Jumat, 01-05-2026
  • Website Ardan Sirodjuddin menerima tulisan artikel Guru, Kepala Sekolah dan Praktisi Pendidikan dalam Kolom Tulisan SahabatWebsite Ardan Sirodjuddin menerima tulisan artikel Guru, Kepala Sekolah dan Praktisi Pendidikan dalam Kolom Tulisan SahabatWebsite Ardan Sirodjuddin menerima tulisan artikel Guru, Kepala Sekolah dan Praktisi Pendidikan dalam Kolom Tulisan SahabatWebsite Ardan Sirodjuddin menerima tulisan artikel Guru, Kepala Sekolah dan Praktisi Pendidikan dalam Kolom Tulisan SahabatWebsite Ardan Sirodjuddin menerima tulisan artikel Guru, Kepala Sekolah dan Praktisi Pendidikan dalam Kolom Tulisan Sahabat
  • Website Ardan Sirodjuddin menerima tulisan artikel Guru, Kepala Sekolah dan Praktisi Pendidikan dalam Kolom Tulisan SahabatWebsite Ardan Sirodjuddin menerima tulisan artikel Guru, Kepala Sekolah dan Praktisi Pendidikan dalam Kolom Tulisan SahabatWebsite Ardan Sirodjuddin menerima tulisan artikel Guru, Kepala Sekolah dan Praktisi Pendidikan dalam Kolom Tulisan SahabatWebsite Ardan Sirodjuddin menerima tulisan artikel Guru, Kepala Sekolah dan Praktisi Pendidikan dalam Kolom Tulisan SahabatWebsite Ardan Sirodjuddin menerima tulisan artikel Guru, Kepala Sekolah dan Praktisi Pendidikan dalam Kolom Tulisan Sahabat

Gerakan 1000 Siswa SMK Sales Naik CLAS 2025 Resmi Diluncurkan

Diterbitkan : - Kategori : Berita

JAKARTA – Upaya untuk menjembatani kesenjangan antara dunia pendidikan dan industri kembali digelorakan. Pada Jumat (25/4/2025), Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah Republik Indonesia secara resmi meluncurkan Gerakan 1000 Siswa SMK Sales Naik CLAS Tahun 2025, sebuah program inovatif yang dirancang untuk meningkatkan kualitas lulusan SMK, khususnya di bidang pemasaran dan penjualan.

Acara peluncuran yang digelar di Jakarta ini dihadiri langsung oleh Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah, Abdul Mukti, beserta jajaran pejabat eselon I dan II, perwakilan industri nasional, Kadin, Apindo, serta para kepala sekolah dan siswa SMK dari seluruh Indonesia. Gerakan ini dipandang sebagai jawaban konkret terhadap kritik yang selama ini melekat pada SMK, yakni tingginya tingkat pengangguran di kalangan lulusannya.

Dalam sambutannya, Menteri Abdul Mukti menggarisbawahi pentingnya branding dan perubahan persepsi terhadap profesi sales. “Sales adalah komandan dalam bisnis. Sayangnya, profesi ini masih dipandang sebelah mata. Kita harus ubah narasi ini. Profesi sales itu mulia dan strategis,” ujarnya di hadapan ratusan hadirin.

Direktur Jenderal Pendidikan Vokasi, Tatang Muttaqin, menegaskan bahwa program ini bukan sekadar pelatihan singkat, tetapi pendampingan selama tiga tahun, mulai dari kelas X hingga lulus. “Kurikulum disusun kolaboratif antara guru, praktisi industri, dan akademisi. Kami ingin melahirkan tenaga sales yang profesional, siap kerja, bahkan siap menciptakan lapangan kerja,” ungkap Tatang.

Program ini menggunakan pendekatan pembelajaran berbasis industri melalui metode ICEN (Inovatif, Kompetitif, Adaptif, Never Give Up), serta melibatkan lebih dari 70 perusahaan besar, seperti Kawan Lama Group, Yamaha Motor, Gramedia, dan Mustika Ratu. Para siswa akan dibekali tidak hanya dengan keterampilan teknis, tetapi juga dengan pendidikan karakter dan soft skills.

Perwakilan industri pun menyambut baik inisiatif ini. Hansaris Candra dari PT Sumber Trija Lestari (Aksesmo) menyatakan, “Kami butuh ribuan tenaga sales setiap tahunnya, namun sering kali kesulitan menemukan kandidat yang siap pakai. Program ini sangat membantu kami. Sales bukan hanya soal menjual, tapi membangun relasi, dan itu perlu dilatih sejak dini.”

Sementara itu, Kingseng dari Samsung Electronics Indonesia menambahkan, “Sales adalah ujung tombak perusahaan. Mereka yang pertama tahu kondisi pasar. Program ini penting agar anak-anak SMK bisa terjun ke lapangan dengan percaya diri dan kompetensi yang matang.”

Untuk memastikan kualitas, program ini juga didukung sistem asesmen terukur yang dilakukan setiap enam bulan oleh tim profesional. Ibu Seli, pakar asesmen program ini, menjelaskan bahwa ICEN dapat diukur secara kuantitatif dan akan menjadi dasar evaluasi perkembangan siswa. “Kita tidak hanya bicara pelatihan, tapi juga perubahan perilaku yang bisa dibuktikan dengan data,” jelasnya.

Sebagai penutup, Direktur SMK, Ari Santosa, mengajak seluruh perusahaan membuka pintu selebar-lebarnya. “Kami akan dampingi siswa selama tiga tahun. Kami butuh dukungan nyata dari dunia usaha. Mari kita cetak generasi sales yang tidak hanya naik kelas, tapi juga memajukan ekonomi bangsa,” tegasnya.

Peluncuran gerakan ini ditandai dengan penandatanganan komitmen bersama antara SMK dan industri, serta sesi foto bersama dengan semangat “SMK Bisa! Vokasi Cuan!” yang menggema dari seluruh peserta.

Liputan video bisa dilihat disini :

0 Komentar

Beri Komentar

Balasan