Jumat, 17-07-2026
  • Website Ardan Sirodjuddin menerima tulisan artikel Guru, Kepala Sekolah dan Praktisi Pendidikan dalam Kolom Tulisan SahabatWebsite Ardan Sirodjuddin menerima tulisan artikel Guru, Kepala Sekolah dan Praktisi Pendidikan dalam Kolom Tulisan SahabatWebsite Ardan Sirodjuddin menerima tulisan artikel Guru, Kepala Sekolah dan Praktisi Pendidikan dalam Kolom Tulisan SahabatWebsite Ardan Sirodjuddin menerima tulisan artikel Guru, Kepala Sekolah dan Praktisi Pendidikan dalam Kolom Tulisan SahabatWebsite Ardan Sirodjuddin menerima tulisan artikel Guru, Kepala Sekolah dan Praktisi Pendidikan dalam Kolom Tulisan Sahabat
  • Website Ardan Sirodjuddin menerima tulisan artikel Guru, Kepala Sekolah dan Praktisi Pendidikan dalam Kolom Tulisan SahabatWebsite Ardan Sirodjuddin menerima tulisan artikel Guru, Kepala Sekolah dan Praktisi Pendidikan dalam Kolom Tulisan SahabatWebsite Ardan Sirodjuddin menerima tulisan artikel Guru, Kepala Sekolah dan Praktisi Pendidikan dalam Kolom Tulisan SahabatWebsite Ardan Sirodjuddin menerima tulisan artikel Guru, Kepala Sekolah dan Praktisi Pendidikan dalam Kolom Tulisan SahabatWebsite Ardan Sirodjuddin menerima tulisan artikel Guru, Kepala Sekolah dan Praktisi Pendidikan dalam Kolom Tulisan Sahabat

Khotbah Jumat di Masjid Baitul Ilmi Ingatkan Pentingnya Rasa Malu Bermedia Sosial di Era Digital

Diterbitkan : - Kategori : Berita

SEMARANG – Kemajuan teknologi informasi dan pesatnya perkembangan media sosial menjadi tantangan tersendiri bagi umat Islam dalam menjaga akhlak. Di tengah kemudahan berkomunikasi melalui internet, setiap individu dituntut semakin bijaksana dalam menggunakan media digital agar tidak terjerumus pada perilaku yang bertentangan dengan ajaran agama.

Pesan tersebut menjadi inti Khotbah Jumat yang disampaikan Zainal, S.Pd., di Masjid Baitul Ilmi, Jumat (17/7/2026). Sholat Jumat yang diikuti guru, karyawan, dan siswa SMKN Jawa Tengah di Semarang itu berlangsung dengan khidmat. Dalam khutbahnya, khatib mengajak seluruh jamaah untuk meningkatkan ketakwaan kepada Allah SWT dengan menjalankan segala perintah-Nya dan menjauhi larangan-Nya, termasuk ketika beraktivitas di ruang digital yang kini menjadi bagian tidak terpisahkan dari kehidupan sehari-hari.

Menurut Zainal, ketakwaan sejati bukan hanya ditunjukkan ketika seseorang berada di hadapan orang lain, tetapi juga saat berada sendirian maupun ketika menggunakan telepon genggam dan media sosial. Sebab, setiap aktivitas manusia tetap berada dalam pengawasan Allah SWT meskipun dilakukan di balik layar.

“Marilah kita senantiasa meningkatkan ketakwaan kepada Allah SWT. Takwa yang sejati adalah menjalankan segala perintah-Nya dan menjauhi segala larangan-Nya, baik ketika kita sendirian, berada di tengah keramaian, maupun ketika berada di balik layar kaca dan gawai kita,” ujar Zainal mengawali khutbahnya.

Ia menjelaskan, internet dan media sosial pada dasarnya merupakan nikmat sekaligus anugerah yang dapat dimanfaatkan untuk mempererat silaturahmi, memperluas wawasan, hingga menjadi media dakwah yang efektif. Namun, di balik berbagai manfaat tersebut, terdapat ujian besar yang dihadapi umat Islam, yakni semakin memudarnya rasa haya’ atau malu dalam kehidupan bermasyarakat, khususnya di dunia digital.

Mengutip sabda Rasulullah SAW yang diriwayatkan Ibnu Majah, Zainal menyampaikan bahwa setiap agama memiliki karakteristik, dan karakteristik Islam adalah rasa malu. Menurutnya, rasa malu dalam Islam bukan berarti rendah diri atau minder, melainkan kesadaran bahwa setiap perbuatan, perkataan, maupun tulisan senantiasa diketahui Allah SWT dan dicatat oleh para malaikat.

“Haya’ dalam Islam adalah kesadaran penuh di dalam hati bahwa Allah SWT selalu melihat kita, malaikat selalu mencatat, dan tidak ada satu pun yang tersembunyi dari ilmu-Nya. Karena itu, jangan sampai kita merasa aman hanya karena berada di balik layar telepon genggam,” katanya.

Dalam khutbahnya, Zainal menggambarkan bagaimana perkembangan media sosial telah mengubah pola interaksi masyarakat. Jika dahulu seseorang merasa malu ketika memfitnah, menggunjing, atau memamerkan diri secara langsung karena berhadapan dengan orang lain, kini layar telepon pintar seolah menciptakan ruang anonim yang membuat sebagian orang kehilangan kendali dalam bertutur kata.

Ia mengingatkan bahwa jari-jari manusia saat mengetik di media sosial dapat menjadi lebih tajam daripada lisan apabila tidak dikendalikan oleh keimanan. Tidak sedikit pengguna media sosial yang dengan mudah menyebarkan fitnah, ujaran kebencian, gosip, maupun informasi yang belum tentu benar hanya karena merasa identitasnya tersembunyi.

“Kita sering merasa tidak terlihat ketika menggunakan media sosial. Padahal di balik layar yang gelap, ada cahaya pengawasan Allah SWT yang tidak pernah padam. Jangan sampai jari yang kita gunakan untuk berzikir dan bersujud justru dipakai mengetik caci maki, hoaks, serta kata-kata yang menyakiti orang lain,” tegasnya.

Pada kesempatan tersebut, Zainal mengajak jamaah untuk merenungkan tiga prinsip utama agar mampu menggunakan media sosial secara bijaksana.

Pertama, menyadari bahwa jejak digital mungkin dapat dihapus, tetapi catatan amal yang ditulis malaikat Raqib dan Atid tidak akan pernah hilang. Ia mengutip firman Allah SWT dalam Surah Qaf ayat 17-18 yang menjelaskan bahwa setiap ucapan manusia senantiasa berada dalam pengawasan malaikat pencatat amal.

Menurutnya, kesadaran terhadap pencatatan amal tersebut seharusnya menjadi benteng bagi setiap muslim sebelum menulis komentar, membagikan unggahan, maupun menyampaikan pendapat di media sosial.

Kedua, menjaga lisan yang diwujudkan melalui jari-jari saat mengetik di media sosial agar terhindar dari ghibah dan namimah. Ia menjelaskan bahwa media sosial saat ini menjadi salah satu ruang yang paling rawan digunakan untuk menggunjing, menyebarkan fitnah, hingga mengadu domba antarsesama.

“Orang yang memiliki rasa haya’ akan menahan jempolnya sebelum membagikan berita yang belum jelas kebenarannya. Islam mengajarkan tabayyun agar kita tidak mudah menyebarkan informasi yang dapat merugikan orang lain,” ujarnya.

Ia juga mengingatkan firman Allah SWT dalam Surah Al-Hujurat ayat 12 yang mengibaratkan perbuatan ghibah seperti memakan bangkai saudara sendiri. Karena itu, setiap muslim diminta berhati-hati dalam menggunakan media sosial agar tidak terjerumus pada dosa akibat tulisan maupun komentar yang dibuatnya.

Ketiga, menjaga pandangan serta menghindari sikap riya’ dan ujub. Menurut Zainal, rasa malu kepada Allah SWT juga harus diwujudkan dengan menjaga pandangan dari berbagai konten yang tidak sesuai dengan ajaran Islam, termasuk menghindari kebiasaan memamerkan ibadah, harta, maupun pencapaian hanya demi memperoleh pengakuan dan popularitas di media sosial.

Ia menilai budaya mengejar jumlah pengikut, tanda suka, dan komentar positif sering kali membuat seseorang lupa terhadap tujuan utama beribadah kepada Allah SWT. Oleh sebab itu, umat Islam diingatkan untuk senantiasa meluruskan niat dalam setiap aktivitas, baik di dunia nyata maupun di ruang digital.

Menutup khutbahnya, Zainal mengajak seluruh jamaah menjadikan media sosial sebagai sarana menyebarkan manfaat dan kebaikan. Setiap unggahan, komentar, maupun pesan yang disampaikan hendaknya menjadi ladang pahala, bukan sebaliknya menjadi penyebab datangnya dosa.

“Rasulullah SAW telah mengingatkan, ‘Barangsiapa yang beriman kepada Allah dan Hari Akhir, maka hendaklah ia berkata baik atau diam.’ Mari jadikan setiap ketikan, setiap unggahan, setiap komentar, dan setiap aktivitas di media sosial sebagai amal kebaikan yang bernilai ibadah,” tuturnya.

Khotbah tersebut mendapat perhatian serius dari jamaah yang terdiri atas guru, tenaga kependidikan, dan para siswa SMKN Jawa Tengah di Semarang. Pesan mengenai pentingnya menjaga akhlak dalam bermedia sosial dinilai sangat relevan dengan perkembangan teknologi saat ini, terutama bagi generasi muda yang hampir setiap hari berinteraksi dengan internet dan berbagai platform digital.

Melalui khutbah tersebut, jamaah diharapkan tidak hanya mampu memanfaatkan teknologi sebagai sarana memperoleh informasi dan menjalin komunikasi, tetapi juga menjadikannya sebagai media untuk menyebarkan nilai-nilai kebaikan, menjaga kehormatan sesama, serta memperkuat ketakwaan kepada Allah SWT. Dengan demikian, kemajuan teknologi dapat menjadi berkah yang membawa manfaat bagi kehidupan dunia sekaligus menjadi bekal amal saleh di akhirat.

0 Komentar

Beri Komentar

Balasan