SEMARANG-Suasana di SMK Negeri 10 Semarang berubah menjadi lebih syahdu setiap kali adzan Dhuhur berkumandang. Siswa dan guru berbondong-bondong menuju aula sekolah, bukan hanya untuk menunaikan kewajiban, tetapi juga untuk memperkokoh kebersamaan dalam ibadah. Tradisi Sholat Dhuhur berjamaah yang telah mengakar di sekolah ini menjadi bukti nyata bagaimana nilai-nilai spiritual dapat terjalin erat dalam proses pendidikan. Tak heran, inisiatif ini mendapat apresiasi tinggi dari Pengawas Pendidikan Agama Islam (PAI), Muhammad Faojin, yang mengunjungi sekolah tersebut pada Selasa, 11 Maret 2025.
“Saya sangat mengapresiasi langkah SMKN 10 Semarang dalam mengintegrasikan aspek spiritual ke dalam kegiatan belajar mengajar,” ujar Faojin seusai memberikan tausiyah singkat. “Ini adalah terobosan luar biasa karena tidak semua sekolah mampu menjadikan ibadah sebagai bagian integral dari pendidikan.”
Bulan Ramadan, yang penuh berkah dan ampunan, menjadi momentum bagi umat Islam untuk meningkatkan ketakwaan. Di SMKN 10 Semarang, Ramadan tak hanya menjadi ajang berpuasa, tetapi juga diisi dengan berbagai program religius yang memperkuat karakter siswa. Selain Sholat Dhuhur berjamaah, sekolah ini menggelar tadarus Al-Qur’an, pembelajaran tausiyah, serta kegiatan bersholawat bersama. Semua program ini dirancang untuk membawa siswa lebih dekat kepada Allah SWT sekaligus membangun kebiasaan baik yang berakar kuat dalam kehidupan mereka.
“Melalui kegiatan ini, siswa tidak hanya mendapatkan ilmu dunia, tetapi juga memperkaya batin mereka,” jelas Faojin. “Dengan membaca Al-Qur’an, mereka menyerap nilai-nilai kehidupan yang luhur. Dengan sholat berjamaah, mereka belajar disiplin dan kekhusyukan. Dan dengan belajar tausiyah, mereka berlatih menyampaikan kebaikan kepada orang lain.”
Selain itu, Faojin menekankan pentingnya kemandirian dalam menjalankan ibadah puasa, terutama dalam membiasakan diri untuk bangun sahur tanpa perlu dibangunkan oleh orang tua. “Bangun sahur adalah ujian pertama dalam kedisiplinan berpuasa,” katanya. “Jika seorang anak terbiasa bangun sendiri untuk sahur, itu berarti ia sedang melatih tanggung jawab dan kesadaran akan ibadahnya. Ini adalah langkah awal dalam membentuk karakter mandiri dan tangguh.”
Orang tua tentu berperan dalam membimbing anak-anaknya, tetapi membentuk kemandirian spiritual adalah tugas bersama antara keluarga dan sekolah. “Mari kita dorong anak-anak untuk lebih mandiri dalam menjalankan ibadah, termasuk dalam kebiasaan sahur,” tambah Faojin.
Sebagai bagian dari program Ramadan, usai Sholat Dhuhur berjamaah, siswa dan guru mendapatkan siraman rohani melalui kuliah tujuh menit (kultum) yang disampaikan oleh pengawas PAI atau guru SMKN 10 Semarang. Kultum ini menjadi momen yang ditunggu-tunggu karena memberikan motivasi serta panduan praktis dalam meningkatkan kualitas ibadah selama Ramadan.
“Kultum ini adalah sarana yang sangat efektif untuk menyampaikan pesan kebaikan,” ujar Faojin. “Dalam waktu singkat, kami bisa berbagi nasihat yang membangun, seperti pentingnya menjaga lisan, bersikap sabar saat berpuasa, dan merutinkan tilawah Al-Qur’an.”
Respon positif pun datang dari para siswa. Rafli, siswa kelas XII, mengungkapkan kebahagiaannya mengikuti program ini. “Saya merasa lebih tenang dan termotivasi setelah mendengarkan tausiyah,” ujarnya. “Setiap hari ada pelajaran baru yang bisa saya terapkan dalam kehidupan.”
Tak hanya siswa, guru-guru juga merasakan dampak positif dari program ini. Muslim Anwar, salah satu guru PAI SMKN 10 Semarang, mengungkapkan bahwa sejak program religius ini berjalan, ia melihat perubahan yang signifikan dalam sikap siswa. “Mereka lebih disiplin, lebih santun terhadap guru, dan semakin antusias dalam kegiatan keagamaan,” katanya.
Dengan semangat Ramadan yang membara, SMKN 10 Semarang terus berupaya menciptakan lingkungan sekolah yang tidak hanya berorientasi pada prestasi akademik, tetapi juga membangun karakter yang berlandaskan nilai-nilai agama. Sholat Dhuhur berjamaah, tadarus Al-Qur’an, tausiyah, dan sholawat bersama bukan hanya sekadar kegiatan seremonial, melainkan investasi jangka panjang dalam membentuk generasi yang berakhlak mulia.
“Semoga di bulan Ramadan ini, kita semua dapat meraih ridha Allah SWT, mendapatkan ampunan-Nya, dan kembali suci di hari kemenangan, Idul Fitri,” harap Faojin penuh keyakinan.
Dengan langkah-langkah kecil yang penuh makna, SMKN 10 Semarang menunjukkan bahwa pendidikan sejati bukan hanya soal kecerdasan intelektual, tetapi juga tentang membangun spiritualitas yang kokoh. Ramadan di sekolah ini bukan hanya menjadi bulan puasa, tetapi juga bulan pencerahan bagi setiap insan yang ada di dalamnya. Aamiin ya rabbal ‘alamin.

Beri Komentar