Jumat, 17-07-2026
  • Website Ardan Sirodjuddin menerima tulisan artikel Guru, Kepala Sekolah dan Praktisi Pendidikan dalam Kolom Tulisan SahabatWebsite Ardan Sirodjuddin menerima tulisan artikel Guru, Kepala Sekolah dan Praktisi Pendidikan dalam Kolom Tulisan SahabatWebsite Ardan Sirodjuddin menerima tulisan artikel Guru, Kepala Sekolah dan Praktisi Pendidikan dalam Kolom Tulisan SahabatWebsite Ardan Sirodjuddin menerima tulisan artikel Guru, Kepala Sekolah dan Praktisi Pendidikan dalam Kolom Tulisan SahabatWebsite Ardan Sirodjuddin menerima tulisan artikel Guru, Kepala Sekolah dan Praktisi Pendidikan dalam Kolom Tulisan Sahabat
  • Website Ardan Sirodjuddin menerima tulisan artikel Guru, Kepala Sekolah dan Praktisi Pendidikan dalam Kolom Tulisan SahabatWebsite Ardan Sirodjuddin menerima tulisan artikel Guru, Kepala Sekolah dan Praktisi Pendidikan dalam Kolom Tulisan SahabatWebsite Ardan Sirodjuddin menerima tulisan artikel Guru, Kepala Sekolah dan Praktisi Pendidikan dalam Kolom Tulisan SahabatWebsite Ardan Sirodjuddin menerima tulisan artikel Guru, Kepala Sekolah dan Praktisi Pendidikan dalam Kolom Tulisan SahabatWebsite Ardan Sirodjuddin menerima tulisan artikel Guru, Kepala Sekolah dan Praktisi Pendidikan dalam Kolom Tulisan Sahabat

Dinkes Kota Semarang Perkuat Sinergi Lintas Sektor Cegah Stunting dan Anemia, Konsumsi Tablet Tambah Darah Remaja Putri Jadi Prioritas

Diterbitkan : - Kategori : Berita

SEMARANG-Upaya menurunkan angka stunting dan anemia pada anak usia sekolah serta remaja terus menjadi perhatian pemerintah. Salah satu langkah strategis yang dilakukan adalah memperkuat kebiasaan konsumsi Tablet Tambah Darah (TTD) bagi remaja putri secara rutin sebagai bagian dari investasi kesehatan generasi masa depan. Untuk mendukung upaya tersebut, Dinas Kesehatan Kota Semarang menyelenggarakan kegiatan Lokakarya/Lintas Program dan Lintas Sektor (LP/LS) dalam rangka mencegah risiko stunting melalui pemantauan konsumsi Tablet Tambah Darah bagi remaja putri, Jumat (17/7/2026), di Hotel Pandanaran Kota Semarang, Jalan Pandanaran Nomor 58, Kota Semarang.

Kegiatan yang dimulai pukul 08.30 WIB hingga selesai tersebut diikuti berbagai pemangku kepentingan, mulai dari jajaran pemerintah, tenaga kesehatan, organisasi profesi, hingga perwakilan sekolah. Lokakarya ini menjadi forum koordinasi untuk memperkuat sinergi antarinstansi dalam menyukseskan program kesehatan anak sekolah dan remaja, khususnya dalam pencegahan stunting dan anemia yang masih menjadi tantangan kesehatan masyarakat.

Melalui kegiatan ini, Dinas Kesehatan Kota Semarang menegaskan bahwa pencegahan stunting tidak hanya dimulai sejak masa kehamilan, tetapi juga harus dipersiapkan sejak usia remaja. Remaja putri sebagai calon ibu di masa depan perlu memiliki kondisi kesehatan yang baik agar dapat melahirkan generasi yang sehat dan bebas stunting. Oleh karena itu, pembiasaan konsumsi Tablet Tambah Darah menjadi salah satu intervensi penting yang harus dilakukan secara konsisten dan mendapat dukungan dari berbagai pihak.

Materi utama yang disampaikan dalam lokakarya mengangkat tema Kebijakan Program Kesehatan Anak Sekolah dan Remaja dalam Mencegah Risiko Stunting dan Anemia Remaja. Kebijakan tersebut menitikberatkan pada penguatan edukasi kesehatan, peningkatan kepatuhan konsumsi Tablet Tambah Darah, pemantauan secara berkala di lingkungan sekolah, serta kolaborasi lintas sektor agar program berjalan efektif dan berkelanjutan.

Narasumber pertama, Wakil Ketua Persatuan Ahli Gizi Indonesia (PERSAGI), Florentinus Nurtitus, S.Si.T., M.Gz., RD., menjelaskan bahwa anemia pada remaja putri masih menjadi persoalan serius yang dapat berdampak panjang terhadap kualitas kesehatan generasi berikutnya. Menurutnya, kekurangan zat besi tidak hanya menyebabkan tubuh mudah lelah dan menurunkan konsentrasi belajar, tetapi juga meningkatkan risiko komplikasi saat memasuki usia reproduksi.

“Remaja putri merupakan kelompok yang sangat rentan mengalami anemia karena mengalami menstruasi setiap bulan. Apabila kondisi ini tidak ditangani sejak dini, maka saat mereka memasuki usia kehamilan akan memiliki risiko lebih tinggi mengalami berbagai komplikasi yang berpotensi melahirkan bayi dengan berat badan lahir rendah maupun stunting. Karena itu, konsumsi Tablet Tambah Darah secara rutin harus menjadi kebiasaan, bukan sekadar program sesaat,” ujar Florentinus.

Ia menambahkan bahwa keberhasilan program tidak hanya bergantung pada distribusi Tablet Tambah Darah, tetapi juga pada tingkat kepatuhan remaja dalam mengonsumsinya. Oleh sebab itu, diperlukan edukasi yang berkesinambungan kepada siswa, guru, orang tua, serta dukungan seluruh pemangku kepentingan agar manfaat program dapat dirasakan secara optimal.

Sementara itu, narasumber kedua dari Dinas Kesehatan Provinsi Jawa Tengah, Dr. Ratih Rahayu Ningtias, M.K.M., menyampaikan bahwa pencegahan stunting harus dilakukan melalui pendekatan siklus hidup, dimulai sejak remaja hingga masa kehamilan dan kelahiran. Menurutnya, kesehatan remaja merupakan pondasi penting dalam menciptakan sumber daya manusia yang berkualitas.

“Pencegahan stunting tidak bisa dimulai ketika seorang perempuan sudah hamil. Upaya tersebut harus dilakukan jauh sebelumnya, yakni sejak usia remaja. Salah satu intervensi yang terbukti efektif adalah pemberian dan pemantauan konsumsi Tablet Tambah Darah secara rutin kepada remaja putri. Karena itu, kolaborasi antara sektor kesehatan, pendidikan, keluarga, dan masyarakat sangat diperlukan agar target penurunan stunting dapat tercapai,” kata Dr. Ratih.

Ia menegaskan bahwa sekolah memiliki peran strategis sebagai tempat pelaksanaan program kesehatan remaja karena menjadi lokasi berkumpulnya sebagian besar sasaran. Dengan adanya koordinasi lintas sektor, proses distribusi, edukasi, hingga pemantauan konsumsi Tablet Tambah Darah diharapkan dapat berjalan lebih optimal dan berkesinambungan.

Selain paparan dari para narasumber, peserta juga berdiskusi mengenai berbagai tantangan pelaksanaan program di lapangan. Salah satu isu yang menjadi perhatian adalah masih rendahnya kepatuhan sebagian remaja putri dalam mengonsumsi Tablet Tambah Darah karena kurangnya pemahaman mengenai manfaatnya maupun adanya anggapan keliru terkait efek samping tablet tersebut. Oleh karena itu, diperlukan pendekatan edukatif yang lebih komunikatif dan melibatkan lingkungan sekolah maupun keluarga.

Perwakilan SMKN Jawa Tengah di Semarang, Wahyudi Prabowo, memberikan apresiasi terhadap penyelenggaraan lokakarya tersebut. Menurutnya, kegiatan ini memberikan tambahan wawasan bagi sekolah mengenai pentingnya pencegahan anemia dan stunting sejak usia remaja serta memperkuat komitmen sekolah dalam mendukung program pemerintah.

“Kami mendapatkan banyak pengetahuan mengenai pentingnya konsumsi Tablet Tambah Darah dan bahaya anemia pada usia remaja. Kami menilai kegiatan ini merupakan langkah yang sangat positif dan strategis untuk menjaga kesehatan remaja, khususnya remaja putri. Ke depan, kami berharap penjaringan kesehatan di sekolah dapat dilakukan secara rutin sehingga kondisi kesehatan siswa dapat dipantau sejak dini,” ujar Wahyudi.

Ia menambahkan bahwa sekolah siap mendukung pelaksanaan program melalui sosialisasi kepada peserta didik, pendampingan saat pembagian Tablet Tambah Darah, serta membangun komunikasi dengan orang tua agar kepatuhan konsumsi tablet semakin meningkat.

Melalui penyelenggaraan Lokakarya/Lintas Program dan Lintas Sektor ini, Dinas Kesehatan Kota Semarang berharap terbangun komitmen bersama dalam mengawal keberhasilan program kesehatan anak sekolah dan remaja. Sinergi antara pemerintah daerah, tenaga kesehatan, organisasi profesi, dunia pendidikan, dan masyarakat diyakini menjadi kunci keberhasilan dalam menekan angka anemia sekaligus mencegah lahirnya generasi yang berisiko mengalami stunting.

Kegiatan ini sekaligus menjadi pengingat bahwa investasi kesehatan remaja merupakan investasi jangka panjang bagi pembangunan sumber daya manusia Indonesia. Dengan meningkatnya kesadaran remaja putri untuk rutin mengonsumsi Tablet Tambah Darah serta adanya pemantauan yang berkelanjutan di lingkungan sekolah, diharapkan kualitas kesehatan generasi muda semakin baik sehingga mampu mewujudkan generasi yang sehat, cerdas, produktif, dan bebas stunting di masa mendatang.

0 Komentar

Beri Komentar

Balasan