SEMARANG – Program Lantip 8 Universitas Negeri Semarang (Unnes) menjadi ruang bagi mahasiswa untuk menerapkan pengetahuan dan keterampilan yang diperoleh selama perkuliahan sekaligus mengenal secara langsung dinamika pembelajaran di lingkungan sekolah. Melalui program tersebut, mahasiswa Program Studi Pendidikan Seni Tari, Fakultas Bahasa dan Seni Universitas Negeri Semarang, melaksanakan praktik kependidikan di SMK Negeri Jawa Tengah di Semarang.
Program Lantip 8 Unnes merupakan bagian dari tugas akademik mahasiswa Program Studi Pendidikan Seni Tari dalam mempersiapkan calon pendidik yang memiliki kemampuan pedagogis, profesional, serta mampu beradaptasi dengan kebutuhan peserta didik. Pengetahuan yang diperoleh selama mengikuti perkuliahan kemudian diimplementasikan dalam kegiatan pembelajaran di sekolah dengan tetap memperhatikan perangkat pembelajaran, karakteristik peserta didik, serta ketentuan yang berlaku di SMK Negeri Jawa Tengah di Semarang.
Kegiatan tersebut sekaligus memberikan pengalaman nyata kepada mahasiswa mengenai bagaimana proses pembelajaran berlangsung di lingkungan sekolah. Tidak hanya berkaitan dengan penyampaian materi, mahasiswa juga belajar mengenai pengelolaan kelas, komunikasi dengan peserta didik, penyusunan perangkat pembelajaran, hingga bagaimana melakukan penyesuaian strategi pembelajaran berdasarkan kondisi yang ditemui di lapangan.
Dalam pelaksanaan Program Lantip 8, mahasiswa mendapatkan pendampingan dari Ayu Setyorini, S.Pd., selaku guru Seni Budaya sekaligus guru pamong. Pendampingan tersebut menjadi bagian penting dalam proses pembentukan pengalaman profesional mahasiswa sebelum nantinya mereka terjun secara lebih luas sebagai pendidik.
Ayu Setyorini mendampingi mahasiswa dalam memahami berbagai aspek pembelajaran Seni Budaya di sekolah. Melalui proses tersebut, mahasiswa tidak hanya memperoleh kesempatan untuk mempraktikkan teori yang dipelajari di kampus, tetapi juga belajar dari pengalaman langsung guru dalam menghadapi berbagai situasi pembelajaran.
Rangkaian Program Lantip 8 di SMK Negeri Jawa Tengah di Semarang diawali dengan kegiatan penerjunan mahasiswa pada 10 September 2026. Setelah itu, mahasiswa melaksanakan observasi sekolah pada 11 dan 14 September 2026 sebagai tahap awal untuk mengenali lingkungan sekolah, karakteristik peserta didik, serta berbagai hal yang berkaitan dengan pelaksanaan pembelajaran.
Tahapan berikutnya adalah asistensi mengajar yang dilaksanakan pada 15–18 September 2026. Dalam tahap ini mahasiswa mulai terlibat dalam proses pembelajaran dengan memperoleh arahan dan pendampingan dari guru pamong.
Setelah menjalani asistensi, mahasiswa melaksanakan praktik pembelajaran terbimbing mulai 21 September 2026 sampai 2 Oktober 2026. Tahap ini memberikan kesempatan kepada mahasiswa untuk mempraktikkan kemampuan mengajar dengan tetap mendapatkan bimbingan dari guru pamong.
Selanjutnya, mahasiswa akan memasuki tahap praktik mengajar secara lebih mandiri pada 5–23 Oktober 2026. Tahap tersebut menjadi bagian penting dalam proses pembelajaran mahasiswa karena mereka mulai mendapatkan pengalaman yang lebih utuh dalam merencanakan, melaksanakan, dan mengevaluasi pembelajaran.
Rangkaian kegiatan kemudian dilanjutkan dengan persiapan dan pelaksanaan ujian pada 26 Oktober sampai 2 November 2026. Keseluruhan tahapan tersebut dirancang sebagai proses pembelajaran bagi mahasiswa agar mampu mengembangkan kompetensi sebagai calon pendidik.
Dalam pembelajaran Seni Budaya kelas X, mahasiswa melanjutkan materi yang sebelumnya telah diberikan oleh guru pamong. Materi tersebut kemudian dikembangkan berdasarkan rencana pembelajaran yang telah disusun dengan mempertimbangkan kebutuhan dan kondisi peserta didik.
Pembelajaran tidak diarahkan hanya pada kemampuan peserta didik dalam memahami materi secara teoritis. Mahasiswa juga didorong untuk menghadirkan aktivitas yang membuat peserta didik mampu mengamati, berpikir, berdiskusi, serta menghubungkan materi pembelajaran dengan konteks seni dan budaya yang ada di lingkungan mereka.
Salah satu materi yang akan diperkenalkan dalam proses pembelajaran adalah Pengetahuan Wayang. Materi tersebut mencakup pengertian wayang, berbagai jenis wayang, tokoh-tokoh dalam pewayangan, hingga cerita yang berkembang dalam kebudayaan Indonesia.
Ayu Setyorini mengatakan, materi Pengetahuan Wayang menjadi salah satu tambahan pengalaman belajar bagi peserta didik yang dapat dikembangkan melalui aktivitas pembelajaran yang interaktif.
“Sebagai tambahan pengalaman belajar, mahasiswa juga akan memperkenalkan materi mengenai Pengetahuan Wayang, mulai dari pengertian, jenis, tokoh, hingga cerita yang berkembang dalam kebudayaan Indonesia,” ujar Ayu.
Menurutnya, materi tersebut akan dipadukan dengan berbagai aktivitas interaktif agar peserta didik tidak hanya menerima informasi dari guru, tetapi juga terlibat aktif dalam proses pembelajaran.
Pembelajaran yang interaktif diharapkan dapat menciptakan suasana belajar yang lebih menarik bagi peserta didik. Pada saat yang sama, mahasiswa memperoleh pengalaman dalam merancang pembelajaran yang mampu menggabungkan penguasaan materi dengan aktivitas peserta didik.
Inovasi pembelajaran yang dikembangkan dalam Program Lantip 8 di SMK Negeri Jawa Tengah di Semarang diharapkan dapat memberikan pengalaman belajar yang lebih menarik, aktif, dan bermakna. Pendekatan tersebut sejalan dengan semangat pembelajaran mendalam yang mendorong peserta didik untuk tidak sekadar menghafal materi, tetapi memahami, mengolah, dan menghubungkan pengetahuan dengan konteks kehidupan.
Meski mahasiswa diberikan ruang untuk mengembangkan kreativitas dalam pembelajaran, pelaksanaannya tetap mengacu pada arahan guru pamong serta perangkat pembelajaran yang digunakan sekolah. Dengan demikian, inovasi yang dilakukan tetap berada dalam koridor tujuan pembelajaran dan kebutuhan peserta didik.
Bagi mahasiswa Program Studi Pendidikan Seni Tari Unnes, Program Lantip 8 menjadi kesempatan untuk menyalurkan ilmu yang telah diperoleh selama mengikuti perkuliahan. Pengalaman di sekolah juga menjadi sarana untuk mengembangkan kemampuan mengajar, membangun komunikasi dengan peserta didik, mengelola kelas, serta memahami tantangan yang dihadapi seorang pendidik dalam praktiknya.
Pengalaman tersebut menjadi penting karena dunia pendidikan tidak hanya membutuhkan penguasaan materi, tetapi juga kemampuan guru dalam menciptakan lingkungan belajar yang sesuai dengan karakteristik peserta didik. Melalui praktik langsung, mahasiswa dapat belajar bahwa teori pendidikan yang diperoleh di perguruan tinggi perlu disesuaikan dengan kondisi nyata di sekolah.
Sementara bagi SMK Negeri Jawa Tengah di Semarang, kehadiran mahasiswa Lantip 8 diharapkan dapat memberikan tambahan gagasan dan pengalaman dalam pengembangan pembelajaran Seni Budaya. Interaksi antara mahasiswa, guru pamong, dan peserta didik juga menjadi bagian dari proses berbagi pengalaman antara perguruan tinggi dan sekolah.
Pelaksanaan Program Lantip 8 Universitas Negeri Semarang di SMK Negeri Jawa Tengah di Semarang juga menunjukkan pentingnya hubungan antara perguruan tinggi dan sekolah dalam menyiapkan calon pendidik. Kampus memberikan bekal pengetahuan dan keterampilan, sedangkan sekolah menjadi ruang bagi mahasiswa untuk menguji sekaligus mengembangkan kemampuan tersebut dalam situasi nyata.
Melalui proses pendampingan guru pamong, mahasiswa memperoleh kesempatan untuk belajar dari pengalaman pendidik yang telah berhadapan langsung dengan berbagai karakteristik peserta didik. Sebaliknya, kehadiran mahasiswa dapat membawa perspektif dan gagasan baru yang dapat memperkaya proses pembelajaran di sekolah.
Lantip 8 pada akhirnya bukan sekadar kegiatan praktik mengajar bagi mahasiswa. Program ini menjadi proses pembelajaran dua arah yang mempertemukan pengetahuan akademik dari perguruan tinggi dengan pengalaman praktis di sekolah.
Melalui Program Lantip 8, mahasiswa diharapkan semakin siap menjalankan peran sebagai calon pendidik yang mampu beradaptasi, kreatif, bertanggung jawab, dan terbuka terhadap proses belajar sepanjang hayat. Pengalaman selama berada di SMK Negeri Jawa Tengah di Semarang menjadi bekal penting bagi mahasiswa untuk memahami bahwa menjadi guru bukan hanya tentang menyampaikan pengetahuan, tetapi juga tentang membangun hubungan pembelajaran yang mampu membantu peserta didik berkembang secara optimal.
Penulis : Dinda Cahyaning Wigati, Mahasiswa Lantip 8 UNNES

Beri Komentar