Semarang — Upaya penguatan tata kelola pendidikan yang berintegritas terus digencarkan Pemerintah Provinsi Jawa Tengah melalui Kantor Cabang Dinas Pendidikan Wilayah II. Hal ini ditandai dengan kegiatan Peresmian Laboratorium Sekolah Berintegritas (SBI) sekaligus Sosialisasi, Internalisasi, dan Penyusunan Rencana Aksi SBI yang digelar pada Selasa, 21 April 2026, pukul 09.00 hingga 12.00 WIB di SMKN 1 Semarang. Kegiatan ini dihadiri oleh Kepala Dinas Pendidikan Provinsi Jawa Tengah, Kepala Cabang Dinas (Cabdin) II, jajaran pejabat Cabdin II, serta Pembina Kompak API.
Acara tersebut menjadi momentum penting dalam mendorong implementasi program Sekolah Berintegritas (SBI) secara menyeluruh di lingkungan SMA, SMK, dan SLB negeri di Jawa Tengah. Dalam sambutannya, Kepala Cabang Dinas II, Haris Wahyudi, S.Pd., M.Pd., menegaskan bahwa mulai tahun 2026 seluruh satuan pendidikan negeri wajib mengimplementasikan SBI sebagai bagian dari komitmen peningkatan kualitas pendidikan yang transparan dan akuntabel.
“Mulai tahun 2026, semua SMA, SMK, dan SLB negeri menjadi Sekolah Berintegritas. Ini bukan sekadar program, tetapi gerakan bersama untuk membangun budaya integritas di lingkungan pendidikan,” ujar Haris di hadapan peserta kegiatan. Ia menambahkan bahwa setiap sekolah harus segera menyusun dan menerapkan rencana aksi SBI sebagai langkah konkret dalam mewujudkan tata kelola yang bersih dan berintegritas.
Haris juga memberikan penekanan khusus kepada para kepala sekolah untuk menunjukkan komitmen personal terhadap integritas. Salah satu bentuknya adalah dengan membuat satu kalimat integritas yang akan digunakan sebagai perkenalan di grup komunikasi resmi, yakni WA “Pendekar 2”. “Integritas bukan hanya slogan, tetapi harus menjadi bagian dari individu sekaligus organisasi. Komitmen itu harus terlihat, bahkan dari hal sederhana seperti cara kita memperkenalkan diri,” tegasnya.
Dalam kesempatan tersebut, ia juga menetapkan target waktu pengumpulan rencana aksi SBI, yakni paling lambat akhir April 2026. Target ini diharapkan mampu mempercepat proses implementasi sekaligus memastikan seluruh sekolah bergerak serentak dalam satu arah kebijakan.
Sementara itu, Pembina Kompak API, Kunto Nugroho HP, memberikan motivasi kepada peserta agar tidak memandang SBI sebagai program yang terpisah dari aktivitas sekolah. Menurutnya, integritas harus terinternalisasi dalam setiap aspek kegiatan pendidikan. “SBI tidak boleh didikotomi sebagai program tambahan. Justru harus terintegrasi dalam seluruh kegiatan sekolah, mulai dari pembelajaran hingga pengelolaan administrasi,” ujarnya.
Ia menekankan bahwa keberhasilan SBI sangat bergantung pada kesadaran kolektif seluruh warga sekolah, bukan hanya pimpinan. Oleh karena itu, diperlukan pendekatan yang menyeluruh dan berkelanjutan agar nilai-nilai integritas benar-benar menjadi budaya.
Penguatan pemahaman teknis terkait implementasi SBI disampaikan oleh Penyuluh Anti Korupsi Kompak API Jawa Tengah, Dr. Nurzahroh Lailyah, S.E., M.E. Dalam paparannya, ia menjelaskan bahwa pelaksanaan SBI dapat mengacu pada dokumen resmi “Panduan Tata Kelola Sekolah Berintegritas” sebagai rujukan utama. Panduan tersebut memuat prinsip, indikator, serta langkah-langkah praktis dalam membangun sistem sekolah yang transparan, akuntabel, dan bebas dari praktik korupsi.
“Panduan ini dirancang agar sekolah memiliki acuan yang jelas dalam menerapkan SBI. Mulai dari perencanaan, pelaksanaan, hingga evaluasi, semuanya sudah dirumuskan secara sistematis,” jelas Nurzahroh. Ia juga mengingatkan pentingnya konsistensi dalam menjalankan rencana aksi agar tidak berhenti pada tahap perencanaan semata.
Kegiatan ini tidak hanya bersifat seremonial, tetapi juga menjadi ruang konsolidasi bagi para pemangku kepentingan pendidikan untuk menyamakan persepsi dan langkah strategis. Kehadiran Kepala Dinas Pendidikan Provinsi Jawa Tengah beserta jajaran pejabat lainnya menunjukkan dukungan penuh pemerintah terhadap program ini.
Dengan diresmikannya Laboratorium SBI di SMKN 1 Semarang, diharapkan sekolah tersebut dapat menjadi role model bagi satuan pendidikan lainnya dalam mengimplementasikan nilai-nilai integritas secara nyata. Laboratorium ini juga diharapkan menjadi pusat pembelajaran dan praktik baik yang dapat direplikasi oleh sekolah lain di wilayah Jawa Tengah.
Melalui kegiatan ini, Cabdin II optimistis bahwa transformasi menuju sekolah berintegritas dapat terwujud secara menyeluruh. Komitmen, kolaborasi, dan konsistensi menjadi kunci utama dalam membangun budaya integritas yang tidak hanya berdampak pada lingkungan sekolah, tetapi juga pada karakter generasi muda di masa depan.

Beri Komentar