Jumat, 01-05-2026
  • Website Ardan Sirodjuddin menerima tulisan artikel Guru, Kepala Sekolah dan Praktisi Pendidikan dalam Kolom Tulisan SahabatWebsite Ardan Sirodjuddin menerima tulisan artikel Guru, Kepala Sekolah dan Praktisi Pendidikan dalam Kolom Tulisan SahabatWebsite Ardan Sirodjuddin menerima tulisan artikel Guru, Kepala Sekolah dan Praktisi Pendidikan dalam Kolom Tulisan SahabatWebsite Ardan Sirodjuddin menerima tulisan artikel Guru, Kepala Sekolah dan Praktisi Pendidikan dalam Kolom Tulisan SahabatWebsite Ardan Sirodjuddin menerima tulisan artikel Guru, Kepala Sekolah dan Praktisi Pendidikan dalam Kolom Tulisan Sahabat
  • Website Ardan Sirodjuddin menerima tulisan artikel Guru, Kepala Sekolah dan Praktisi Pendidikan dalam Kolom Tulisan SahabatWebsite Ardan Sirodjuddin menerima tulisan artikel Guru, Kepala Sekolah dan Praktisi Pendidikan dalam Kolom Tulisan SahabatWebsite Ardan Sirodjuddin menerima tulisan artikel Guru, Kepala Sekolah dan Praktisi Pendidikan dalam Kolom Tulisan SahabatWebsite Ardan Sirodjuddin menerima tulisan artikel Guru, Kepala Sekolah dan Praktisi Pendidikan dalam Kolom Tulisan SahabatWebsite Ardan Sirodjuddin menerima tulisan artikel Guru, Kepala Sekolah dan Praktisi Pendidikan dalam Kolom Tulisan Sahabat

Kisah Cinta, Imajinasi, dan Semangat Literasi dari Kepala SMPN 1 Cilongok

Diterbitkan : - Kategori : Berita

SEMARANG-Redaksi Ardansirodjuddin.com baru-baru ini menerima kiriman sebuah buku puisi yang menggetarkan dunia literasi lokal, berjudul Jonggrang karya Trisnatun Abuyafi Ranaatmaja, Kepala SMP Negeri 1 Cilongok, Kabupaten Banyumas. Buku tersebut bukan sekadar kumpulan puisi biasa, melainkan hasil kontemplasi panjang yang dirangkai selama hampir tiga tahun oleh penulisnya. Cetakan ketiga buku ini diterbitkan dengan penerbit baru setelah dua cetakan sebelumnya ludes di pasaran.

“Buku saya tulis kurang lebih tiga tahun, Pak. Setiap hari minimal satu nomor. Awalnya ditargetkan seribu nomor, tapi tidak kesampaian,” ujar Trisnatun saat dihubungi redaksi, Kamis (26/6). Ia menambahkan bahwa proses menulis dimulai dari puisi nomor satu tanpa ingat lagi tanggal pasti ia memulainya. Namun yang pasti, tekad untuk menulis datang dari dorongan kuat untuk mewujudkan literasi dan terus berimajinasi. “Motivasi saya menulis untuk literasi dan terus berimajinasi,” imbuhnya.

Buku Jonggrang berisi 887 puisi yang ditulis dengan gaya lirik yang kaya metafora dan imaji, menghadirkan sosok imajiner Bandung dan Jonggrang yang berdialog tentang berbagai hal, dari cinta hingga pertanyaan eksistensial. Cetakan pertamanya berhasil terjual 300 eksemplar dengan harga @300 ribu, mendatangkan royalti sebesar Rp90 juta bagi penulis. Bagi Trisnatun, itu bukan hanya angka, melainkan bukti bahwa puisi masih memiliki tempat di hati pembaca.

Sastrawan nasional Gola Gong turut memberikan apresiasi dengan menulis kata pengantar yang tajam dan reflektif. Ia menyebut buku ini sebagai kisah cinta pedih yang sulit dibedakan antara kenyataan dan fiksi, seperti kisah Romeo-Juliet di Verona atau Vanessa-Bibit di Indonesia. “Membaca buku 1000 puisi berjudul Jonggrang karya Trisnatun ini, siapakah Jonggrang yang disapa hanya dengan ‘Nggrang’? Apakah Puteri Raja Baka di legenda rakyat Jawa Tengah, atau ini kisah romantis penulis dengan seseorang di kehidupan nyata?” tulis Gola Gong dalam kata pengantarnya.

Menurut Gola Gong, menulis 887 puisi merupakan capaian heroik yang memerlukan stamina kreatif dan ketahanan fisik luar biasa. Ia mengapresiasi keberanian Trisnatun berpindah-pindah dari legenda ke realitas masa kini, bahkan melibatkan kisah cinta segitiga legendaris seperti Rama–Sinta–Rahwana. “Buku ini ditutup dengan pertanyaan tentang makna cinta sejati. Milik siapakah?” pungkasnya.

Sementara itu, Nana Sastrawan, seorang penulis dan sastrawan yang juga memberi pengantar dalam buku ini, memandang puisi-puisi Trisnatun sebagai bentuk kegelisahan batin yang memicu kreativitas. “Puisi bisa menjadi candu ketika kepekaan seseorang terpantik pada suatu objek. Ia akan menjelma kegelisahan yang tidak bisa dihentikan,” tulisnya.

Menurut Nana, puisi-puisi dalam Jonggrang bukan hanya hasil curahan emosi, tapi juga hasil dari observasi dan perenungan mendalam terhadap peristiwa, baik nyata maupun fiktif. Ia menilai, meskipun kental nuansa imajinatif, larik-larik puisi Trisnatun tetap mengandung hubungan erat antara estetika dan realitas yang bisa membentuk imaji dan perspektif pembaca. “Meskipun puisi-puisi ini terkesan imajiner, setiap lariknya menunjukkan hubungan erat antara emosi estetis dan wujud yang bertujuan, sehingga mampu menggerakkan pikiran atau cara pandang seseorang,” tulis Nana.

Lebih jauh, Nana menilai bahwa proses kreatif yang dilalui Trisnatun menunjukkan kedewasaan dalam menyusun karya. Ia mengibaratkan puisi-puisi tersebut sebagai candi yang tak pernah selesai dibangun, seperti kisah Jonggrang sendiri. “Namun, ia seperti masuk pada kisah Jonggrang; tak pernah selesai seribu candi pada waktu semalam, puisi-puisi ini pun hanya mampu menjadi delapan ratusan jumlahnya, dan juga tak akan pernah selesai untuk dimaknai secara keseluruhan, perlu pisau tajam untuk dibedah,” tutupnya.

Di luar perannya sebagai kepala sekolah dan penulis, Trisnatun juga aktif sebagai sekretaris di komunitas Sastra Pinggiran Ajibarang, sebuah komunitas sastra yang mewadahi para pegiat literasi di Banyumas. Komunitas ini digawangi oleh Kang Wanto Tirta yang dikenal sebagai “Presiden Geguritan” di wilayah itu. Keberadaan komunitas tersebut menjadi ruang tumbuh bagi penyair-penyair dari pinggiran, yang tetap konsisten bersuara meski tak selalu mendapat sorotan utama.

Bagi pembaca yang berminat menambah koleksi buku puisi atau ingin menyelami cinta, kegelisahan, dan imajinasi dalam larik-larik Jonggrang, buku ini masih tersedia dan dapat dipesan melalui nomor kontak 0812 2814 0346. Buku Jonggrang karya Trisnatun bukan sekadar kumpulan puisi, tetapi juga jendela menuju dunia batin seorang pendidik yang memilih puisi sebagai jalan mengabadikan kisah, rasa, dan harapan.

4 Komentar

Anjar
Kamis, 26 Jun 2025

Bapak inspiratif untuk kami, yg tidak pernah putus memberikan motivasi untuk meningkatkan literasi membaca dan menulis. Terima kasih pak Trisnatun, semoga tetap selalu berkarya dan sehat selalu. 🙏

Balas
Usman Setiadi
Kamis, 26 Jun 2025

Lanjutkan terus asah lebih mendalam kemampuan mu menulis, karena itu talenta yang tidak dimiliki oleh semua orang,saya bangga punya adik yang diberikan kemampuan oleh Allah swt sebagai seorang satrawan, maju terus untuk dunia literasi, karena semua akan nenghasilkan yang terbaik

Balas
Usman Setiadi
Kamis, 26 Jun 2025

Lanjutkan terus asah lebih mendalam kemampuan mu menulis, karena itu talenta yang tidak dimiliki oleh semua orang,saya bangga punya adik yang diberikan kemampuan oleh Allah swt sebagai seorang satrawan, maju terus untuk dunia literasi, karena semua akan nenghasilkan yang terbaik

Balas
Ika Patte
Kamis, 26 Jun 2025

Saya sudah membaca buku tersebut dan kagum dengan imajinasi dari Mas Trisnatun. Tulisan yang bukan semata hasil mengkhayal, tapi juga pendalaman sejarah dan rasa kedua tokoh.
Konsistensi dan komitmen menulis ratusan puisi cinta yang pedih juga dua hal yang saya kagumi.
Bravo, Mas Trisnatun!

Balas

Beri Komentar

Balasan