Jumat, 23-10-2026
  • Website Ardan Sirodjuddin menerima tulisan artikel Guru, Kepala Sekolah dan Praktisi Pendidikan dalam Kolom Tulisan SahabatWebsite Ardan Sirodjuddin menerima tulisan artikel Guru, Kepala Sekolah dan Praktisi Pendidikan dalam Kolom Tulisan SahabatWebsite Ardan Sirodjuddin menerima tulisan artikel Guru, Kepala Sekolah dan Praktisi Pendidikan dalam Kolom Tulisan SahabatWebsite Ardan Sirodjuddin menerima tulisan artikel Guru, Kepala Sekolah dan Praktisi Pendidikan dalam Kolom Tulisan SahabatWebsite Ardan Sirodjuddin menerima tulisan artikel Guru, Kepala Sekolah dan Praktisi Pendidikan dalam Kolom Tulisan Sahabat
  • Website Ardan Sirodjuddin menerima tulisan artikel Guru, Kepala Sekolah dan Praktisi Pendidikan dalam Kolom Tulisan SahabatWebsite Ardan Sirodjuddin menerima tulisan artikel Guru, Kepala Sekolah dan Praktisi Pendidikan dalam Kolom Tulisan SahabatWebsite Ardan Sirodjuddin menerima tulisan artikel Guru, Kepala Sekolah dan Praktisi Pendidikan dalam Kolom Tulisan SahabatWebsite Ardan Sirodjuddin menerima tulisan artikel Guru, Kepala Sekolah dan Praktisi Pendidikan dalam Kolom Tulisan SahabatWebsite Ardan Sirodjuddin menerima tulisan artikel Guru, Kepala Sekolah dan Praktisi Pendidikan dalam Kolom Tulisan Sahabat

Ibadah Minggu Pagi Anak-Anak SMKN Jateng di Semarang, Belajar Melayani dengan “Hati Yesus”

Diterbitkan : - Kategori : Berita

SEMARANG – Anak-anak SMKN Jateng di Semarang mengikuti kegiatan Ibadah Minggu Pagi Anak-Anak SMKN Jateng di Semarang di Gereja Baptis Indonesia (GBI) Jatisari, Jalan Jatisari RT 5/RW 13, Kelurahan Gisikdrono, Semarang Barat, Minggu (13/9/2026) pukul 07.00 WIB. Ibadah tersebut menjadi momentum bagi para siswa untuk memperkuat iman sekaligus belajar menerapkan nilai-nilai pelayanan, kerendahan hati, dan ketulusan dalam kehidupan sehari-hari.

Ibadah Minggu Pagi Anak-Anak SMKN Jateng di Semarang dipimpin oleh Pendeta Indriyanto, S.Th. Dalam khotbahnya, ia menyampaikan tema “Ciri Hati Yesus dalam Melayani” dengan berlandaskan Filipi 2:5-8 dan Yohanes 13:1-17. Melalui tema tersebut, para siswa diajak memahami bahwa melayani bukan sekadar melakukan suatu pekerjaan, tetapi merupakan wujud kasih, ketulusan, dan kerendahan hati yang perlu diwujudkan secara nyata.

Pendeta Indriyanto menjelaskan bahwa kehidupan Yesus memberikan teladan penting mengenai bagaimana seseorang seharusnya melayani. Yesus tidak menjadikan pelayanan sebagai sarana untuk memperoleh pujian atau penghormatan dari manusia. Sebaliknya, pelayanan dilakukan dengan ketulusan karena berorientasi kepada Tuhan.

Ibadah Minggu Pagi Anak-Anak SMKN Jateng di Semarang Mengajarkan Pelayanan untuk Tuhan

Dalam bagian pertama khotbah, Pendeta Indriyanto mengangkat pesan tentang hati yang melayani untuk Tuhan, bukan untuk manusia. Ia mengutip Kolose 3:23 yang mengajarkan agar setiap pekerjaan dilakukan dengan segenap hati seperti untuk Tuhan dan bukan untuk manusia.

Menurutnya, motivasi menjadi hal penting dalam setiap pelayanan. Seseorang yang melayani hanya karena ingin dilihat atau mendapatkan pujian akan mudah kehilangan semangat ketika tidak memperoleh perhatian. Sebaliknya, orang yang memiliki hati seperti Yesus akan tetap setia menjalankan tanggung jawab meskipun tidak banyak orang yang melihat.

“Yesus tidak melayani untuk mencari pujian. Dia mengatakan dalam Yohanes 5:41, ‘Aku tidak menerima hormat dari manusia’,” tutur Pendeta Indriyanto dalam khotbahnya.

Untuk memperjelas pesan tersebut, ia menggunakan ilustrasi kamera CCTV. Kamera CCTV dapat menggambarkan bahwa sesuatu yang dilakukan seseorang bisa saja tidak terlihat oleh banyak orang, tetapi Tuhan selalu melihat setiap perbuatan manusia. Karena itu, pelayanan tidak seharusnya bergantung pada ada atau tidaknya orang yang menyaksikan.

Pendeta Indriyanto juga mengajak para siswa melihat pelayanan dari berbagai sisi. Ada pelayanan yang tampak di depan banyak orang, tetapi ada pula pekerjaan yang berlangsung di balik layar dan tidak mendapatkan sorotan. Keduanya tetap memiliki nilai ketika dilakukan dengan ketulusan.

“Di mimbar satu jam, di balik layar sepuluh jam. Sama-sama untuk Tuhan,” ujarnya.

Pesan tersebut relevan dengan kehidupan para siswa di sekolah. Menjadi pribadi yang bertanggung jawab tidak hanya berarti tampil ketika mendapat tugas yang terlihat, tetapi juga bersedia melakukan pekerjaan yang sederhana dan tidak mendapatkan apresiasi secara langsung.

Melayani dengan Segenap Hati, Bukan Setengah-Setengah

Pada bagian berikutnya, Pendeta Indriyanto menyampaikan bahwa ciri hati Yesus dalam melayani adalah melayani dengan segenap hati, bukan setengah-setengah. Ia mengingatkan bahwa pelayanan membutuhkan kesungguhan, komitmen, serta kesiapan untuk memberikan yang terbaik.

Keteladanan Yesus dalam melayani ditunjukkan melalui kesediaan-Nya memberikan diri secara penuh hingga pengorbanan di kayu salib. Dari teladan tersebut, siswa diajak memahami bahwa pelayanan yang dilakukan dengan sungguh-sungguh tidak berhenti ketika menghadapi rasa lelah atau kesulitan.

Untuk menggambarkan hal itu, Pendeta Indriyanto menggunakan ilustrasi baterai telepon seluler. Baterai yang hanya terisi 10 persen akan lebih cepat habis dibandingkan baterai yang terisi penuh. Demikian pula dengan seseorang yang menjalankan pelayanan tanpa kesungguhan hati akan lebih mudah merasa lelah, mengeluh, bahkan kehilangan sukacita.

Sebaliknya, pelayanan yang dilakukan dengan hati yang penuh akan mendorong seseorang tetap menjalankan tanggung jawab dengan sukacita meskipun menghadapi berbagai tantangan.

“Pelayanan 10 persen cepat ngedrop, mengeluh, gosip. Pelayanan 100 persen berarti tetap ada sukacita walaupun lelah,” kata Pendeta Indriyanto.

Ia kemudian memberikan contoh sederhana yang dapat diterapkan para siswa dalam kehidupan sehari-hari. Datang tepat waktu, mempersiapkan tugas dengan baik, serta mengawali pekerjaan dengan doa merupakan bagian dari bentuk pelayanan yang dilakukan dengan segenap hati.

Bagi anak-anak SMKN Jateng di Semarang, pesan tersebut tidak hanya berkaitan dengan kegiatan ibadah. Nilai kesungguhan juga dapat diterapkan dalam belajar, menjalankan tugas sekolah, mengikuti kegiatan bersama, membantu teman, maupun melaksanakan tanggung jawab yang diberikan oleh guru dan pembimbing.

Kerendahan Hati Menjadi Ciri Penting dalam Melayani

Pesan ketiga dalam khotbah adalah tentang hati yang melayani dengan kerendahan hati. Pendeta Indriyanto merujuk pada Filipi 2:7 tentang Yesus yang mengambil rupa seorang hamba. Ayat tersebut menjadi dasar bagi jemaat untuk memahami bahwa kebesaran seseorang tidak seharusnya membuatnya enggan melayani.

Yesus yang disebut sebagai Raja justru memberikan teladan dengan membasuh kaki murid-murid-Nya. Tindakan tersebut menunjukkan bahwa pelayanan tidak mengenal batas antara pekerjaan yang dianggap besar dan kecil.

“Yesus Raja, tetapi Dia membasuh kaki murid. Itulah teladan kerendahan hati dalam melayani,” jelasnya.

Pendeta Indriyanto kemudian menggunakan ilustrasi gayung. Sebuah gayung digunakan untuk mengambil air dan membantu memenuhi kebutuhan orang lain. Dalam gambaran tersebut, semakin seseorang mampu mengosongkan dirinya dari ego, semakin besar pula ruang untuk digunakan dalam melayani sesama.

Ilustrasi itu menjadi pengingat agar para siswa tidak memilih-milih pelayanan berdasarkan apakah tugas tersebut terlihat atau mendapatkan pujian. Pelayanan yang dilakukan dengan rendah hati justru dapat dimulai dari hal-hal sederhana di sekitar.

“Tidak pilih-pilih pelayanan. Yang kelihatan mau, yang tidak kelihatan juga mau,” tegas Pendeta Indriyanto.

Pesan tersebut mengajak para siswa untuk membangun karakter yang tidak berorientasi pada pengakuan. Membantu teman, menjaga kebersihan lingkungan, mematuhi aturan, bekerja sama dalam kelompok, serta melaksanakan tugas tanpa harus menunggu pujian merupakan contoh sederhana dari semangat melayani dengan rendah hati.

Menjadikan Teladan Yesus sebagai Bagian dari Kehidupan Siswa

Ibadah Minggu Pagi Anak-Anak SMKN Jateng di Semarang tidak hanya menjadi kegiatan pembinaan spiritual, tetapi juga menjadi ruang bagi siswa untuk merefleksikan nilai-nilai karakter yang dapat diterapkan dalam kehidupan sehari-hari. Pesan tentang melayani untuk Tuhan, melayani dengan segenap hati, dan melayani dengan kerendahan hati menjadi tiga pokok utama yang disampaikan dalam khotbah.

Melalui kegiatan tersebut, para siswa diharapkan mampu membawa nilai-nilai yang diperoleh dari ibadah ke lingkungan sekolah maupun kehidupan sosial. Semangat pelayanan dapat diwujudkan melalui sikap bertanggung jawab, disiplin, peduli terhadap sesama, serta bersedia membantu tanpa membedakan apakah pekerjaan tersebut mendapatkan perhatian atau tidak.

Kegiatan Ibadah Minggu Pagi Anak-Anak SMKN Jateng di Semarang yang berlangsung di GBI Jatisari tersebut pun menjadi kesempatan untuk menanamkan nilai bahwa kualitas seseorang tidak hanya terlihat dari kemampuan atau prestasi yang dimiliki, tetapi juga dari ketulusan ketika memberikan diri untuk membantu dan melayani orang lain.

Dengan menjadikan teladan Yesus sebagai inspirasi, para siswa diharapkan semakin memahami bahwa pelayanan merupakan bagian dari pembentukan karakter. Ketika dilakukan dengan motivasi yang benar, kesungguhan, dan kerendahan hati, pelayanan dapat menjadi kebiasaan positif yang membentuk pribadi yang bertanggung jawab, peduli, dan mampu memberikan manfaat bagi lingkungan sekitarnya.

0 Komentar

Beri Komentar

Balasan