Jumat, 01-05-2026
  • Website Ardan Sirodjuddin menerima tulisan artikel Guru, Kepala Sekolah dan Praktisi Pendidikan dalam Kolom Tulisan SahabatWebsite Ardan Sirodjuddin menerima tulisan artikel Guru, Kepala Sekolah dan Praktisi Pendidikan dalam Kolom Tulisan SahabatWebsite Ardan Sirodjuddin menerima tulisan artikel Guru, Kepala Sekolah dan Praktisi Pendidikan dalam Kolom Tulisan SahabatWebsite Ardan Sirodjuddin menerima tulisan artikel Guru, Kepala Sekolah dan Praktisi Pendidikan dalam Kolom Tulisan SahabatWebsite Ardan Sirodjuddin menerima tulisan artikel Guru, Kepala Sekolah dan Praktisi Pendidikan dalam Kolom Tulisan Sahabat
  • Website Ardan Sirodjuddin menerima tulisan artikel Guru, Kepala Sekolah dan Praktisi Pendidikan dalam Kolom Tulisan SahabatWebsite Ardan Sirodjuddin menerima tulisan artikel Guru, Kepala Sekolah dan Praktisi Pendidikan dalam Kolom Tulisan SahabatWebsite Ardan Sirodjuddin menerima tulisan artikel Guru, Kepala Sekolah dan Praktisi Pendidikan dalam Kolom Tulisan SahabatWebsite Ardan Sirodjuddin menerima tulisan artikel Guru, Kepala Sekolah dan Praktisi Pendidikan dalam Kolom Tulisan SahabatWebsite Ardan Sirodjuddin menerima tulisan artikel Guru, Kepala Sekolah dan Praktisi Pendidikan dalam Kolom Tulisan Sahabat

Kesalehan Digital, Kunci Indonesia Hadapi Revolusi AI di Dunia Pendidikan

Diterbitkan : - Kategori : Berita

Jakarta – Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah (Mendikdasmen) Abdul Mu’ti menegaskan pentingnya kesalehan digital dalam menghadapi perkembangan teknologi kecerdasan buatan atau artificial intelligence (AI). Ia menyebut bahwa pemanfaatan AI di dunia pendidikan harus selaras dengan nilai-nilai etika agar memberikan manfaat yang optimal bagi peserta didik. Pernyataan ini ia sampaikan saat berbicara dalam Forum APEC di Korea Selatan, Kamis (15/5/2025), yang kemudian dilansir dari Antara.

“Pemahaman soal etika dalam pengembangan AI ini juga menjadi bagian dari kebijakan di Indonesia,” ujar Mu’ti. Ia menekankan bahwa kehadiran AI tidak boleh hanya dilihat sebagai alat untuk efisiensi belajar, tetapi juga sebagai sarana untuk membangun karakter dan tanggung jawab digital para siswa.

Menurut Mu’ti, sikap bijak dalam menggunakan AI merupakan fondasi dari apa yang disebutnya sebagai kesalehan digital. “Kita tak sekadar perhatikan kemajuan digital, tapi juga harus tekankan pentingnya kesalehan digital,” imbuhnya. Kesalehan digital, lanjut dia, mencakup penggunaan teknologi secara bertanggung jawab, menjunjung nilai-nilai luhur, serta mendorong kepedulian terhadap sesama dalam ruang digital.

Untuk mendukung hal tersebut, Kemendikdasmen mulai mengintegrasikan pembelajaran AI dan pemrograman (coding ) ke dalam kurikulum. Salah satu langkah konkret yang telah dilakukan adalah pelatihan guru-guru agar siap mengajarkan materi tersebut. “Pelatihan gurunya sudah dimulai. Nanti kita usahakan juga ada keterkaitannya dengan sertifikasi guru,” tutur Mu’ti. Ia menambahkan, waktu yang digunakan oleh guru untuk mengajar AI dan coding akan dihitung sebagai pemenuhan jam mengajar wajib.

Mu’ti percaya bahwa teknologi itu netral, dan dampaknya sangat bergantung pada pengguna serta tujuan penggunaannya. “Kalau digunakan oleh orang bertanggung jawab untuk tujuan baik, maka akan mendatangkan manfaat,” ujarnya optimis.

Senada dengan Mu’ti, Wakil Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah Fajar Riza Ulhaq menegaskan bahwa perkembangan AI harus diimbangi dengan penguatan nilai etika dan tanggung jawab. “Saya ingin mengambil jalan tengah. AI adalah inovasi yang harus kita apresiasi, bahkan perlu kita ajarkan kepada anak-anak kita. Tapi itu harus disertai dengan semangat yang mendorong kewargaan digital (digital citizenship ),” katanya dalam keterangan resminya.

Fajar merujuk pada hasil AI Index Report Stanford University 2025 yang menunjukkan bahwa 80% masyarakat Indonesia optimistis terhadap perkembangan AI, angka yang hampir setara dengan optimisme masyarakat Tiongkok (83%) dan Thailand (77%). Namun, di balik optimisme tersebut, Fajar mengajak insan pendidikan untuk tidak hanya menjadi konsumen teknologi, tetapi juga menjadi inovator. “Jangan sampai kita hanya menjadi penonton. Kita harus mampu menjadi pemilik masa depan teknologi ini,” ucapnya.

Ia berharap generasi muda dapat memanfaatkan pembelajaran coding dan AI secara maksimal, sekaligus tetap memiliki sikap skeptis dan kritis. “Dengan pendekatan yang reflektif dan humanis, pengajaran teknologi tidak hanya soal kemampuan teknis, tetapi juga pembentukan karakter,” tutup Fajar.

Melalui kombinasi antara penguasaan teknologi, kesadaran etika, dan pembentukan karakter, Indonesia berusaha memposisikan diri sebagai negara yang tidak hanya mengikuti arus revolusi digital, tetapi juga turut membentuk masa depan pendidikan dunia berbasis teknologi yang manusiawi dan bermartabat.

Sumber Foto : https://lenteratoday.com/

0 Komentar

Beri Komentar

Balasan