KARANGANYAR – Upaya memperkuat literasi digital dan kesiapan sumber daya manusia menghadapi era kecerdasan artifisial terus dilakukan Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah. Salah satunya melalui Pelatihan Gerakan AI-Ready ASEAN (AIRA) dan Implementasi Koding dan Kecerdasan Artifisial (KKA) yang resmi dibuka pada Senin (13/7/2026) di Balai Besar Guru Penggerak (BBGP/BBGTK) Provinsi Jawa Tengah, Kabupaten Karanganyar. Sebanyak 125 guru Sekolah Menengah Kejuruan (SMK) dari berbagai daerah mengikuti pelatihan secara luring sebagai bagian dari program peningkatan kapasitas pendidik dalam penguasaan teknologi digital, koding, dan kecerdasan artifisial.
Pelatihan tersebut merupakan hasil kolaborasi Balai Pengembangan Penjaminan Mutu Pendidikan Vokasi Bidang Kelautan, Perikanan, Teknologi Informasi, dan Komunikasi (BPPMPV KPTK) Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah bersama Google.org dan ASEAN Foundation, dengan Bebras Indonesia sebagai mitra pelaksana di Indonesia. Kegiatan dilaksanakan secara serentak di dua wilayah pelaksanaan, yakni Provinsi Jawa Tengah dan Sulawesi Tenggara, sebagai bagian dari Gerakan AI-Ready ASEAN yang bertujuan memperluas penguasaan keterampilan digital di kawasan Asia Tenggara.
Acara pembukaan berlangsung penuh semangat dan dihadiri oleh Kepala Cabang Dinas Pendidikan Wilayah VII Provinsi Jawa Tengah, Agung Wijayanto, S.Pd., M.Pd., bersama Kepala Penyelenggara dari KPTK BPPMPV, Yopi Sopian, ST., M.Pd. Kehadiran keduanya menjadi penanda dimulainya rangkaian pelatihan yang akan berlangsung hingga 17 Juli 2026.
Dalam sambutannya, Agung Wijayanto mengajak seluruh peserta mengikuti setiap sesi pelatihan dengan penuh antusias tanpa merasa terbebani. Menurutnya, suasana belajar yang nyaman justru akan membuat proses memahami materi menjadi lebih efektif.
“Silakan dinikmati kegiatannya dan jangan sepaneng (tegang). Kesempatan seperti ini sangat berharga untuk menambah wawasan sekaligus memperkuat kompetensi sebagai guru di era digital,” ujar Agung Wijayanto disambut tepuk tangan para peserta.
Ia menegaskan bahwa perkembangan teknologi, khususnya kecerdasan artifisial, telah mengubah berbagai aspek kehidupan, termasuk dunia pendidikan. Karena itu, guru dituntut tidak hanya memahami teknologi, tetapi juga mampu mengintegrasikannya dalam proses pembelajaran sehingga peserta didik memiliki bekal menghadapi tantangan dunia kerja dan industri masa depan.
Sementara itu, Kepala Penyelenggara dari KPTK BPPMPV, Yopi Sopian, ST., M.Pd., menjelaskan bahwa pelatihan ini merupakan bagian dari implementasi kebijakan pemerintah dalam memperkuat kompetensi guru pada bidang koding dan kecerdasan artifisial. Menurutnya, keberhasilan program ini tidak diukur hanya dari selesainya proses pelatihan, melainkan dari dampak nyata yang mampu dihasilkan setelah peserta kembali ke sekolah masing-masing.
“Pelatihan ini dirancang agar manfaatnya tidak berhenti pada peserta saja. Kami berharap seluruh guru yang mengikuti kegiatan mampu menjadi agen perubahan di sekolah masing-masing dan mengimbaskan ilmu yang diperoleh kepada siswa secara berkelanjutan,” kata Yopi Sopian.
Sebanyak 125 peserta yang mengikuti pelatihan berasal dari guru mata pelajaran Informatika serta mata pelajaran pilihan Koding dan Kecerdasan Artifisial (KKA) dari berbagai SMK. Selama lima hari pelaksanaan, peserta memperoleh pembelajaran intensif mengenai konsep dasar kecerdasan artifisial, computational thinking, implementasi koding dalam pembelajaran, hingga strategi mengenalkan teknologi AI kepada siswa secara aman, kreatif, dan bertanggung jawab.
Salah satu peserta yang mengikuti pelatihan di Kelas C adalah Maulana Muhammad Fathul Alim, guru Informatika dan mata pelajaran KKA dari SMKN Jawa Tengah di Semarang. Ia mengaku bersyukur mendapatkan kesempatan mengikuti pelatihan nasional tersebut karena dinilai sangat relevan dengan kebutuhan pendidikan vokasi saat ini.
“Perkembangan AI berlangsung sangat cepat sehingga guru harus terus belajar agar tidak tertinggal. Pelatihan ini menjadi kesempatan yang sangat baik untuk memperdalam pemahaman sekaligus mendapatkan pengalaman belajar langsung dari para fasilitator. Nantinya ilmu yang kami peroleh akan kami implementasikan kepada siswa sehingga manfaatnya bisa dirasakan lebih luas,” ujar Maulana.
Selama masa kedinasan mulai 13 hingga 17 Juli 2026, seluruh peserta difasilitasi secara penuh oleh penyelenggara. Mereka menginap di lingkungan BBGTK Provinsi Jawa Tengah dengan fasilitas akomodasi, konsumsi tiga kali sehari, serta coffee break yang seluruh pembiayaannya ditanggung melalui DIPA BPPMPV KPTK. Dukungan tersebut diharapkan membuat peserta dapat mengikuti seluruh rangkaian pelatihan secara optimal tanpa terkendala aspek teknis.
Materi pelatihan disusun secara bertahap melalui sejumlah modul yang harus diselesaikan peserta sebagai syarat memperoleh sertifikat kelulusan. Namun, capaian program tidak berhenti pada sertifikat semata. Gerakan AI-Ready ASEAN telah menyiapkan skema pengimbasan yang dirancang mampu memberikan efek berantai dalam meningkatkan literasi digital masyarakat.
Setelah dinyatakan lulus, setiap guru peserta diwajibkan mengimplementasikan hasil pelatihan kepada sedikitnya 100 siswa di sekolah masing-masing hingga para siswa berhasil menyelesaikan modul pembelajaran dan memperoleh sertifikat dari Google. Dengan demikian, kompetensi yang diperoleh selama pelatihan dapat segera diterapkan dalam proses pembelajaran nyata di satuan pendidikan.
Program ini bahkan memiliki target yang lebih luas. Setiap siswa yang telah memperoleh sertifikat nantinya diminta kembali mengimbaskan pengetahuan tersebut kepada sedikitnya lima orang di lingkungan masyarakat melalui simulasi Hour of Code AI. Pendekatan tersebut diharapkan mampu memperkenalkan konsep dasar koding dan kecerdasan artifisial kepada masyarakat secara sederhana, menyenangkan, dan mudah dipahami.
Skema berantai tersebut menjadi salah satu kekuatan utama Gerakan AI-Ready ASEAN. Tidak hanya membangun kapasitas guru sebagai ujung tombak pendidikan, tetapi juga memperluas akses masyarakat terhadap pemahaman teknologi digital melalui peran aktif siswa. Dengan pola tersebut, dampak pelatihan diharapkan terus berkembang dari ruang kelas menuju lingkungan keluarga dan masyarakat secara lebih luas.
Pelaksanaan pelatihan ini sekaligus menjadi bentuk dukungan terhadap arah kebijakan pemerintah dalam memperkuat kompetensi digital generasi muda Indonesia. Di tengah pesatnya perkembangan teknologi kecerdasan artifisial yang mulai diterapkan di berbagai sektor industri, dunia pendidikan dituntut mampu menyiapkan lulusan yang tidak hanya menjadi pengguna teknologi, tetapi juga memiliki kemampuan berpikir komputasional, memecahkan masalah, serta memahami etika penggunaan AI.
Melalui kolaborasi pemerintah, dunia industri, organisasi internasional, dan lembaga pendidikan, Gerakan AI-Ready ASEAN diharapkan mampu melahirkan ekosistem pembelajaran digital yang lebih inklusif, adaptif, dan berkelanjutan. Para guru yang mengikuti pelatihan menjadi garda terdepan dalam menyebarluaskan kompetensi tersebut kepada ribuan siswa SMK, yang selanjutnya akan menjadi agen perubahan di tengah masyarakat.
Dengan dimulainya pelatihan ini, harapan besar pun disematkan agar penguasaan dasar koding dan kecerdasan artifisial tidak lagi menjadi kemampuan yang terbatas pada kalangan tertentu, melainkan menjadi keterampilan dasar yang dimiliki generasi muda Indonesia untuk menghadapi tantangan revolusi industri berbasis AI sekaligus meningkatkan daya saing bangsa di tingkat regional maupun global.

Beri Komentar