Jumat, 01-05-2026
  • Website Ardan Sirodjuddin menerima tulisan artikel Guru, Kepala Sekolah dan Praktisi Pendidikan dalam Kolom Tulisan SahabatWebsite Ardan Sirodjuddin menerima tulisan artikel Guru, Kepala Sekolah dan Praktisi Pendidikan dalam Kolom Tulisan SahabatWebsite Ardan Sirodjuddin menerima tulisan artikel Guru, Kepala Sekolah dan Praktisi Pendidikan dalam Kolom Tulisan SahabatWebsite Ardan Sirodjuddin menerima tulisan artikel Guru, Kepala Sekolah dan Praktisi Pendidikan dalam Kolom Tulisan SahabatWebsite Ardan Sirodjuddin menerima tulisan artikel Guru, Kepala Sekolah dan Praktisi Pendidikan dalam Kolom Tulisan Sahabat
  • Website Ardan Sirodjuddin menerima tulisan artikel Guru, Kepala Sekolah dan Praktisi Pendidikan dalam Kolom Tulisan SahabatWebsite Ardan Sirodjuddin menerima tulisan artikel Guru, Kepala Sekolah dan Praktisi Pendidikan dalam Kolom Tulisan SahabatWebsite Ardan Sirodjuddin menerima tulisan artikel Guru, Kepala Sekolah dan Praktisi Pendidikan dalam Kolom Tulisan SahabatWebsite Ardan Sirodjuddin menerima tulisan artikel Guru, Kepala Sekolah dan Praktisi Pendidikan dalam Kolom Tulisan SahabatWebsite Ardan Sirodjuddin menerima tulisan artikel Guru, Kepala Sekolah dan Praktisi Pendidikan dalam Kolom Tulisan Sahabat

Ibadah Puasa Sebagai Sarana Membentuk Akhlakul Karimah

Diterbitkan : - Kategori : Berita

SEMARANG-Senin, 10 Maret 2025, suasana khidmat terasa di Masjid Baitul Iman SMK Negeri 10 Semarang saat para siswa putri mengikuti Kuliah Tujuh Menit (kultum) yang menjadi agenda rutin sekolah. Pada kesempatan kali ini, Husna Amalana tampil sebagai pengisi kultum dengan tema “Ibadah Puasa Membentuk Akhlakul Karimah Manusia.” Dengan suara lembut namun penuh semangat, Husna menyampaikan pesan inspiratif tentang pentingnya puasa dalam membentuk karakter mulia seorang muslim.

Mengawali kultumnya, Husna menjelaskan bahwa akhlak adalah cerminan perilaku manusia dalam kehidupan sehari-hari. Secara bahasa, kata akhlak berasal dari khuluq , yang berarti sifat, tabiat, atau kebiasaan. “Dalam Islam, akhlak mencerminkan karakter baik dan buruk seseorang,” ujarnya. Akhlak yang baik, atau disebut akhlakul karimah, adalah perilaku mulia yang sesuai dengan ajaran Islam dan mencerminkan kesempurnaan iman seseorang.

Husna juga mengutip sabda Rasulullah SAW untuk memperkuat penjelasannya: “Sesungguhnya aku diutus untuk menyempurnakan akhlak yang baik” (HR. Ahmad).
“Rasulullah diutus bukan hanya untuk menyampaikan syariat, tetapi juga untuk menjadi teladan dalam berakhlak mulia,” tambah Husna.

Menurutnya, akhlakul karimah mencakup banyak aspek, seperti kejujuran, kesabaran, kasih sayang, menjaga lisan, amanah, hingga rendah hati. Ia memberikan contoh konkret yang relevan dengan kehidupan siswa. “Misalnya, seorang siswa yang menemukan dompet di lingkungan sekolah akan langsung melaporkannya kepada guru, bukan menyimpannya sendiri karena tergiur oleh isi dompet tersebut,” jelas Husna. Contoh lainnya adalah bagaimana seorang teman tidak mudah marah ketika barang yang dipinjamkan rusak, tetapi menegur dengan baik dan penuh empati.

Husna kemudian menjelaskan bahwa ibadah puasa memiliki peran besar dalam membentuk akhlakul karimah . Menurutnya, puasa tidak hanya soal menahan lapar dan haus, tetapi juga melatih diri untuk mengendalikan hawa nafsu dan menjauhi perbuatan buruk. Ia mengutip firman Allah SWT dalam Al-Qur’an: “Wahai orang-orang yang beriman! Diwajibkan atas kamu berpuasa sebagaimana diwajibkan atas orang-orang sebelum kamu agar kamu bertakwa.” (QS. Al-Baqarah: 183).

Ayat ini, lanjut Husna, menunjukkan bahwa tujuan utama puasa adalah membentuk ketakwaan, yang erat kaitannya dengan akhlak mulia. Manfaat puasa dalam membentuk akhlak yang baik antara lain pertama Melatih Kesabaran. Puasa melatih seseorang untuk bersabar dalam menghadapi segala ujian hidup. “Rasulullah SAW bersabda bahwa puasa adalah separuh kesabaran,” ungkap Husna. Contohnya, ketika seseorang digoda untuk marah atau balas dendam saat berpuasa, ia belajar untuk menahan diri. “Ini adalah bentuk pengendalian diri yang sangat penting dalam kehidupan sehari-hari,” tambahnya.

Kedua  Menjaga Perkataan dan Perbuatan. Husna juga menyoroti pentingnya menjaga perkataan dan perbuatan selama berpuasa. Ia mengutip hadits Rasulullah SAW: “Jika salah seorang di antara kalian berpuasa, maka janganlah berkata kotor dan jangan berteriak-teriak. Jika ada orang yang mencacinya atau mengajaknya berkelahi, maka hendaklah ia berkata, ‘Sesungguhnya aku sedang berpuasa.’” (HR. Bukhari dan Muslim).

Ia memberikan contoh situasi nyata: “Bayangkan jika seorang siswa digoda temannya dengan ejekan saat istirahat. Alih-alih membalas dengan kemarahan, ia cukup mengingatkan dengan santun bahwa dirinya sedang berpuasa. Ini adalah contoh nyata bagaimana puasa membantu kita menjaga lidah dan sikap.”

Ketiga Menumbuhkan Kepedulian Sosial. Salah satu pelajaran penting dari puasa adalah menumbuhkan rasa empati terhadap orang lain. Saat berpuasa, seseorang merasakan langsung bagaimana rasanya lapar dan haus, sehingga lebih peka terhadap penderitaan orang-orang yang kurang mampu. Husna mengutip hadits Rasulullah SAW: “Barang siapa yang membantu kebutuhan saudaranya, maka Allah akan membantu kebutuhannya.” (HR. Muslim).

“Puasa mendorong kita untuk berbagi, seperti memberikan makanan saat berbuka puasa atau menyisihkan sedikit rezeki untuk fakir miskin,” ujarnya. Ia juga mengimbau para siswa untuk lebih peduli terhadap teman-teman mereka yang membutuhkan bantuan, baik dalam hal akademik maupun sosial.

Keempat Menguatkan Keikhlasan dan Keimanan. Husna menutup penjelasannya dengan menekankan pentingnya keikhlasan dalam berpuasa. Ia mengutip hadits Rasulullah SAW: “Setiap amal anak Adam adalah untuknya, kecuali puasa. Sesungguhnya puasa itu untuk-Ku, dan Aku-lah yang akan membalasnya.” (HR. Bukhari dan Muslim).

“Keikhlasan adalah inti dari ibadah puasa. Hanya Allah yang mengetahui apakah seseorang benar-benar berpuasa atau tidak,” jelas Husna. Ia memberikan contoh bagaimana seorang siswa tetap menjalankan puasa dengan penuh kesadaran meskipun melihat teman-temannya makan dan minum saat istirahat. “Ini adalah bentuk keteguhan iman yang patut kita teladani,” tambahnya.

Di akhir kultumnya, Husna menyampaikan pesan penting bagi para siswa. “Mari kita jadikan puasa sebagai momentum untuk membentuk akhlakul karimah dalam kehidupan sehari-hari,” katanya. Ia mengajak para siswa untuk lebih jujur, sabar, peduli, dan rendah hati dalam setiap tindakan mereka.

“Ingatlah bahwa akhlakul karimah bukan hanya untuk diri sendiri, tetapi juga untuk kebaikan masyarakat sekitar. Semoga puasa kita tahun ini tidak hanya mendekatkan kita kepada Allah, tetapi juga membuat kita menjadi pribadi yang lebih baik,” tutup Husna dengan senyum penuh harap.

0 Komentar

Beri Komentar

Balasan