Jumat, 19-06-2026
  • Website Ardan Sirodjuddin menerima tulisan artikel Guru, Kepala Sekolah dan Praktisi Pendidikan dalam Kolom Tulisan SahabatWebsite Ardan Sirodjuddin menerima tulisan artikel Guru, Kepala Sekolah dan Praktisi Pendidikan dalam Kolom Tulisan SahabatWebsite Ardan Sirodjuddin menerima tulisan artikel Guru, Kepala Sekolah dan Praktisi Pendidikan dalam Kolom Tulisan SahabatWebsite Ardan Sirodjuddin menerima tulisan artikel Guru, Kepala Sekolah dan Praktisi Pendidikan dalam Kolom Tulisan SahabatWebsite Ardan Sirodjuddin menerima tulisan artikel Guru, Kepala Sekolah dan Praktisi Pendidikan dalam Kolom Tulisan Sahabat
  • Website Ardan Sirodjuddin menerima tulisan artikel Guru, Kepala Sekolah dan Praktisi Pendidikan dalam Kolom Tulisan SahabatWebsite Ardan Sirodjuddin menerima tulisan artikel Guru, Kepala Sekolah dan Praktisi Pendidikan dalam Kolom Tulisan SahabatWebsite Ardan Sirodjuddin menerima tulisan artikel Guru, Kepala Sekolah dan Praktisi Pendidikan dalam Kolom Tulisan SahabatWebsite Ardan Sirodjuddin menerima tulisan artikel Guru, Kepala Sekolah dan Praktisi Pendidikan dalam Kolom Tulisan SahabatWebsite Ardan Sirodjuddin menerima tulisan artikel Guru, Kepala Sekolah dan Praktisi Pendidikan dalam Kolom Tulisan Sahabat

Renungan Kepemimpinan dan Permohonan Maaf Menyentuh Hati Kepala SMK Negeri 10 Semarang dalam Sholat Dhuha Berjamaah

Diterbitkan : - Kategori : Berita

SEMARANG – Cahaya matahari pagi yang menerobos celah-celah jendela Aula SMK Negeri 10 Semarang seolah menjadi saksi bisu atas sebuah momen spiritual yang penuh makna pada Kamis, 05 Maret 2026. Ratusan guru, staf tata usaha, dan seluruh warga sekolah berkumpul dengan mengenakan pakaian muslim yang rapi untuk menunaikan Sholat Dhuha Berjamaah. Kegiatan rutin yang biasanya berlangsung khidmat ini, pagi itu terasa jauh lebih istimewa dan meninggalkan kesan mendalam bagi setiap yang hadir. Pasalnya, kultum atau kuliah tujuh menit yang menjadi inti renungan pagi tersebut tidak disampaikan oleh guru agama atau undangan eksternal, melainkan langsung oleh Kepala SMK Negeri 10 Semarang, Ardan Sirodjuddin. Suasana hening menyelimuti ruangan saat Ardan berdiri di depan mikrofon, siap menyampaikan pesan yang bukan sekadar nasihat biasa, melainkan sebuah refleksi kepemimpinan yang menyentuh relung hati paling dalam bagi seluruh civitas akademika yang hadir di ruangan berkapasitas besar tersebut.

Sebelum kultum dimulai, suasana kebatinan telah dibangun sejak awal melalui pelaksanaan sholat yang dipimpin oleh Imam Beni Legowo. Suara lantunan ayat suci Al-Qur’an yang dibaca dengan tartil oleh sang imam berhasil membawa seluruh jamaah masuk dalam zona ketenangan spiritual yang sulit digambarkan dengan kata-kata. Gerak-gerik sholat yang sinkron antara imam dan makmum mencerminkan kekompakan warga sekolah dalam beribadah kepada Tuhan Yang Maha Esa. Sholat Dhuha sendiri dikenal sebagai sholat orang-orang yang bertaubat dan sholat para awwabin, sehingga pemilihan waktu ini bukanlah kebetulan semata dalam agenda sekolah. Ada pesan tersirat bahwa sebelum memulai aktivitas akademik dan administratif seharian penuh, penyucian hati dan permohonan ampunan kepada Tuhan adalah prioritas utama yang harus diletakkan di atas segala urusan duniawi. Setelah salam dikumandangkan mengakhiri sholat, jamaah tidak langsung bubar untuk kembali ke kelas atau ruang kerja. Mereka tetap duduk bersila di atas karpet aula yang bersih, menunggu dengan antusias sesi berbagi pesan moral yang dijadwalkan menjadi puncak dari kegiatan pagi tersebut yang dinanti-nantikan.

Ardan Sirodjuddin melangkah pelan menuju podium sederhana yang telah disiapkan di sisi depan aula, menghadap langsung kepada ratusan mata yang menatapnya dengan penuh hormat. Ekspresinya tenang namun terlihat serius, menandakan bahwa ada beban pikiran yang ingin ia sampaikan kepada seluruh anak buahnya dengan sepenuh hati. Dalam pembukaan sambutannya, ia menyampaikan bahwa pada kesempatan yang singkat ini, izinkan saya menyampaikan sebuah renungan tentang tanggung jawab. Kalimat pembuka tersebut langsung menyita perhatian seluruh audiens yang hadir di Aula SMK Negeri 10 Semarang. Ardan menyadari bahwa dalam kesibukan mengelola institusi pendidikan sebesar SMK Negeri 10 Semarang, seringkali esensi dari sebuah kepemimpinan terlupakan oleh hiruk-pikuk target kurikulum, kegiatan sekolah, dan administrasi yang menumpuk. Ia ingin mengembalikan fokus semuanya pada fondasi utama, yaitu kesadaran akan tanggung jawab di hadapan Tuhan Yang Maha Esa sebagai pemegang amanah tertinggi.

Mengutip sumber ilmu yang kuat dan valid untuk memperkuat argumennya, Ardan menyampaikan bahwa Rasulullah SAW telah memberikan kita sebuah pondasi yang sangat kuat dalam sebuah hadits yang masyhur dari Ibnu Umar r.a., beliau bersabda: Kullukum ra’in wa kullukum mas’ulun ‘an ra’iyyatihi. Artinya: Semua kita adalah pemimpin, dan pemimpin akan dimintai pertanggungjawaban atas apa yang dipimpinnya (HR. Bukhari dan Muslim). Hadits ini menegaskan bahwa kepemimpinan bukan hanya milik mereka yang memegang jabatan struktural di dalam organisasi sekolah. Seorang ayah adalah pemimpin di rumah tangga masing-masing, seorang guru adalah pemimpin di dalam kelas saat mengajar, dan seorang siswa adalah pemimpin bagi dirinya sendiri dalam menuntut ilmu. Namun, bagi mereka yang diberi amanah jabatan formal seperti kepala sekolah, timbangan pertanggungjawabannya di hadapan Allah tentu lebih berat dan kompleks. Penjelasan ini membuat para guru yang hadir mengangguk-angguk paham, menyadari bahwa beban mereka sebagai pendidik juga merupakan bentuk kepemimpinan yang akan dipertanggungjawabkan di akhirat kelak secara individual.

Memasuki inti yang paling emosional dan personal, Ardan mulai berbicara tentang perjalanan dinasnya selama ini memimpin institusi tersebut. Hari ini, saya ingin merenungkan hal tersebut di hadapan bapak dan ibu sekalian. Sebagai seorang hamba yang lemah, saya menyadari bahwa amanah yang saya emban bukanlah hal yang sepele. Ardan telah memimpin SMK Negeri 10 Semarang selama 4 tahun 2 bulan. Empat tahun dua bulan bukanlah waktu yang singkat dalam ukuran kehidupan berorganisasi. Di rentang waktu tersebut, telah banyak langkah yang diambil, banyak keputusan yang dibuat, dan banyak interaksi yang terjalin dengan bapak, ibu, serta seluruh warga sekolah dalam suka maupun duka. Namun, sebagai manusia biasa yang tidak luput dari kesalahan, saya sadar sepenuhnya bahwa kesempurnaan hanyalah milik Allah SWT semata, bukan milik manusia yang dipimpin oleh hawa nafsu. Pengakuan akan keterbatasan manusia ini membuat suasana aula semakin senyap, seolah setiap kata yang keluar dari mulut kepala sekolah tersebut meresap ke dalam hati para pendengarnya yang turut merasakan perjalanan waktu tersebut.

Puncak dari kultum tersebut adalah permohonan maaf yang tulus, terbuka, dan dilakukan secara publik di hadapan seluruh staf. Ardan menyatakan dengan suara yang sedikit bergetar bahwa selama saya menjalankan tugas ini, tentu ada kata-kata yang mungkin kurang berkenan di hati, ada kebijakan yang mungkin dirasa kurang adil, atau ada sikap yang mungkin menyinggung perasaan bapak dan ibu sekalian. Baik yang saya sadari maupun yang tidak saya sadari selama interaksi sehari-hari. Oleh karena itu, dengan kerendahan hati dan kesadaran penuh bahwa pemimpin akan dimintai pertanggungjawaban bukan hanya oleh atasan di dunia, tetapi terutama oleh Allah di akhirat kelak, saya ingin membuka pintu hati selebar-lebarnya. Saya minta maaf jika selama memimpin sekolah banyak kesalahan dengan warga sekolah. Mohon dibukakan pintu maaf yang seluas-luasnya. Saya berharap, jika ada hak-hak bapak dan ibu yang terlangkah, mari kita halalkan di majelis yang baik ini, agar tidak menjadi beban di leher saya di yaumil hisab nanti, dan agar kita semua bisa melangkah ke depan dengan hati yang bersih dari dendam dan kesalahpahaman.

Respons dari para guru dan staf terlihat jelas saat Ardan menyelesaikan permohonannya yang menyentuh hati tersebut. Budaya meminta maaf secara terbuka di lingkungan kerja memang jarang ditemukan, namun di SMK Negeri 10 Semarang, hal ini justru menjadi contoh nyata bagaimana seorang pemimpin tidak menempatkan dirinya di atas segalanya atau merasa paling benar. Sikap rendah hati seorang kepala sekolah di hadapan anak buahnya di ruang ibadah menunjukkan bahwa hierarki jabatan tidak berlaku ketika berhadapan dengan dosa dan kesalahan manusia di hadapan Tuhan. Momen ini menjadi perekat hubungan emosional antara pimpinan dan staf, menghilangkan sekat-sekat formalitas yang seringkali kaku dalam lingkungan birokrasi pendidikan pemerintah, dan menggantinya dengan ikatan kekeluargaan yang berbasis pada saling memaafkan.

Menutup sesi kultum yang penuh warna dan emosi tersebut, Ardan menyampaikan harapan besar untuk masa depan institusi yang dipimpinnya agar terus berkembang. Hadirin yang berbahagia, mari kita jadikan pengalaman 4 tahun 2 bulan ini sebagai pelajaran bagi kita semua. Bahwa kepemimpinan adalah tentang pelayanan, dan pelayanan adalah tentang keikhlasan dalam bekerja tanpa pamrih. Saya mendoakan agar SMK Negeri 10 Semarang semakin jaya, semakin berakhlak mulia, dan menghasilkan lulusan yang bermanfaat bagi umat dan bangsa Indonesia. Saya juga mendoakan bapak dan ibu sekalian, semoga Allah selalu melindungi langkah kita, mengampuni dosa-dosa kita, dan mempertemukan kita kembali dalam keadaan yang lebih baik di masa mendatang. Doa ini diaminkan dengan khusyuk oleh seluruh hadirin yang masih duduk bersimpuh di atas karpet aula dengan tangan terangkat, mengharap ridho Allah SWT atas niat baik mereka bersama.

Kegiatan Sholat Dhuha Berjamaah ini berakhir sekitar pukul 08.00 WIB, namun dampaknya diharapkan akan bertahan lama dalam budaya kerja sekolah sehari-hari. Langkah yang diambil oleh Ardan Sirodjuddin ini sejalan dengan visi pendidikan karakter yang tidak hanya mengutamakan kompetensi akademik dan keterampilan kejuruan, tetapi juga kematangan spiritual dan emosional seluruh warga sekolah. Dengan memulai hari melalui ibadah dan introspeksi diri secara bersama-sama, diharapkan energi positif akan terbawa hingga ke dalam kelas-kelas saat proses belajar mengajar dimulai nanti pagi. Para guru diharapkan dapat menularkan semangat keikhlasan dan tanggung jawab ini kepada para siswa didik mereka sebagai teladan nyata. Pada akhirnya, acara pagi itu bukan sekadar ritual keagamaan semata, melainkan sebuah deklarasi bersama untuk membangun lingkungan sekolah yang lebih humanis, religius, dan penuh dengan saling memaafkan demi kemajuan bersama.

Hingga berita ini diturunkan, suasana kekeluargaan di SMK Negeri 10 Semarang terasa semakin kuat dan solid pasca kegiatan tersebut. Kegiatan rutin seperti Sholat Dhuha Berjamaah yang diisi dengan substansi mendalam seperti ini patut menjadi contoh bagi institusi pendidikan lainnya di Kota Semarang maupun tingkat nasional dalam membangun budaya organisasi. Kepemimpinan yang melayani dan berani mengakui kekurangan adalah kunci dari kemajuan sebuah organisasi pendidikan yang berkelanjutan. Bagi warga SMK Negeri 10 Semarang, pagi Kamis itu akan menjadi kenangan manis tentang bagaimana seorang pemimpin bernama Ardan Sirodjuddin mengajarkan arti tanggung jawab dan kerendahan hati melalui mimbar kultum di aula sekolah, tepat di bawah naungan ridho Allah SWT melalui sholat Dhuha yang mereka kerjakan bersama-sama dalam keadaan hati yang bersih dan suci.

Penulis : Muhammad Suparjo, Guru PAI SMK Negeri 10 Semarang

1 Komentar

mohammad suparjo
Kamis, 5 Mar 2026

MASYAALLAAH TABAROKALLAAH
TERIMAKSIH PAK ARDAN
TELAH MEMIMPIN SMKN 10 SEMARANG
TERIMAKASIH BIMBINGAN ILMU MANAGEMEN NYA
DAN SELAMAT BERTUGAS DI SMKN JATENG
SEMOGA TAMBAH MAJU DAN SUKSES !!!!

Reply

Beri Komentar

Balasan