Jumat, 01-05-2026
  • Website Ardan Sirodjuddin menerima tulisan artikel Guru, Kepala Sekolah dan Praktisi Pendidikan dalam Kolom Tulisan SahabatWebsite Ardan Sirodjuddin menerima tulisan artikel Guru, Kepala Sekolah dan Praktisi Pendidikan dalam Kolom Tulisan SahabatWebsite Ardan Sirodjuddin menerima tulisan artikel Guru, Kepala Sekolah dan Praktisi Pendidikan dalam Kolom Tulisan SahabatWebsite Ardan Sirodjuddin menerima tulisan artikel Guru, Kepala Sekolah dan Praktisi Pendidikan dalam Kolom Tulisan SahabatWebsite Ardan Sirodjuddin menerima tulisan artikel Guru, Kepala Sekolah dan Praktisi Pendidikan dalam Kolom Tulisan Sahabat
  • Website Ardan Sirodjuddin menerima tulisan artikel Guru, Kepala Sekolah dan Praktisi Pendidikan dalam Kolom Tulisan SahabatWebsite Ardan Sirodjuddin menerima tulisan artikel Guru, Kepala Sekolah dan Praktisi Pendidikan dalam Kolom Tulisan SahabatWebsite Ardan Sirodjuddin menerima tulisan artikel Guru, Kepala Sekolah dan Praktisi Pendidikan dalam Kolom Tulisan SahabatWebsite Ardan Sirodjuddin menerima tulisan artikel Guru, Kepala Sekolah dan Praktisi Pendidikan dalam Kolom Tulisan SahabatWebsite Ardan Sirodjuddin menerima tulisan artikel Guru, Kepala Sekolah dan Praktisi Pendidikan dalam Kolom Tulisan Sahabat

Raymond Chin: SMK Harus Jadi Ujung Tombak SDM Indonesia Emas 2045

Diterbitkan : - Kategori : Berita / Instansi Pemerintah

Jakarta – Direktorat Sekolah Menengah Kejuruan (SMK) Kementerian Pendidikan, Kebudayaan, Riset, dan Teknologi RI menggelar webinar bertema “SMK Harus Kuat: Strategi Mental dan Bisnis untuk Menjawab Tantangan Dunia Kerja”, Senin (16/6). Acara ini menghadirkan narasumber inspiratif Raymond Chin, founder “Ternak Uang” sekaligus praktisi bisnis muda yang sukses membangun perusahaan berbasis digital.

Webinar ini merupakan bagian dari rangkaian “Level Up Webinar Series” yang dirancang untuk menumbuhkan growth mindset pada seluruh ekosistem SMK: kepala sekolah, guru, tenaga kependidikan, hingga siswa di seluruh Indonesia. “Hari ini kita tidak hanya bicara ijazah, tetapi bicara tentang mentalitas, adaptasi, dan kesiapan menghadapi dunia kerja yang terus berubah,” ujar Ari Wibowo Kurniawan, Direktur SMK Kemendikbudristek saat membuka acara.

Dalam paparannya, Raymond Chin menekankan bahwa bonus demografi yang akan mencapai puncaknya pada tahun 2045 merupakan peluang besar, namun juga menjadi tanggung jawab besar. “Ini bukan sekadar hak, tapi kewajiban. Kita hanya punya waktu lima tahun untuk mempersiapkan SDM agar bisa diserap oleh industri. Jika gagal, kita akan kehilangan momentum seumur hidup,” tegasnya.

Raymond menyebut SMK sebagai ujung tombak pembangunan SDM karena pendidikan vokasional memiliki keunggulan dalam kesiapan kerja. Namun ia menyoroti adanya mismatch skill atau ketidaksesuaian antara kompetensi lulusan dan kebutuhan industri. “Banyak pengusaha mengeluh sulit mencari karyawan yang siap kerja, padahal di sisi lain pencari kerja berjubel. Di sinilah peran SMK jadi krusial,” katanya.

Raymond juga menekankan pentingnya menggabungkan hard skill dengan soft skill serta kemampuan digital. “Sekarang bukan zamannya belajar dulu baru praktik. Justru praktik adalah cara belajar terbaik. SMK sudah punya keunggulan di teaching factory, tinggal dimaksimalkan agar siswa tidak hanya tahu teori, tapi juga mampu mengaplikasikan langsung,” jelasnya.

Tak kalah penting, menurutnya, adalah keberanian untuk bermigrasi dan melihat dunia secara lebih luas. “Kita hidup di era globalisasi paksa. Generasi muda harus berani keluar dari zona nyaman, karena peluang besar tidak selalu ada di sekitar kita. Tapi itu hanya bisa dilakukan jika kita sadar, mau, dan akhirnya mampu,” imbuh Raymond.

Direktur SMK, Ari Wibowo, juga menyoroti pentingnya literasi digital dalam berbagai bidang keahlian. Ia mencontohkan salah satu SMK di Pati yang telah menggunakan robot welding berbasis pemrograman. “Guru-guru yang tadinya hanya tahu pengelasan konvensional sekarang harus belajar coding. Ini tantangan, sekaligus peluang yang luar biasa,” ujarnya.

Lebih lanjut, Ari mengajak kepala sekolah dan guru untuk menjadi leader yang adaptif. “Sekolah tidak boleh terpaku pada kurikulum lama. Ketika industri butuh keahlian baru, sekolah harus cepat berubah. Kita sudah punya fleksibilitas kurikulum Merdeka, tinggal keberanian untuk mengambil keputusan,” ungkapnya.

Webinar yang diikuti ribuan peserta dari berbagai wilayah ini menjadi momentum penting dalam membangun kesadaran kolektif bahwa pendidikan SMK harus responsif terhadap dinamika dunia kerja dan perubahan global. “Kita bukan hanya ingin meluluskan pekerja, tapi juga mencetak wirausahawan. Dari SMK untuk Indonesia. SMK bisa, SMK hebat!” tutup Raymond disambut tepuk tangan peserta webinar.

Live video bisa dilihat disini :

0 Komentar

Beri Komentar

Balasan