Senin, 13-07-2026
  • Website Ardan Sirodjuddin menerima tulisan artikel Guru, Kepala Sekolah dan Praktisi Pendidikan dalam Kolom Tulisan SahabatWebsite Ardan Sirodjuddin menerima tulisan artikel Guru, Kepala Sekolah dan Praktisi Pendidikan dalam Kolom Tulisan SahabatWebsite Ardan Sirodjuddin menerima tulisan artikel Guru, Kepala Sekolah dan Praktisi Pendidikan dalam Kolom Tulisan SahabatWebsite Ardan Sirodjuddin menerima tulisan artikel Guru, Kepala Sekolah dan Praktisi Pendidikan dalam Kolom Tulisan SahabatWebsite Ardan Sirodjuddin menerima tulisan artikel Guru, Kepala Sekolah dan Praktisi Pendidikan dalam Kolom Tulisan Sahabat
  • Website Ardan Sirodjuddin menerima tulisan artikel Guru, Kepala Sekolah dan Praktisi Pendidikan dalam Kolom Tulisan SahabatWebsite Ardan Sirodjuddin menerima tulisan artikel Guru, Kepala Sekolah dan Praktisi Pendidikan dalam Kolom Tulisan SahabatWebsite Ardan Sirodjuddin menerima tulisan artikel Guru, Kepala Sekolah dan Praktisi Pendidikan dalam Kolom Tulisan SahabatWebsite Ardan Sirodjuddin menerima tulisan artikel Guru, Kepala Sekolah dan Praktisi Pendidikan dalam Kolom Tulisan SahabatWebsite Ardan Sirodjuddin menerima tulisan artikel Guru, Kepala Sekolah dan Praktisi Pendidikan dalam Kolom Tulisan Sahabat

Tangis Haru Iringi Penyerahan Murid Baru ke SMKN Jateng di Semarang, Awal Perjalanan Tiga Tahun di Asrama

Diterbitkan : - Kategori : Berita

Semarang, 13 Juli 2026 – Suasana haru menyelimuti lapangan depan ruang Administrasi SMK Negeri Jawa Tengah di Semarang, Senin (13/7/2026). Isak tangis orang tua dan murid baru mewarnai prosesi Apel Penyerahan Murid Baru yang menjadi penanda dimulainya perjalanan pendidikan sekaligus kehidupan berasrama bagi para peserta didik angkatan baru.

Apel yang dimulai pukul 10.00 WIB tersebut dipimpin langsung oleh Kepala SMKN Jateng di Semarang, Ardan Sirodjuddin, S.Pd., M.Pd. Dalam prosesi itu, orang tua secara resmi menyerahkan putra-putri mereka kepada pihak sekolah untuk dididik, dibimbing, dan dibina selama menempuh pendidikan tiga tahun dengan sistem full boarding school.

Prosesi penyerahan murid baru bukan sekadar kegiatan seremonial, melainkan memiliki makna mendalam sebagai bentuk kepercayaan penuh orang tua kepada sekolah. Sejak hari itu, tanggung jawab pengasuhan sehari-hari, pembinaan karakter, pendidikan akademik, hingga pembentukan mental dan kedisiplinan para murid berada di bawah bimbingan guru, pamong, dan seluruh tenaga kependidikan SMKN Jateng di Semarang.

Momen tersebut menjadi salah satu tradisi penting yang selalu dilaksanakan setiap awal tahun ajaran. Di hadapan seluruh peserta apel, perwakilan orang tua, Supriyanto, wali murid Mukhamad Fajar asal Kabupaten Tegal, menyampaikan amanat penyerahan murid kepada pihak sekolah.

Dengan suara yang sesekali bergetar menahan haru, Supriyanto mengatakan bahwa seluruh orang tua hadir dengan satu tujuan, yakni mempercayakan pendidikan anak-anak mereka kepada keluarga besar SMKN Jateng di Semarang.

“Kami hadir di sini sebagai orang tua dan wali dari anak-anak kami, untuk menyerahkan mereka secara resmi kepada pihak sekolah, khususnya kepada seluruh pendidik dan tenaga kependidikan di SMK Negeri Jateng di Semarang, agar dapat dibimbing, dibina, dan dididik dengan sebaik-baiknya,” ujarnya.

Ia menyampaikan bahwa setiap anak memiliki latar belakang keluarga, karakter, dan kepribadian yang berbeda. Namun seluruhnya datang dengan semangat yang sama, yakni mengejar cita-cita dan mengubah masa depan melalui pendidikan.

“Anak-anak kami datang dari berbagai latar belakang, dengan karakter dan kepribadian yang berbeda-beda. Mereka datang dengan semangat dan harapan untuk meraih cita-cita. Namun, kami sadar bahwa sebagai orang tua, kami tidak dapat membimbing mereka sendirian. Di sinilah kami menyerahkan mereka kepada tangan-tangan para pendidik yang penuh dedikasi, di lingkungan sekolah dan asrama yang kami percaya mampu membentuk mereka menjadi insan yang cerdas, berkarakter, dan berdaya saing,” tuturnya.

Supriyanto berharap sekolah tidak hanya menjadi tempat memperoleh ilmu pengetahuan, tetapi juga menjadi tempat menempa karakter, kemandirian, kepemimpinan, kedisiplinan, dan tanggung jawab.

“Kami titipkan anak-anak kami dengan penuh harapan agar sekolah ini bukan hanya menjadi tempat menimba ilmu, tetapi juga menjadi tempat mereka belajar tentang nilai-nilai kehidupan, kedisiplinan, tanggung jawab, dan kepemimpinan. Semoga dengan kerja sama yang erat antara pihak sekolah dan orang tua, anak-anak kita akan tumbuh menjadi generasi penerus bangsa yang tangguh, jujur, dan berakhlak mulia,” katanya.

Mengakhiri sambutannya, ia menyampaikan apresiasi kepada seluruh jajaran sekolah yang telah menerima anak-anak mereka sebagai bagian dari keluarga besar SMKN Jateng di Semarang.

“Kami mengucapkan terima kasih dan penghargaan setinggi-tingginya kepada seluruh jajaran sekolah yang telah menerima anak-anak kami sebagai bagian dari keluarga besar SMK Negeri Jateng di Semarang,” ucapnya yang disambut tepuk tangan seluruh peserta apel.

Usai penyampaian amanat dari perwakilan orang tua, Kepala SMKN Jateng di Semarang, Ardan Sirodjuddin, S.Pd., M.Pd., secara resmi menerima penyerahan seluruh murid baru. Prosesi tersebut menjadi simbol dimulainya amanah besar yang diemban sekolah dalam mendidik para peserta didik selama tiga tahun ke depan.

Dalam sambutannya, Ardan menegaskan bahwa kepercayaan yang diberikan orang tua merupakan amanah yang akan dijaga dengan penuh tanggung jawab. Menurutnya, sekolah tidak hanya berkewajiban menghasilkan lulusan yang unggul secara akademik, tetapi juga membentuk pribadi yang berkarakter, mandiri, disiplin, dan siap menghadapi tantangan dunia kerja maupun kehidupan bermasyarakat.

“Kami menerima amanah yang diberikan oleh Bapak dan Ibu dengan penuh rasa tanggung jawab. Anak-anak yang hari ini diserahkan kepada kami akan kami didik, kami bimbing, dan kami dampingi agar tumbuh menjadi generasi yang berilmu, berkarakter, berintegritas, serta memiliki daya saing tinggi. Keberhasilan pendidikan hanya dapat dicapai melalui sinergi yang kuat antara sekolah, orang tua, dan seluruh pihak yang terlibat dalam proses pembinaan,” kata Ardan.

SMKN Jateng di Semarang merupakan sekolah gratis yang dibentuk Pemerintah Provinsi Jawa Tengah dan diperuntukkan bagi peserta didik dari keluarga kurang mampu, termasuk anak yatim dan piatu. Seluruh kebutuhan pendidikan dan kehidupan di asrama, mulai dari biaya sekolah, tempat tinggal, makan, seragam, hingga buku pelajaran, ditanggung sepenuhnya melalui Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah (APBD) Pemerintah Provinsi Jawa Tengah.

Dengan sistem pendidikan berbasis asrama, seluruh murid tinggal di lingkungan sekolah selama tiga tahun. Mereka menjalani pola pendidikan terpadu yang menggabungkan pembelajaran akademik, pembinaan karakter, penguatan mental, pembiasaan hidup mandiri, hingga kedisiplinan yang diterapkan secara konsisten dalam kehidupan sehari-hari.

Wakil Kepala Sekolah Bidang Kesiswaan SMKN Jateng di Semarang, Liliek Handoko, menjelaskan bahwa prosesi penyerahan murid memiliki makna strategis sebagai awal kolaborasi antara keluarga dan sekolah.

“Penyerahan murid baru oleh orang tua kepada pihak sekolah merupakan simbol kepercayaan dan kerja sama antara keluarga dengan sekolah dalam mendidik, membimbing, dan mengembangkan potensi anak. Melalui penyerahan ini, orang tua mempercayakan proses pendidikan kepada sekolah, sementara sekolah berkomitmen memberikan lingkungan belajar yang aman, nyaman, dan mendukung perkembangan karakter, pengetahuan, serta keterampilan peserta didik. Momen ini juga menandai dimulainya perjalanan pendidikan anak di lingkungan sekolah dan asrama dengan dukungan bersama antara orang tua, guru, pamong, dan seluruh warga sekolah,” jelas Liliek.

Dalam rangkaian kegiatan tersebut, para murid juga mengikuti tradisi sungkeman kepada orang tua sebagai bentuk penghormatan sekaligus memohon doa restu sebelum memulai kehidupan mandiri di asrama. Suasana berubah semakin emosional ketika para orang tua memeluk putra-putri mereka untuk terakhir kalinya sebelum memasuki masa orientasi dan pembinaan awal.

Banyak orang tua yang tampak tidak kuasa menahan air mata. Sebaliknya, para murid berusaha menguatkan diri meski harus berpisah dengan keluarga untuk pertama kalinya dalam waktu yang relatif panjang. Pelukan erat, doa, dan pesan-pesan singkat menjadi pengantar sebelum mereka memasuki gerbang kehidupan baru sebagai murid SMKN Jateng di Semarang.

Setelah prosesi penyerahan selesai, para murid akan memasuki masa basis atau orientasi kedisiplinan. Pada periode tersebut mereka tidak diperkenankan pulang maupun dijenguk dalam kurun waktu tertentu agar mampu beradaptasi dengan lingkungan asrama, membangun kemandirian, serta mengikuti seluruh pembinaan yang telah disiapkan sekolah.

Tangis yang mengiringi prosesi penyerahan murid baru hari itu bukan sekadar ungkapan kesedihan karena perpisahan sementara antara anak dan orang tua. Lebih dari itu, air mata tersebut menjadi simbol harapan besar akan masa depan yang lebih baik. Di balik pelukan terakhir sebelum memasuki asrama, tersimpan doa agar anak-anak dari berbagai penjuru Jawa Tengah mampu mengubah nasib keluarga melalui pendidikan yang berkualitas, sehingga kelak tumbuh menjadi generasi yang berkarakter, kompeten, dan mampu memberikan kontribusi bagi bangsa dan negara.

0 Komentar

Beri Komentar

Balasan