Semarang, Rabu 04 Maret 2026. Suasana hikmat dan penuh kekhidmatan menyelimuti Aula SMK Negeri 10 Semarang pada siang hari ini, tepatnya saat waktu Dzuhur tiba. Ratusan siswa-siswi dari berbagai jurusan, beserta dewan guru dan karyawan sekolah, berkumpul dengan rapi mengenakan pakaian muslim dan seragam sekolah mereka untuk melaksanakan Shalat Jamaah Dzuhur berjamaah. Kegiatan rutin keagamaan ini bukan sekadar gugur kewajiban, melainkan menjadi momen strategis bagi sekolah untuk menanamkan nilai-nilai karakter dan keimanan di tengah derasnya arus informasi global yang semakin kompleks. Bertindak sebagai imam dalam shalat berjamaah ini adalah Muslim Anwar, S.Ag, yang memimpin ratusan jamaah dengan bacaan yang fasih dan tartil, menciptakan ketenangan bagi seluruh peserta yang hadir.
Usai melaksanakan shalat wajib, acara dilanjutkan dengan sesi Kultum atau Kuliah Tujuh Menit yang menjadi inti dari kegiatan keagamaan siang itu. Penceramah yang dipercaya untuk menyampaikan pesan spiritual kali ini adalah Antar Subandana, S.Pd. Dalam penyampaianannya, Antar Subandana membuka ceramah dengan ucapan hamdalah dan puji syukur ke hadirat Allah SWT, Tuhan semesta alam, atas segala limpahan nikmat-Nya, baik nikmat iman, Islam, maupun kesehatan, sehingga kita masih diberikan kesempatan untuk hadir dalam majelis ilmu yang penuh berkah ini. Shalawat serta salam senantiasa tercurah kepada junjungan kita, Nabi Besar Muhammad SAW, beserta keluarga, sahabat, dan pengikutnya yang istiqomah hingga akhir zaman, dengan harapan semoga kita semua mendapatkan syafaatnya sampai di Yaumil Kiyamah.
Dalam atmosfer yang serius namun menyentuh hati, Antar Subandana menyapa hadirin dengan penuh kehangatan. Yang kami hormati para alim ulama, bapak dan ibu guru beserta karyawan SMK N 10 Semarang, serta anak-anaku siswa siswi SMK N 10 Semarang semua Jurusan yang saya cintai dan saya banggakan. Ia menekankan bahwa kehadiran mereka di aula ini adalah bentuk ketaatan yang patut diapresiasi. Alhamdulillah Puji syukur kita panjatkan ke hadirat Allah SWT, yang telah menggerakkan hati kita untuk melangkah ke aula ini, meninggalkan sejenak aktivitas teknis dan belajar, untuk bersujud memenuhi panggilan-Nya. Pesan ini menjadi pengingat penting bagi siswa SMK yang biasanya sibuk dengan praktik kejuruan, bahwa keseimbangan antara keterampilan teknis dan spiritualitas adalah kunci keberhasilan hidup.
Masuk ke inti materi, penceramah mengangkat isu yang sedang hangat diperbincangkan di seluruh dunia, yakni situasi geopolitik yang memanas. Anak Anakku jamaah solat duhur yang dirahmati Allah, Hari ini, kita hidup di era di mana informasi begitu cepat sampai ke genggaman kita. Saat kita membuka media sosial, berita yang mendominasi adalah eskalasi konflik di Timur Tengah—ketegangan yang melibatkan Iran, Israel, dan Amerika Serikat. Antar Subandana menjelaskan bahwa Perang ini bukan sekadar berita, tapi nyata dampaknya terasa hingga ke Tanah Air. Mulai dari potensi inflasi ekonomi hingga kekhawatiran akan krisis kemanusiaan. Sebagai pelajar SMK, pertanyaannya adalah: “Apa hubungannya dengan kita? Mengapa kita harus peduli?” Dengan tegas ia menjawab sendiri pertanyaan retoris tersebut bahwa Jawabannya adalah : SANGAT BERKAITAN. Karena kita generasi penerus bangsa yang beriman. Dan iman kita menuntut kita untuk peduli.
Konflik tersebut menurutnya bukan hanya masalah tanah atau kekuasaan, tetapi sudah menjadi fitnah akhir zaman. Untuk memperkuat argumen tersebut, ia mengutip sabda Nabi Muhammad Rasulullah SAW yang sudah bersabda, “Akan datang kepada manusia suatu zaman di mana orang yang berpegang teguh pada agamanya seperti orang yang menggenggam bara api.” (HR. Tirmidzi). Hadis tersebut bermakna akan datang zaman di mana mempertahankan keimanan, syariat, dan sunnah Nabi menjadi sangat berat, penuh fitnah, dan tantangan. Istiqomah di jalan yang benar terasa menyakitkan dan berisiko, layaknya memegang bara api yang panas, namun tetap harus bertahan demi keselamatan akhirat. Di tengah situasi ini, kita rentan terhadap berita bohong atau hoaks, kebencian, apatis, atau justru ikut-ikutan menyebarkan perpecahan tanpa ilmu. Oleh karena itu, kita butuh dua hal utama: yaitu Iman yang Kokoh dan Akhlak yang Mulia.
Di tengah dunia yang panas oleh konflik, menjadi generasi yang beriman dan berakhlak adalah “benteng pertahanan” terbaik. Bagaimana caranya? Caranya adalah dengan Memperkuat Akidah atau Iman sebagai pondasi. Saat dunia tidak aman, iman adalah pelindung. Yakinlah bahwa segala sesuatu terjadi atas izin Allah. Konflik global mengingatkan kita bahwa dunia ini fana. Tugas kalian sebagai pelajar adalah meningkatkan ketakwaan agar tidak mudah terombang-ambing oleh berita bohong atau propaganda yang memecah belah. Iman mengajarkan kita bahwa kekuasaan tertinggi hanyalah milik Allah. Allah SWT berfirman dalam QS. Ali ‘Imran ayat 139, “Janganlah kamu bersikap lemah, dan janganlah (pula) kamu bersedih hati, padahal kamulah orang-orang yang paling tinggi (derajatnya), jika kamu orang-orang yang beriman.” Kalimat tersebut bermakna perintah Allah agar orang beriman tidak pesimis, lemah mental, atau larut dalam kesedihan atas kegagalan atau ujian. Ayat ini menegaskan bahwa derajat orang mukmin paling tinggi di sisi Allah selama mereka teguh beriman dan bangkit. Iman membuat kita tidak mudah ikut-ikutan, tidak gampang putus asa, dan selalu berprasangka baik pada takdir Allah.
Poin kedua yang disampaikan secara mengalir adalah mengenai pentingnya Menjaga Akhlak Mulia atau Moralitas. Perang terjadi karena hilangnya akhlak: tamak, sombong, dan tidak menghargai nyawa manusia. Kita di sini, di sekolah, harus memupuk hal yang sebaliknya: yaitu rendah hati, jujur, disiplin, peduli sesama, dan menghormati orang lain. Akhlak mulia adalah cerminan dari iman yang kuat. Selanjutnya, penceramah menyoroti kebiasaan generasi muda dalam era digital melalui poin Cerdas Bersosial Media dan Kritis Berpikir. Anak SMK adalah generasi teknologi. Saat melihat berita perang, jangan ikut menyebarkan kebencian atau video sadis. Jadilah agen perdamaian. Saring sebelum sharing. Gunakan teknologi untuk belajar dan meningkatkan skill, bukan untuk menyebarkan permusuhan. Hal ini sangat relevan bagi siswa SMK N 10 Semarang yang memang dibekali kompetensi teknologi informasi dan komunikasi.
Tidak lupa, Antar Subandana menekankan aspek Solidaritas dan Doa sebagai bentuk Solidaritas Kemanusiaan. Tugas kita adalah Mendoakan keselamatan umat Muslim di mana pun melalui Qunut Nazilah, serta membantu sebisa mungkin berupa infaq atau donasi resmi. Rasulullah SAW bersabda, “Orang mukmin yang paling sempurna imannya adalah yang paling baik akhlaknya.” (HR. Tirmidzi). Hadits riwayat Tirmidzi tersebut, menegaskan bahwa kualitas iman seseorang berbanding lurus dengan perilakunya. Akhlak mulia merupakan bukti nyata kesempurnaan iman, di mana orang yang paling baik imannya, baik kepada orang lain, dan beradab adalah yang paling dicintai Allah dan Rasul-Nya. Islam mengajarkan kita untuk peduli pada sesama muslim dan kemanusiaan. MUI menyerukan untuk memperbanyak doa dan solidaritas bagi mereka yang tertindas. Sesuai anjuran, mari kita selipkan doa untuk kedamaian dan pertolongan Allah bagi saudara-saudara kita yang berada dalam kesulitan.
Sebagai Penutup atau Kesimpulan dalam ceramah saya kali ini adalah, Kepada anak anakku, siswan siwi SMKN 10 Semarang yang cantik-cantik dan tampan-tampan. yang saya banggakan. Saya berpesan. Masa depan bangsa dan agama ini ada di tangan kalian. Jadilah anak SMK yang tidak hanya jago teknik, jago mesin, jago manajemen, jago komputer, jago las atau jago kapal tetapi juga jago imannya dan mulia akhlaknya. Semoga Allah SWT senantiasa memberikan perlindungan kepada kita, memberikan petunjuk agar kita menjadi pemuda-pemudi yang berakhlakul karimah, dan menjadikan Indonesia negara yang aman dan damai serta makmur dan Sejahtera yang adil dan merata. Pesan penutup ini disambut dengan tepuk tangan meriah dan anggukan setuju dari seluruh jamaah yang hadir, menandakan bahwa materi yang disampaikan benar-benar meresap ke dalam hati para siswa.
Kegiatan Shalat Jamaah Dzuhur yang digelar pada Rabu 04 Maret 2026 ini menunjukkan komitmen kuat SMK N 10 Semarang dalam membentuk lulusan yang tidak hanya kompeten secara keahlian tetapi juga matang secara spiritual. Peran imam Muslim Anwar, S.Ag dan penceramah Antar Subandana, S.Pd menjadi sangat vital dalam mengarahkan mindsight siswa agar tidak terbawa arus negatif global. Dengan adanya kegiatan seperti ini, diharapkan siswa-siswi SMK N 10 Semarang dapat menjadi agen perubahan yang membawa kedamaian, dimulai dari lingkungan sekolah hingga ke masyarakat luas. Doa bersama yang dipanjatkan di akhir acara menjadi penutup yang manis, mengikat semua harapan untuk keselamatan dunia dan akhirat, serta keberkahan bagi bangsa Indonesia di masa mendatang.
Masyaallah Mantap Pak Ardan 👍👍👍
Dan Selamat atas dilantiknya Pak Ardan menjadi Kepala SMKN Jateng semoga semakin sukses🤲🤲🤲❤️
Beri Komentar