Jumat, 08-05-2026
  • Website Ardan Sirodjuddin menerima tulisan artikel Guru, Kepala Sekolah dan Praktisi Pendidikan dalam Kolom Tulisan SahabatWebsite Ardan Sirodjuddin menerima tulisan artikel Guru, Kepala Sekolah dan Praktisi Pendidikan dalam Kolom Tulisan SahabatWebsite Ardan Sirodjuddin menerima tulisan artikel Guru, Kepala Sekolah dan Praktisi Pendidikan dalam Kolom Tulisan SahabatWebsite Ardan Sirodjuddin menerima tulisan artikel Guru, Kepala Sekolah dan Praktisi Pendidikan dalam Kolom Tulisan SahabatWebsite Ardan Sirodjuddin menerima tulisan artikel Guru, Kepala Sekolah dan Praktisi Pendidikan dalam Kolom Tulisan Sahabat
  • Website Ardan Sirodjuddin menerima tulisan artikel Guru, Kepala Sekolah dan Praktisi Pendidikan dalam Kolom Tulisan SahabatWebsite Ardan Sirodjuddin menerima tulisan artikel Guru, Kepala Sekolah dan Praktisi Pendidikan dalam Kolom Tulisan SahabatWebsite Ardan Sirodjuddin menerima tulisan artikel Guru, Kepala Sekolah dan Praktisi Pendidikan dalam Kolom Tulisan SahabatWebsite Ardan Sirodjuddin menerima tulisan artikel Guru, Kepala Sekolah dan Praktisi Pendidikan dalam Kolom Tulisan SahabatWebsite Ardan Sirodjuddin menerima tulisan artikel Guru, Kepala Sekolah dan Praktisi Pendidikan dalam Kolom Tulisan Sahabat

Jumat Religi SMKN Jateng Semarang, Siswa Diajak Menguatkan Iman Lewat Kisah Yesus Menenangkan Badai

Diterbitkan : - Kategori : Berita

SEMARANG, 8 Mei 2026 — Suasana hangat dan penuh refleksi terasa dalam kegiatan Jumat Religi yang digelar di SMKN Jateng di Semarang pada Jumat pagi, 8 Mei 2026. Kegiatan yang berlangsung mulai pukul 07.00 hingga 07.45 WIB itu diikuti enam siswa lintas agama, terdiri atas lima siswa Kristen dan satu siswa Buddha. Melalui pendekatan visual dan dialog terbuka, para peserta diajak memperkuat iman dan semangat menghadapi berbagai persoalan kehidupan.

Kegiatan tersebut menjadi bagian dari pembinaan karakter dan spiritual siswa yang rutin dilaksanakan sekolah sebagai sarana penguatan mental, moral, dan keagamaan peserta didik. Dalam pelaksanaannya, Jumat Religi kali ini diisi dengan pemutaran film bertema kisah Yesus menenangkan badai yang diambil dari Alkitab Lukas 8:22-25.

Film tersebut menampilkan perjalanan Yesus bersama para murid yang sedang menyeberangi danau menggunakan perahu. Di tengah perjalanan, badai besar datang disertai angin kencang yang membuat para murid ketakutan. Dalam kondisi panik, para murid membangunkan Yesus yang sedang tertidur di perahu. Setelah bangun, Yesus memerintahkan badai dengan berkata, “Diam, tenanglah,” dan seketika badai pun reda.

Pemutaran film dilakukan secara interaktif agar siswa tidak hanya membaca kisah Alkitab secara tekstual, tetapi juga dapat memahami makna cerita melalui visual yang menarik dan mudah dipahami. Pendekatan tersebut dinilai efektif untuk membantu siswa lebih menghayati pesan spiritual yang terkandung dalam kisah tersebut.

Guru Pendidikan Agama Kristen SMKN Jateng di Semarang, Indriyanto, mengatakan bahwa kegiatan Jumat Religi dirancang bukan sekadar pembelajaran agama biasa, melainkan menjadi ruang refleksi bagi siswa untuk menghubungkan firman Tuhan dengan pengalaman hidup sehari-hari.

“Kami tidak hanya mengajak siswa membaca Alkitab, tetapi juga membawa mereka melihat secara visual melalui film agar pesan yang disampaikan lebih mudah dipahami dan menyentuh kehidupan mereka,” ujar Indriyanto.

Menurutnya, kisah Yesus menenangkan badai memiliki makna mendalam tentang pentingnya iman dalam menghadapi persoalan hidup. Karena itu, setelah pemutaran film selesai, para siswa diajak berdiskusi dan berbagi pengalaman mengenai “badai” yang sedang mereka hadapi dalam kehidupan sehari-hari.

Indriyanto menjelaskan bahwa badai dalam kehidupan siswa dapat berupa masalah pribadi, persoalan keluarga, tekanan belajar, hingga kekhawatiran mengenai masa depan. Dalam sesi refleksi tersebut, siswa diberi kesempatan untuk berbicara secara terbuka mengenai pergumulan yang mereka alami.

“Saya mengajak siswa untuk berbagi pengalaman apakah saat ini mereka sedang mengalami badai dalam hidupnya, baik masalah di sekolah, keluarga, maupun persoalan orang tua. Mereka satu per satu menyampaikan kesaksian dan pengalaman pribadi yang sedang dihadapi,” katanya.

Suasana diskusi berlangsung penuh keakraban dan emosional. Beberapa siswa mengaku mengalami tekanan dalam belajar, kesulitan ekonomi keluarga, hingga persoalan relasi dengan orang tua. Namun melalui kegiatan tersebut, mereka merasa mendapatkan ruang untuk didengarkan dan dikuatkan.

Tidak hanya berhenti pada sesi berbagi pengalaman, para siswa juga diajak mengambil hikmah dari kisah Alkitab tersebut untuk diterapkan dalam kehidupan sehari-hari. Indriyanto menekankan bahwa setiap persoalan hidup dapat dihadapi dengan iman dan keyakinan kepada Tuhan.

“Yang berikutnya, siswa saya ajak mengambil pelajaran apa yang bisa dipraktikkan dalam kehidupan iman mereka. Perlunya iman siswa untuk percaya kepada Sang Juru Selamat dalam menghadapi badai, kesulitan, tantangan, masa depan, pelajaran, dan berbagai persoalan hidup lainnya,” ujarnya.

Ia menambahkan bahwa pembinaan spiritual sangat penting bagi siswa di tengah tantangan kehidupan modern yang semakin kompleks. Menurutnya, banyak siswa membutuhkan ruang untuk mendapatkan penguatan mental dan rohani agar tidak merasa sendirian menghadapi masalah.

Dengan waktu yang terbatas, kegiatan akhirnya ditutup dengan doa bersama. Dalam doa tersebut, Indriyanto secara khusus mendoakan setiap pergumulan dan persoalan yang sedang dihadapi siswa agar mereka diberikan kekuatan, pengharapan, dan jalan keluar terbaik.

“Religi menjadi wadah untuk menyentuh siswa dengan kehidupan sehari-hari dan firman Tuhan. Tujuannya untuk membangun jiwa, doa, relasi dengan Tuhan, diri sendiri, dan orang lain, sekaligus membangun semangat siswa dalam menghadapi pergumulan hidup mereka,” ungkapnya.

Para siswa mengaku kegiatan tersebut memberikan pengalaman yang berbeda dibanding pembelajaran agama di kelas pada umumnya. Melalui tayangan film dan sesi berbagi pengalaman, mereka merasa lebih dekat dengan pesan-pesan rohani yang disampaikan.

Salah seorang peserta mengatakan bahwa kisah Yesus menenangkan badai memberinya semangat untuk tetap percaya dan tidak mudah menyerah menghadapi kesulitan hidup.

“Tadi saya belajar kalau setiap orang pasti punya badai dalam hidupnya, tapi kita harus tetap percaya dan tidak takut menghadapi masalah,” ujarnya.

Kegiatan Jumat Religi di SMKN Jateng di Semarang menjadi bukti bahwa pembinaan karakter dan spiritual dapat dilakukan dengan pendekatan yang kreatif, komunikatif, dan menyentuh kehidupan nyata siswa. Sekolah tidak hanya fokus pada pembelajaran akademik dan keterampilan, tetapi juga memberikan perhatian terhadap kondisi mental dan rohani peserta didik.

Melalui kegiatan semacam ini, sekolah berharap siswa memiliki ketangguhan mental, nilai-nilai moral yang kuat, serta semangat untuk terus bertumbuh dalam iman dan karakter. Dengan demikian, para siswa tidak hanya siap menghadapi dunia pendidikan dan pekerjaan, tetapi juga mampu menjalani kehidupan dengan penuh harapan dan keyakinan.

0 Komentar

Beri Komentar

Balasan