhan Yang Maha Esa, kewargaan, penalaran kritis, kreativitas, kolaborasi, kemandirian, kesehatan, dan komunikasi. Menurutnya, kokurikuler dirancang untuk mendukung tercapainya dimensi tersebut melalui pengalaman belajar yang kontekstual dan bermakna.
Dalam paparannya, Yogi juga menjelaskan struktur kurikulum yang kini terdiri atas empat komponen utama, yakni intrakurikuler, kokurikuler, ekstrakurikuler, dan budaya satuan pendidikan. Keempat komponen tersebut saling melengkapi dalam membangun kompetensi pengetahuan, keterampilan, dan karakter peserta didik secara menyeluruh.
“Kokurikuler bukan tambahan beban bagi sekolah, tetapi ruang strategis untuk membentuk manusia utuh. Fleksibilitas pelaksanaan justru menjadi kekuatan sekolah untuk berinovasi sesuai konteks dan kebutuhan peserta didik,” katanya.
Yogi menambahkan bahwa pelaksanaan kokurikuler dapat dilakukan melalui pembelajaran kolaboratif lintas disiplin ilmu, Gerakan Tujuh Kebiasaan Anak Indonesia Hebat atau 7 KAIH, maupun pengembangan program berbasis konteks lokal sekolah masing-masing. Menurutnya, pendekatan kontekstual menjadi kunci agar peserta didik dapat memahami pembelajaran secara lebih dekat dengan kehidupan sehari-hari.
Selain pemaparan kebijakan, seminar juga diisi dengan sesi berbagi praktik baik implementasi kokurikuler dari berbagai sekolah di Jawa Tengah. Para peserta mendapatkan gambaran nyata mengenai inovasi pembelajaran dan penguatan karakter yang telah diterapkan di satuan pendidikan masing-masing.
Siti Mutaminah dari SMP Negeri 1 Todanan memaparkan praktik kokurikuler melalui pembuatan Batik Shibori yang mengintegrasikan kreativitas, budaya, dan keterampilan siswa. Sementara itu, Kepala SMA Negeri 1 Muntilan, Beni Sukandari, membagikan praktik pembelajaran kolaboratif lintas mata pelajaran melalui program MACCAN yang mendorong keterpaduan antardisiplin ilmu dalam pembelajaran.
Praktik baik lainnya disampaikan Priyanto dari SMP Negeri 1 Salatiga melalui program Gema Asri yang berfokus pada pengolahan sampah dan budidaya urban farming di lingkungan sekolah. Program tersebut dinilai berhasil menanamkan kepedulian lingkungan sekaligus membangun budaya hidup sehat dan mandiri di kalangan siswa.
Anita Nugraharni dari SD Negeri 1 Gedongan Karanganyar turut memperkenalkan program BESTARI, singkatan dari Bangun Embun, Setia Tradisi, Atur Rencana, Indonesia Hebat, sebagai implementasi Gerakan 7 KAIH melalui pembiasaan bangun pagi dan penguatan karakter siswa sejak usia dini.
Sementara itu, Tendi Darisman dari SD Negeri 1 Sidakaya Cilacap mempresentasikan implementasi pembelajaran kokurikuler ELITE yang berfokus pada kreasi digital dan komunikasi global. Program tersebut memberikan ruang bagi siswa untuk mengembangkan literasi digital sekaligus kemampuan komunikasi dalam menghadapi tantangan era globalisasi.
Seminar juga menghadirkan Didin dengan program Wonderland Pemalangku yang mengeksplorasi seni tari Sintren sebagai media penguatan budaya lokal dan karakter peserta didik. Berbagai praktik baik tersebut menunjukkan bahwa kokurikuler dapat dikembangkan secara kreatif sesuai potensi daerah dan karakteristik sekolah masing-masing.
Kehadiran dua guru SMKN Jateng di Semarang dalam seminar nasional ini menjadi bagian dari komitmen sekolah untuk terus mengikuti perkembangan kebijakan pendidikan serta memperkuat implementasi pembelajaran berbasis karakter di lingkungan sekolah vokasi.
Melalui kegiatan tersebut, para guru diharapkan mampu membawa wawasan baru mengenai pengelolaan kokurikuler dan mengadaptasikannya dalam kegiatan pembelajaran di SMKN Jateng di Semarang. Penguatan karakter melalui kokurikuler dinilai penting untuk mendukung terciptanya lulusan yang tidak hanya kompeten secara akademik dan keterampilan, tetapi juga memiliki integritas, kreativitas, kemampuan kolaborasi, dan kesiapan menghadapi tantangan masa depan.
Seminar pendidikan nasional ini sekaligus menjadi ruang kolaborasi antarsatuan pendidikan dalam berbagi inovasi dan praktik baik demi mewujudkan pendidikan bermutu untuk semua. Dengan sinergi antarpendidik dan dukungan kebijakan yang adaptif, pendidikan diharapkan mampu mencetak generasi yang unggul, berkarakter, dan siap menghadapi perubahan zaman.

Beri Komentar