Senin, 13-07-2026
  • Website Ardan Sirodjuddin menerima tulisan artikel Guru, Kepala Sekolah dan Praktisi Pendidikan dalam Kolom Tulisan SahabatWebsite Ardan Sirodjuddin menerima tulisan artikel Guru, Kepala Sekolah dan Praktisi Pendidikan dalam Kolom Tulisan SahabatWebsite Ardan Sirodjuddin menerima tulisan artikel Guru, Kepala Sekolah dan Praktisi Pendidikan dalam Kolom Tulisan SahabatWebsite Ardan Sirodjuddin menerima tulisan artikel Guru, Kepala Sekolah dan Praktisi Pendidikan dalam Kolom Tulisan SahabatWebsite Ardan Sirodjuddin menerima tulisan artikel Guru, Kepala Sekolah dan Praktisi Pendidikan dalam Kolom Tulisan Sahabat
  • Website Ardan Sirodjuddin menerima tulisan artikel Guru, Kepala Sekolah dan Praktisi Pendidikan dalam Kolom Tulisan SahabatWebsite Ardan Sirodjuddin menerima tulisan artikel Guru, Kepala Sekolah dan Praktisi Pendidikan dalam Kolom Tulisan SahabatWebsite Ardan Sirodjuddin menerima tulisan artikel Guru, Kepala Sekolah dan Praktisi Pendidikan dalam Kolom Tulisan SahabatWebsite Ardan Sirodjuddin menerima tulisan artikel Guru, Kepala Sekolah dan Praktisi Pendidikan dalam Kolom Tulisan SahabatWebsite Ardan Sirodjuddin menerima tulisan artikel Guru, Kepala Sekolah dan Praktisi Pendidikan dalam Kolom Tulisan Sahabat

GAMAS Sambut Hari Pertama Sekolah, Guru SMKN Jateng di Semarang Antar Anak dan Bangun Ikatan Emosional Bersama Keluarga

Diterbitkan : - Kategori : Berita

SEMARANG – Suasana hari pertama masuk sekolah pada tahun ajaran 2026/2027, Senin (13/7/2026), terasa lebih istimewa bagi ribuan keluarga di Indonesia. Melalui Gerakan Ayah Mengantar Anak di Hari Pertama Sekolah (GAMAS), para ayah diajak hadir secara langsung mendampingi putra-putrinya memasuki gerbang sekolah. Gerakan nasional yang digagas Kementerian Kependudukan dan Pembangunan Keluarga (Kemendukbangga/BKKBN) bersama Kementerian Pendidikan ini mendapat sambutan positif dari berbagai kalangan, termasuk keluarga besar SMKN Jateng di Semarang.

Sebagai bentuk dukungan terhadap program tersebut, SMKN Jateng di Semarang memberikan kesempatan kepada para guru dan tenaga kependidikan untuk berpartisipasi dalam GAMAS. Kebijakan ini memungkinkan para pendidik meluangkan waktu pada pagi hari untuk mengantarkan anak mereka ke sekolah sebelum menjalankan tugas sebagai aparatur pendidikan.

GAMAS merupakan bagian dari Gerakan Ayah Teladan Indonesia (GATI), sebuah kampanye nasional yang bertujuan meningkatkan keterlibatan ayah dalam pengasuhan anak. Melalui gerakan ini, pemerintah ingin mendorong hadirnya sosok ayah tidak hanya sebagai pencari nafkah, tetapi juga sebagai figur yang aktif membangun kedekatan emosional dengan anak sejak usia dini.

Kehadiran ayah di hari pertama sekolah dinilai memiliki makna yang sangat besar. Momentum tersebut diyakini mampu menciptakan core memory atau kenangan mendalam yang akan selalu diingat anak hingga dewasa. Selain itu, pendampingan langsung dari ayah membantu mengurangi kecemasan anak ketika memasuki lingkungan sekolah yang baru, menumbuhkan rasa percaya diri, meningkatkan motivasi belajar, sekaligus memperkuat ikatan emosional dalam keluarga.

Dukungan terhadap GAMAS juga datang dari berbagai pemerintah daerah di Indonesia. Sejumlah kepala daerah menerbitkan surat edaran yang memberikan fleksibilitas jam kerja bagi pegawai laki-laki, baik di instansi pemerintah, BUMN, BUMD, maupun perusahaan swasta, agar mereka dapat mengantarkan anak ke sekolah tanpa khawatir mengganggu kewajiban pekerjaan.

Semangat tersebut turut dirasakan oleh Agus Pariaji, Guru Teknik Permesinan SMKN Jateng di Semarang. Pada hari pertama sekolah, Agus mengantarkan putranya yang mulai menempuh pendidikan di SMP Negeri 1 Kebonagung, Kecamatan Kebonagung, Kabupaten Demak.

Bagi Agus, kesempatan tersebut menjadi momen yang sangat berharga mengingat rutinitas pekerjaannya selama ini membuat dirinya jarang memiliki kesempatan mengantar anak ke sekolah.

“Program ini sangat bagus karena kita sebagai ayah tidak selalu bisa mengantar anak sekolah setiap hari. Tempat kerja kami sangat jauh sehingga harus berangkat pagi buta dan pulang saat senja. Meskipun hanya setahun sekali, InsyaAllah ini bisa mewakili rasa sebagai orang tua yang senantiasa membersamai anak-anak kita. Karena tentunya di sana tersimpan sejuta harapan dan doa untuk anak-anak kita,” ujar Agus.

Menurutnya, kehadiran seorang ayah pada hari pertama sekolah bukan sekadar mengantar hingga gerbang sekolah, tetapi menjadi simbol kasih sayang, perhatian, serta dukungan moral yang akan memberikan semangat tersendiri bagi anak dalam memulai perjalanan pendidikannya.

Hal senada disampaikan Mohammad Sabil Abdul Aziz, guru SMKN Jateng di Semarang yang turut mengikuti GAMAS dengan mengantarkan putranya ke SD Islam Terpadu LHI, Jalan Karanglo, Jogoragan, Plumbon, Banguntapan, Kabupaten Bantul, Daerah Istimewa Yogyakarta.

Aziz menilai kebijakan pemerintah tersebut merupakan langkah inovatif yang menjawab kebutuhan banyak keluarga, khususnya para ayah yang selama ini memiliki keterbatasan waktu karena tuntutan pekerjaan.

“Kebijakan Gerakan Ayah Mengantar Anak Hari Pertama Sekolah atau GAMAS merupakan kebijakan yang sangat inovatif karena memberikan kesempatan kepada para ayah, yang umumnya tidak memiliki kesempatan mengantar anak sekolah, untuk hadir pada hari pertama sekolah. Program ini juga membantu dan mendukung bonding antara ayah dan anak. Terakhir, GAMAS menjadi bukti bahwa pemerintah hadir untuk mengurangi risiko fatherless bagi anak-anak, termasuk di lingkungan ASN,” kata Aziz.

Ia berharap gerakan seperti ini tidak hanya menjadi agenda seremonial tahunan, tetapi mampu mengubah cara pandang masyarakat mengenai pentingnya keterlibatan ayah dalam proses tumbuh kembang anak. Menurutnya, kehadiran ayah memiliki pengaruh besar terhadap pembentukan karakter, rasa percaya diri, hingga kesehatan mental anak.

Partisipasi juga ditunjukkan oleh Agista Rizky Dermara, Guru Teknik Instalasi Tenaga Listrik (TITL) SMKN Jateng di Semarang. Pada hari pertama sekolah, Agista mengantarkan putranya yang baru memasuki jenjang kelas I Sekolah Dasar di SD Negeri Srondol Wetan 02, Banyumanik, Kota Semarang.

Bagi Agista, momen tersebut menjadi pengalaman yang tidak terlupakan. Melihat putranya memasuki gerbang sekolah untuk pertama kali sebagai siswa sekolah dasar menghadirkan rasa haru sekaligus kebanggaan sebagai seorang ayah. Kehadirannya di sisi sang anak diharapkan menjadi suntikan semangat agar mampu menjalani proses belajar dengan penuh percaya diri.

Partisipasi para guru SMKN Jateng di Semarang dalam GAMAS menunjukkan bahwa nilai-nilai pendidikan tidak hanya diwujudkan di ruang kelas, tetapi juga dimulai dari lingkungan keluarga. Keteladanan seorang pendidik dalam membangun hubungan harmonis bersama keluarga menjadi contoh nyata bahwa pendidikan karakter dimulai dari rumah.

Gerakan Ayah Mengantar Anak di Hari Pertama Sekolah juga mempertegas bahwa keberhasilan pendidikan bukan hanya menjadi tanggung jawab sekolah, melainkan merupakan kolaborasi antara keluarga, pemerintah, dan satuan pendidikan. Kehadiran ayah pada momen sederhana seperti mengantar anak ke sekolah terbukti memiliki makna yang jauh lebih besar daripada sekadar aktivitas rutin.

Melalui GAMAS, pemerintah berharap semakin banyak ayah yang menyadari bahwa perhatian, waktu, dan kedekatan emosional merupakan investasi penting bagi masa depan anak. Dukungan yang diberikan sejak langkah pertama memasuki sekolah diyakini akan menjadi bekal berharga dalam membentuk generasi Indonesia yang sehat secara emosional, percaya diri, serta memiliki karakter yang kuat.

Komitmen SMKN Jateng di Semarang dalam memberikan ruang kepada guru dan tenaga kependidikan untuk mengikuti gerakan ini menjadi bukti bahwa dunia pendidikan mendukung penuh upaya memperkuat peran keluarga sebagai fondasi utama pembentukan karakter peserta didik. Dari gerbang sekolah yang dipenuhi senyum, pelukan, dan doa para ayah, GAMAS menghadirkan pesan sederhana namun bermakna: kehadiran seorang ayah adalah hadiah terbaik bagi anak di awal perjalanan meraih cita-cita.

0 Komentar

Beri Komentar

Balasan