SEMARANG-Alhamdulillah Rabu pagi, 4 Maret 2026 yang sejuk setelah semalaman Kota Semarang diguyur hujan, mengiringi kegiatan Sholat Dhuha berjamaah Keluarga Besar SMK Negeri 10 Semarang yang berlangsung khusyuk dan khidmat. Kegiatan yang digelar di lingkungan sekolah tersebut diikuti oleh para guru, tenaga kependidikan, serta siswa-siswi dengan penuh antusias. Suasana yang masih basah oleh sisa hujan malam sebelumnya justru menambah kekhidmatan ibadah pagi itu.
Sholat Dhuha berjamaah dipimpin oleh Muhammad Miftahurrofi’i, S.Pd. Dengan suara yang tenang dan tertata, ia memimpin rangkaian ibadah hingga doa bersama. Dalam keterangannya usai kegiatan, Muhammad Miftahurrofi’i menyampaikan bahwa pembiasaan ibadah di sekolah menjadi bagian penting dalam pembentukan karakter peserta didik.
“Kami ingin menanamkan nilai spiritual sejak dini. Sholat Dhuha berjamaah ini bukan sekadar rutinitas, tetapi bagian dari ikhtiar membangun generasi yang berakhlak dan beradab,” ujarnya.
Ia menambahkan, kegiatan tersebut juga menjadi momentum refleksi bagi seluruh warga sekolah agar tidak hanya mengejar prestasi akademik, tetapi juga memperkuat dimensi keimanan dan ketakwaan. “Sekolah bukan hanya tempat belajar ilmu pengetahuan, tetapi juga tempat menumbuhkan nilai-nilai kebaikan,” katanya.
Setelah pelaksanaan Sholat Dhuha, kegiatan dilanjutkan dengan siraman kultum bertema “Indahnya Berbakti kepada Orang Tua” yang disampaikan dengan apik oleh Ustadz Suparman, S.Pd. Dalam tausiyahnya, Ustadz Suparman mengajak seluruh hadirin merenungkan kembali peran dan pengorbanan orang tua dalam kehidupan anak.
“Di antara amal yang paling agung dalam kehidupan seorang anak adalah berbakti kepada kedua orang tua. Bukan hanya kewajiban, tetapi juga kehormatan,” tuturnya di hadapan para siswa dan guru.
Ia mengingatkan bahwa tidak semua orang diberi kesempatan panjang untuk membahagiakan orang tuanya. Karena itu, ketika ayah dan ibu masih hidup, menurutnya, setiap anak sedang memegang amanah besar sekaligus peluang pahala yang luar biasa.
“Coba kita renungkan sejenak. Siapa orang yang pertama kali menyambut kita di dunia ini? Siapa yang rela begadang ketika kita sakit? Siapa yang tetap tersenyum meski sedang lelah? Itulah orang tua kita,” ucapnya dengan suara bergetar.
Dalam kultumnya, ia menggambarkan perjuangan seorang ibu yang mengandung selama berbulan-bulan dengan penuh pengorbanan, merasakan mual, sakit, serta perubahan fisik, namun tetap bahagia menanti kelahiran anaknya. Ia juga menyinggung peran ayah yang kerap memendam lelah demi mencukupi kebutuhan keluarga.
“Ayah mungkin tidak banyak bicara tentang lelahnya. Namun ia keluar rumah pagi hari, bekerja keras, menghadapi tekanan pekerjaan, memikirkan biaya sekolah dan masa depan anak-anaknya. Keringatnya adalah bentuk cinta yang tidak selalu diungkapkan dengan kata-kata,” katanya.
Ustadz Suparman menegaskan bahwa berbakti kepada orang tua bukan semata-mata memberi uang atau hadiah. Intinya adalah adab, yakni menempatkan orang tua pada posisi mulia dalam hati dan sikap. Ia menguraikan beberapa bentuk adab yang perlu dijaga oleh setiap anak.
“Pertama, adab dalam berbicara. Jangan sampai lisan kita meninggi di hadapan mereka. Jangan membentak atau menjawab dengan nada sinis. Ucapan yang lembut adalah cermin hati yang menghormati,” tegasnya.
Ia juga mengingatkan pentingnya adab dalam sikap, seperti segera memenuhi panggilan orang tua, membantu tanpa menunda, hingga melakukan hal-hal sederhana seperti memijat ketika mereka lelah. Selain itu, perbedaan pendapat dengan orang tua harus disampaikan dengan santun.
“Perbedaan zaman tidak boleh menghapus rasa hormat. Jika tidak setuju, sampaikan dengan kata-kata yang baik. Jangan merasa paling benar hanya karena merasa lebih berpendidikan,” ujarnya.
Lebih lanjut, ia menekankan bahwa berbakti juga berarti menjaga perasaan orang tua, melibatkan mereka dalam keputusan penting, serta mendengarkan pendapat mereka. Ia pun mengingatkan pentingnya mendoakan orang tua sebagai bentuk bakti yang sering dilupakan.
“Doa anak yang saleh adalah investasi jangka panjang bagi orang tuanya. Setiap doa yang tulus akan menjadi cahaya bagi kehidupan mereka, baik di dunia maupun setelah wafat,” katanya.
Dalam kesempatan itu, Ustadz Suparman juga mengajak para siswa untuk memanfaatkan waktu selagi orang tua masih hidup. “Jangan sibuk dengan dunia hingga lupa pulang. Jangan terlalu asyik dengan pekerjaan hingga lupa mengabari. Kalimat sederhana seperti ‘Apa yang bisa saya bantu?’ bisa membuat hati mereka hangat,” tuturnya.
Ia menutup kultum dengan pesan reflektif agar para siswa tidak menunda untuk meminta maaf dan memperbaiki hubungan dengan orang tua. “Tidak ada kata gengsi untuk memeluk dan mencium tangan mereka. Justru itulah kemuliaan seorang anak,” ucapnya.
Kegiatan Sholat Dhuha dan kultum pagi itu ditutup dengan doa bersama yang dipanjatkan penuh harap agar seluruh keluarga besar SMK Negeri 10 Semarang menjadi pribadi yang beradab, lembut kepada orang tua, dan senantiasa mendapatkan ridha Allah melalui ridha kedua orang tua.
Suasana haru dan teduh terasa saat para siswa kembali ke kelas masing-masing. Beberapa di antaranya mengaku tersentuh dengan materi yang disampaikan. Kegiatan ini diharapkan terus menjadi tradisi positif yang memperkuat karakter dan spiritualitas warga sekolah, sekaligus mengingatkan bahwa keberhasilan sejati tidak hanya diukur dari prestasi, tetapi juga dari seberapa tulus seorang anak berbakti kepada orang tuanya.

Alhamdulillah semoga hidup kita bisa bermanfaat bagi sesama.
Masyaallah Tabarokallahu lanaa walaikum amiin 🤲🤲🤲
Beri Komentar