SEMARANG-Kesadaran akan pentingnya kesehatan mental siswa terus diperkuat melalui kegiatan Rotary Mental Health Awareness: RISE UP: Parenting Session yang diselenggarakan Rotary International District 3420 Indonesia di SMK Negeri 10 Semarang, Kamis (15/1/2026). Kegiatan yang berlangsung pukul 08.30 hingga 12.00 WIB ini diikuti oleh 40 orang tua siswa dan menjadi bagian dari upaya kolaboratif antara sekolah, orang tua, serta tenaga profesional untuk menciptakan lingkungan yang mendukung tumbuh kembang mental remaja secara sehat.
Kegiatan dibuka secara resmi oleh Kepala SMK Negeri 10 Semarang, Ardan Sirodjuddin, M.Pd. Dalam sambutannya, Ardan menegaskan bahwa keberhasilan program kesehatan mental siswa tidak bisa hanya dibebankan kepada sekolah, tetapi membutuhkan peran aktif orang tua sebagai garda terdepan di lingkungan keluarga. “Sekolah tidak mungkin bekerja sendiri. Kesehatan mental siswa harus menjadi gerakan bersama antara sekolah, orang tua, dan mitra seperti Rotary Foundation. Orang tua memiliki peran yang sangat strategis karena merekalah yang paling dekat dengan anak dalam keseharian,” ujar Ardan.
Menurut Ardan, kerja sama dengan Rotary International District 3420 menjadi langkah konkret untuk memperkuat literasi kesehatan mental di lingkungan sekolah. Ia berharap melalui kegiatan ini, orang tua tidak hanya memahami kondisi psikologis anak, tetapi juga mampu menerapkan pola asuh yang lebih responsif dan sesuai dengan nilai-nilai Pancasila. “Kami ingin membangun ekosistem yang aman dan suportif, sehingga siswa merasa didengar, dipahami, dan dihargai,” katanya.
Dalam sesi utama, peserta mendapatkan materi tentang memahami karakter anak dan penerapan Kartu Asuh Berbasis Pancasila. Konsep ini menekankan empat pilar utama dalam pengasuhan, yakni spiritualitas, kasih sayang, kelekatan, dan keterbukaan. Orang tua diajak untuk menanamkan nilai spiritual sejak dini, membangun kasih sayang melalui komunikasi positif, memperkuat kelekatan emosional dengan anak, serta membuka ruang dialog yang aman dan jujur dalam keluarga.
Psikolog Dr. Hastaning Sakti, M.Kes., yang menjadi salah satu narasumber, memaparkan hasil analisis data WHO ACE (Adverse Childhood Experiences) di SMK Negeri 10 Semarang. Dari 612 siswa yang disurvei, sebanyak 73 persen masuk kategori perlu diwaspadai, 24 persen perlu pendampingan, dan 3 persen memerlukan penanganan serius. “Sekitar 27 persen siswa memiliki risiko sedang hingga tinggi yang membutuhkan perhatian khusus. Yang paling dominan bukan faktor ekstrem, melainkan pengabaian emosi dan masalah relasional di lingkungan keluarga dan sosial,” jelas Hastaning.
Ia menambahkan, pengabaian emosi tercatat sangat tinggi, mencapai 97,5 persen. Temuan ini berkorelasi kuat dengan lemahnya aspek kelekatan dan keterbukaan dalam pola asuh orang tua. “Anak-anak sebenarnya tidak selalu membutuhkan solusi instan, tetapi membutuhkan kehadiran emosional orang tua yang mau mendengar tanpa menghakimi,” ujarnya.
Sementara itu, psikiater dr. Anita Virgiyanti, Sp.KJ., memaparkan hasil skrining kesehatan jiwa menggunakan instrumen MMYS V.1 (Mini MindHear Youth Scale). Berdasarkan data Dinas Kesehatan Jawa Tengah, lebih dari 60 persen siswa menunjukkan gejala kecemasan, dan sekitar 51 persen menunjukkan gejala depresi dengan tingkat ringan hingga berat. “Sebagian besar masih kategori ringan, tetapi jika dibiarkan tanpa intervensi dini, risikonya bisa meningkat,” kata Anita.
Anita menekankan bahwa rendahnya angka pencarian pengobatan kesehatan mental di kalangan remaja menjadi tantangan serius. “Hanya sekitar 12,7 persen remaja yang mencari bantuan profesional. Karena itu, peran orang tua sangat penting untuk membuka akses dan menghilangkan stigma,” ujarnya. Ia juga mengingatkan bahwa analisis data skrining tidak boleh berhenti pada angka, tetapi harus ditindaklanjuti dengan rencana aksi yang jelas. “Tidak ada kesehatan tanpa kesehatan jiwa,” tegasnya.
Selain pemaparan materi, kegiatan ini juga menayangkan hasil karya siswa berupa kampanye kesehatan mental yang diunggah dengan tagar #rotarydistrict3420. Sesi tanya jawab interaktif antara orang tua dengan psikolog dan psikiater menjadi salah satu agenda yang paling diminati, karena peserta dapat langsung menyampaikan keresahan dan pengalaman mereka dalam mendampingi anak di rumah.
Kegiatan sosialisasi pendidikan dan penguatan peran orang tua yang digelar hari ini mendapat sambutan positif dari para wali siswa. Program ini dinilai memberikan dampak nyata dalam meningkatkan pemahaman orang tua terhadap pentingnya pendampingan anak, khususnya dalam membentuk karakter serta menjaga kesehatan mental dan spiritual sejak dini.
Salah satu orang tua siswa, Wiyono, wali dari Janu Atwi Sadewo kelas X KKB, mengungkapkan bahwa kegiatan sosialisasi tersebut membuka wawasan baru bagi orang tua dalam mengenali dan memahami karakter anak. Menurutnya, pendampingan yang tepat dari keluarga menjadi fondasi utama dalam mempersiapkan masa depan anak.
“Dengan diadakannya sosialisasi hari ini, sangat memberikan dampak positif bagi kami selaku wali atau orang tua. Melalui kegiatan ini, kami dapat membimbing, mendampingi, serta mengenalkan berbagai karakter anak,” ujar Wiyono saat ditemui usai kegiatan.
Ia menambahkan, sosialisasi ini juga menekankan pentingnya fokus orang tua pada peningkatan kesehatan mental dan spiritual anak sebagai bekal menghadapi tantangan di masa mendatang. “Kami jadi lebih mengerti bahwa pendampingan anak tidak hanya soal akademik, tetapi juga kesehatan mental dan spiritual mereka,” lanjutnya.
Apresiasi serupa disampaikan oleh Yuli Purwanti, orang tua dari Azura Lathifa Islamey dan Ayla Lathifa Islamey yang duduk di kelas XII RPL. Ia menilai kegiatan tersebut sangat relevan dan layak direkomendasikan bagi seluruh orang tua.
“Kegiatan ini sangat recommended untuk menjadi bekal kami sebagai orang tua dalam membimbing putra-putri kami menuju pencapaian impian mereka,” kata Yuli.
Menurutnya, kehadiran pemateri profesional yang ahli di bidangnya menjadi nilai tambah tersendiri. Orang tua tidak hanya mendapatkan teori, tetapi juga wawasan praktis yang dapat langsung diterapkan dalam kehidupan sehari-hari. “Kami pribadi bisa mendapatkan ilmu langsung dari para profesional, sehingga lebih percaya diri dalam mendampingi anak,” ungkapnya.
Melalui Rotary Mental Health Awareness: RISE UP: Parenting Session ini, Rotary International District 3420 Indonesia berharap kesadaran dan kepedulian orang tua terhadap kesehatan mental anak semakin meningkat. Kolaborasi antara sekolah, orang tua, dan tenaga profesional dinilai sebagai kunci untuk membangun generasi muda yang tidak hanya cerdas secara akademik, tetapi juga tangguh secara mental dan emosional.









Beri Komentar