Rabu, 17-06-2026
  • Website Ardan Sirodjuddin menerima tulisan artikel Guru, Kepala Sekolah dan Praktisi Pendidikan dalam Kolom Tulisan SahabatWebsite Ardan Sirodjuddin menerima tulisan artikel Guru, Kepala Sekolah dan Praktisi Pendidikan dalam Kolom Tulisan SahabatWebsite Ardan Sirodjuddin menerima tulisan artikel Guru, Kepala Sekolah dan Praktisi Pendidikan dalam Kolom Tulisan SahabatWebsite Ardan Sirodjuddin menerima tulisan artikel Guru, Kepala Sekolah dan Praktisi Pendidikan dalam Kolom Tulisan SahabatWebsite Ardan Sirodjuddin menerima tulisan artikel Guru, Kepala Sekolah dan Praktisi Pendidikan dalam Kolom Tulisan Sahabat
  • Website Ardan Sirodjuddin menerima tulisan artikel Guru, Kepala Sekolah dan Praktisi Pendidikan dalam Kolom Tulisan SahabatWebsite Ardan Sirodjuddin menerima tulisan artikel Guru, Kepala Sekolah dan Praktisi Pendidikan dalam Kolom Tulisan SahabatWebsite Ardan Sirodjuddin menerima tulisan artikel Guru, Kepala Sekolah dan Praktisi Pendidikan dalam Kolom Tulisan SahabatWebsite Ardan Sirodjuddin menerima tulisan artikel Guru, Kepala Sekolah dan Praktisi Pendidikan dalam Kolom Tulisan SahabatWebsite Ardan Sirodjuddin menerima tulisan artikel Guru, Kepala Sekolah dan Praktisi Pendidikan dalam Kolom Tulisan Sahabat

Guru SMKN Jateng Semarang Asah Kompetensi Tata Udara di Bandung, Kuasai Pembuatan Ducting Sesuai Standar Industri

Diterbitkan : - Kategori : Balai Besar / Berita

BANDUNG, 17 Juni 2026 – Upaya meningkatkan kualitas tenaga pendidik vokasi yang adaptif terhadap perkembangan industri modern terus dilakukan oleh SMK Negeri Jawa Tengah di Semarang. Salah satunya melalui keikutsertaan guru produktif dalam program Diklat Upskilling dan Reskilling bidang tata udara yang diselenggarakan di Balai Besar Pengembangan Penjaminan Mutu Pendidikan Vokasi Bidang Mesin dan Teknik Industri (BBPPMPV BMTI) Bandung.

Kegiatan yang berlangsung di Bengkel Lafalo BBPPMPV BMTI sejak Kamis (11/6) tersebut menjadi wadah bagi para guru untuk memperdalam kompetensi teknis sekaligus memahami kebutuhan industri terkini, khususnya pada bidang sistem tata udara atau Heating, Ventilation, and Air Conditioning (HVAC). Dalam pelatihan ini, peserta tidak hanya menerima materi teori, tetapi juga terlibat langsung dalam praktik pembuatan ducting system atau sistem saluran udara yang menjadi komponen penting dalam instalasi HVAC modern.

Program pelatihan tersebut dirancang untuk menjawab tuntutan dunia industri yang semakin menekankan efisiensi energi bangunan dan peningkatan kualitas udara dalam ruangan (Indoor Air Quality). Melalui pendekatan pembelajaran berbasis praktik, para guru mendapatkan pengalaman nyata mengenai proses kerja yang umum diterapkan di industri tata udara.

Selama pelatihan berlangsung, peserta mengikuti serangkaian praktik yang mencakup seluruh tahapan pembuatan sistem ducting, mulai dari perencanaan hingga pemasangan. Pada tahap perencanaan, para guru dilatih untuk melakukan kalkulasi kebutuhan aliran udara, menentukan ukuran saluran yang tepat, serta menyusun pola pemotongan material secara presisi agar penggunaan bahan menjadi lebih efisien dan meminimalkan sisa material.

Tahapan berikutnya adalah proses fabrikasi. Dalam sesi ini, peserta melakukan praktik pemotongan, penekukan, hingga perakitan material ducting menggunakan peralatan bengkel yang telah memenuhi standar industri. Berbagai jenis material digunakan, termasuk Pre-Insulated Duct dan material galvanis yang umum diaplikasikan pada sistem tata udara di gedung-gedung modern.

Setelah proses fabrikasi selesai, peserta melanjutkan ke tahap pemasangan dan pengujian. Pada tahap ini, mereka melakukan simulasi instalasi ducting pada struktur bangunan bengkel. Peserta juga mempraktikkan teknik penyambungan yang aman dan kedap udara guna menghindari kebocoran tekanan atau pressure drop yang dapat menurunkan kinerja sistem HVAC.

Salah seorang peserta dari SMKN Jateng di Semarang mengungkapkan bahwa pelatihan tersebut memberikan pengalaman berharga karena menghadirkan suasana kerja yang sangat dekat dengan kondisi industri sebenarnya.

“Melalui praktik langsung ini kami tidak hanya memahami teori desain dan perhitungan sistem tata udara, tetapi juga merasakan bagaimana standar pekerjaan di industri diterapkan. Pengalaman ini sangat penting untuk kami bawa kembali ke sekolah agar pembelajaran yang diberikan kepada siswa semakin relevan dengan kebutuhan dunia kerja,” ujarnya.

Metode pelaksanaan praktik dilakukan secara berkelompok untuk menumbuhkan budaya kerja kolaboratif yang menjadi karakter utama di dunia industri. Dalam setiap kelompok, guru dari SMKN Jateng di Semarang bekerja sama dengan peserta lain yang berasal dari berbagai SMK binaan BBPPMPV BMTI dari seluruh Indonesia.

Kolaborasi lintas sekolah tersebut menjadi salah satu nilai tambah dalam kegiatan pelatihan. Selain menyelesaikan proyek bersama, para peserta juga memiliki kesempatan untuk bertukar pengalaman, berbagi praktik baik dalam pembelajaran vokasi, serta mendiskusikan tantangan yang dihadapi masing-masing sekolah dalam menyiapkan lulusan yang siap kerja.

Menurut instruktur pelatihan di Bengkel Lafalo BBPPMPV BMTI, pendekatan pembelajaran berbasis proyek sengaja diterapkan agar peserta memperoleh pengalaman menyeluruh mengenai proses kerja di industri.

“Guru vokasi harus memahami proses produksi dari awal hingga akhir. Dengan model pelatihan seperti ini, peserta tidak hanya mengetahui cara membuat ducting, tetapi juga memahami standar kualitas, keselamatan kerja, efisiensi material, hingga pentingnya kerja sama tim dalam menyelesaikan sebuah proyek,” jelasnya.

Kegiatan ini juga menjadi bagian dari upaya pemerintah dalam memperkuat kualitas pendidikan vokasi melalui peningkatan kompetensi guru. Sebagai ujung tombak pembelajaran di sekolah, guru dituntut untuk terus memperbarui pengetahuan dan keterampilannya agar mampu mengikuti perkembangan teknologi dan kebutuhan industri yang terus berubah.

Bagi SMKN Jateng di Semarang, keikutsertaan dalam program upskilling dan reskilling ini merupakan langkah strategis dalam memperkuat kualitas pembelajaran. Pengetahuan, modul pelatihan, serta pengalaman praktik yang diperoleh selama mengikuti diklat akan diintegrasikan ke dalam proses belajar mengajar di sekolah. Dengan demikian, siswa dapat memperoleh materi yang lebih aktual dan sesuai dengan perkembangan dunia usaha dan dunia industri.

Kepala program keahlian terkait di SMKN Jateng di Semarang menyampaikan bahwa hasil pelatihan ini nantinya akan ditransformasikan ke dalam berbagai kegiatan pembelajaran maupun praktik siswa di bengkel sekolah.

“Kami berharap ilmu yang diperoleh selama pelatihan dapat menjadi bekal untuk meningkatkan kualitas pembelajaran. Siswa tidak hanya memahami konsep, tetapi juga mampu menguasai keterampilan yang benar-benar dibutuhkan industri saat ini. Dengan begitu, lulusan SMKN Jateng di Semarang akan semakin siap bersaing di dunia kerja,” katanya.

Berakhirnya proyek praktik pembuatan ducting system di BBPPMPV BMTI Bandung menandai selesainya salah satu rangkaian penting dalam program diklat tersebut. Namun manfaat yang dihasilkan diproyeksikan akan terus berlanjut melalui implementasi hasil pelatihan di sekolah masing-masing.

Melalui peningkatan kompetensi guru yang berkelanjutan, pendidikan vokasi diharapkan mampu menghasilkan lulusan yang tidak hanya memiliki kemampuan teknis sesuai standar industri, tetapi juga memahami budaya kerja yang menuntut ketelitian, kedisiplinan, kolaborasi, dan presisi tinggi. Langkah ini sekaligus menjadi wujud nyata komitmen SMKN Jateng di Semarang dalam menyiapkan sumber daya manusia unggul yang siap menghadapi tantangan industri masa depan.

Penulis : Riska Eko Cahyono S.Pd. Guru Teknik Pemesinan SMKN Jateng di Semarang

0 Komentar

Beri Komentar

Balasan