Jumat, 01-05-2026
  • Website Ardan Sirodjuddin menerima tulisan artikel Guru, Kepala Sekolah dan Praktisi Pendidikan dalam Kolom Tulisan SahabatWebsite Ardan Sirodjuddin menerima tulisan artikel Guru, Kepala Sekolah dan Praktisi Pendidikan dalam Kolom Tulisan SahabatWebsite Ardan Sirodjuddin menerima tulisan artikel Guru, Kepala Sekolah dan Praktisi Pendidikan dalam Kolom Tulisan SahabatWebsite Ardan Sirodjuddin menerima tulisan artikel Guru, Kepala Sekolah dan Praktisi Pendidikan dalam Kolom Tulisan SahabatWebsite Ardan Sirodjuddin menerima tulisan artikel Guru, Kepala Sekolah dan Praktisi Pendidikan dalam Kolom Tulisan Sahabat
  • Website Ardan Sirodjuddin menerima tulisan artikel Guru, Kepala Sekolah dan Praktisi Pendidikan dalam Kolom Tulisan SahabatWebsite Ardan Sirodjuddin menerima tulisan artikel Guru, Kepala Sekolah dan Praktisi Pendidikan dalam Kolom Tulisan SahabatWebsite Ardan Sirodjuddin menerima tulisan artikel Guru, Kepala Sekolah dan Praktisi Pendidikan dalam Kolom Tulisan SahabatWebsite Ardan Sirodjuddin menerima tulisan artikel Guru, Kepala Sekolah dan Praktisi Pendidikan dalam Kolom Tulisan SahabatWebsite Ardan Sirodjuddin menerima tulisan artikel Guru, Kepala Sekolah dan Praktisi Pendidikan dalam Kolom Tulisan Sahabat

Refleksi dan Feed Back OJT 2 di SMA Sedes Sapientie Semarang, Guru Model Tuai Apresiasi

Diterbitkan : - Kategori : Berita

Semarang — Refleksi dan feed back kelas besar dilaksanakan setelah rangkaian open class OJT 2 Pelatihan Pembelajaran Mendalam Kelas G SMA Kota Semarang. Kegiatan ini berlangsung di SMA Sedes Sapientie Semarang pada Senin, 15 September 2025 mulai pukul 13.00 WIB.

Acara dimulai dengan sambutan hangat dari Kepala SMA Sedes Sapientie, FX Bagyo. Ia menyampaikan rasa syukur sekolahnya dapat menjadi tuan rumah kegiatan OJT 2. “Selamat datang di SMA Sedes Sapientie Semarang. Terima kasih karena sekolah kami dijadikan tempat OJT 2. Silakan ikuti kegiatan dengan santai saja,” ujarnya di hadapan para peserta.

Perwakilan fasilitator, Ardan Sirodjuddin, juga menyampaikan apresiasinya atas dukungan sekolah. “Kami mengucapkan terima kasih kepada SMA Sedes Sapientie Semarang yang telah memberikan layanan luar biasa kepada peserta OJT. Fasilitas dan sambutan yang diberikan sangat mendukung kelancaran kegiatan ini,” ungkapnya.

Usai pembukaan, acara dilanjutkan dengan refleksi dari tiga guru model yang tampil pada sesi open class, yakni Ryan Hidayat dari SMA Islam Terpadu Harapan Bunda, Lystia Aryanti Nurjannah dari SMA Negeri 7 Semarang, serta Agustinus Dheny Budiono Wibowo dari SMA Sedes Sapientie Semarang.

Lystia Aryanti Nurjannah, guru ekonomi dari SMA Negeri 7 Semarang, memaparkan pengalamannya mengajar materi tentang kelangkaan dengan model Problem Based Learning. Ia memadukan diskusi kelompok, presentasi, serta penggunaan aplikasi digital seperti Canva, Youtube, Waygroud untuk asesmen, dan Mentimeter untuk refleksi. “Tahapan pembelajaran saya usahakan runtut dari awal sampai akhir. Hanya saja, ada beberapa hal yang terlewat, seperti ice breaking dan kesimpulan bersama murid. Selain itu, presentasi kelompok sedikit over time karena diskusi berlangsung sangat seru,” jelasnya.

Lystia menambahkan bahwa kemitraan belajar dengan pihak luar sebenarnya sudah tertulis dalam Rencana Pembelajaran Mendalam (RPM), namun belum terlihat jelas saat pelaksanaan. “Ke depan, saya ingin menghadirkan data nyata dari BPS atau Pertamina agar pembelajaran lebih kontekstual. Semoga bisa lebih dimunculkan pada pertemuan selanjutnya,” ujarnya.

Sementara itu, Agustinus Dheny Budiono Wibowo, guru tuan rumah dari SMA Sedes Sapientie, merasa bersyukur bisa berperan sebagai guru model. “Saya banyak belajar dari mempersiapkan RPP, melaksanakan proses pembelajaran, hingga melakukan asesmen kepada murid. Harapannya, pengalaman ini bisa saya bagikan kepada bapak-ibu guru semua serta meningkatkan kemampuan saya dalam mengajar demi anak didik kita,” ungkap Dheny.

Ryan Hidayat dari SMA IT Harapan Bunda yang mengajar materi Kombinatorik juga menyampaikan refleksinya. Ia menekankan pentingnya memahami karakteristik murid sebelum merancang pembelajaran. “Penggunaan Problem Based Learning dengan role playing dan windows shopping berjalan dinamis dan mendorong partisipasi aktif murid. Metode ini membuat mereka menjadi pelaku aktif, bukan sekadar penerima informasi,” ujar Ryan.

Namun, Ryan juga menyadari ada hal-hal yang perlu diperbaiki. “Saya melewatkan penyampaian kemitraan lintas mata pelajaran yang sebenarnya penting. Selain itu, manajemen waktu yang kurang ketat membuat sesi refleksi terkesan terburu-buru. Ke depan, saya akan lebih disiplin dalam menyusun jadwal, mungkin dengan bantuan timer,” tambahnya. Ia menutup refleksi dengan mengutip pesan Tan Malaka: “Jadilah guru yang bukan hanya mengajarkan ilmu, tetapi juga menyulut semangat. Karena bangsa yang besar adalah bangsa yang tidak pernah berhenti belajar.”

Refleksi guru model ini kemudian ditanggapi oleh para observer dan fasilitator. Rochimudin dan Sugeng Nugroho memberikan feedback bahwa para guru model telah menampilkan performa yang baik dalam menerapkan pembelajaran mendalam. “Semua guru model sudah sangat bagus. Hanya saja manajemen waktu perlu diperkuat agar setiap tahap bisa berjalan sesuai alokasi,” terang salah satu fasilitator.

Fasilitator laonnya, Ardan Sirodjuddin, menilai kegiatan refleksi ini penting sebagai ruang belajar bersama. “Pembelajaran yang matang terbukti menciptakan pengalaman yang interaktif dan bermakna. Dengan refleksi seperti ini, para guru bisa saling menguatkan dan memperbaiki hal-hal teknis untuk pertemuan berikutnya,” jelas Ardan.

Kegiatan refleksi ini tidak hanya menjadi ajang evaluasi, tetapi juga wadah berbagi inspirasi antar guru. Setiap guru model menyampaikan kekuatan dan kekurangan yang dialaminya, sementara fasilitator dan observer memberi masukan yang membangun. Dengan demikian, pembelajaran mendalam bukan hanya menjadi konsep, tetapi benar-benar terwujud dalam praktik nyata di kelas.

Sebagai tuan rumah, FX Bagyo berharap kegiatan ini memberikan manfaat bagi semua pihak. “Kami senang SMA Sedes Sapientie bisa menjadi bagian dari proses ini. Semoga apa yang dibagikan dan dipelajari hari ini menjadi bekal berharga untuk mewujudkan pendidikan yang lebih baik di Semarang,” ujarnya menutup kegiatan.

Refleksi dan feedback OJT 2 ini menegaskan pentingnya kolaborasi, evaluasi, serta inovasi dalam dunia pendidikan. Dengan keterlibatan aktif guru, fasilitator, dan observer, kegiatan ini diharapkan menjadi langkah konkret menuju pembelajaran mendalam yang lebih relevan, kontekstual, dan berorientasi pada kebutuhan murid.

0 Komentar

Beri Komentar

Balasan