Semarang – Suasana berbeda terlihat di SMK Negeri 10 Semarang pada pagi hari ini. Ratusan siswa secara serentak menulis puisi di kelas masing-masing pada jam pelajaran pertama, didampingi guru sebagai pembimbing. Kegiatan ini digelar sebagai bentuk partisipasi sekaligus dukungan terhadap Festival Literasi Tingkat Jawa Tengah yang diselenggarakan oleh Dinas Arsip dan Perpustakaan Provinsi Jawa Tengah.
Penulisan puisi ini bukan sekadar mengisi waktu belajar, tetapi menjadi ajang kreativitas bersama yang memadukan siswa, guru, dan tenaga kependidikan dalam satu gerakan literasi. Tema yang diangkat sejalan dengan lomba Festival Literasi, yakni tentang ibu dan perjuangannya.
Wakil Kepala Sekolah Bidang Pengembangan SDM, Hikma Nurul Izza menegaskan bahwa kegiatan menulis puisi ini merupakan momentum penting bagi seluruh warga sekolah. “Hari ini kita bergerak bersama dalam kegiatan menulis puisi untuk Festival Literasi Jawa Tengah. Anak-anak, guru, dan tenaga kependidikan terlihat begitu antusias menuangkan ide dan perasaannya lewat bait-bait indah. Bagi saya, kegiatan ini bukan sekadar lomba, tetapi ruang pembelajaran bermakna yang melatih ekspresi, kepekaan rasa, sekaligus menumbuhkan kecintaan pada literasi. Semoga semangat kebersamaan ini terus terjaga dan karya-karya yang lahir dapat menjadi inspirasi, tidak hanya di sekolah, tetapi juga bagi masyarakat luas,” ujarnya.
Ketua Tim Literasi SMK Negeri 10 Semarang, Arimurti Asmoro, mengatakan bahwa penyelenggaraan Festival Literasi Jawa Tengah bukan sekadar kompetisi antar guru dan siswa yang menghasilkan karya puisi bertema Ibu dan perjuangannya. Lebih dari itu, kegiatan ini merupakan gagasan inspiratif yang mampu menumbuhkan rasa cinta dan kebanggaan kepada sosok ibu, yang perannya sangat penting dan penuh makna dalam kehidupan, termasuk dalam dunia pendidikan.
Menurut Arimurti, karya-karya puisi yang dihasilkan juga berperan penting dalam mengembangkan budaya literasi di lingkungan sekolah. Melalui penulisan puisi, siswa dapat mengasah kemampuan berbahasa sekaligus melatih kreativitas dalam memilih diksi. Proses ini juga menumbuhkan kepekaan emosional dan empati, karena tema yang diangkat menggali kisah dan peran seorang ibu yang begitu berarti dalam kehidupan. Selain itu, puisi menjadi sarana untuk mengekspresikan gagasan dan perasaan secara indah, memperkaya kosakata, serta melatih kemampuan berpikir reflektif. Lebih jauh, kegiatan literasi ini juga memperkuat pembelajaran berbasis karakter, khususnya nilai kasih sayang, ketulusan, dan pengorbanan.
Terkait manfaat tersebut, Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Provinsi Jawa Tengah selaku penyelenggara dinilai berhasil menangkap momentum berharga dalam upaya meningkatkan mutu pendidikan. Festival Literasi Jawa Tengah 2025 menjadi langkah strategis untuk menghadirkan pendidikan yang tidak hanya berorientasi pada pengetahuan, tetapi juga pada penguatan karakter dan pengembangan budaya literasi di tengah masyarakat.
Antusiasme serupa juga disampaikan oleh guru Seni Budaya, Aris Guntoro. Ia melihat para siswa dengan serius mencoba menuangkan rasa dalam kata-kata sederhana namun penuh makna. “Puisi ini menjadi ungkapan rasa syukur dan hormat kepada ibu yang penuh pengorbanan. Semoga melalui kata-kata sederhana ini, kita semakin sadar betapa besar jasa seorang ibu yang tak pernah mengeluh demi kebahagiaan anaknya,” ungkapnya.
Di sisi lain, Kholifah Marta, guru Basa Jawa, mengaku terharu dengan keterlibatan siswa. Menurutnya, banyak puisi yang ditulis berdasarkan pengalaman nyata. “Anak-anak antusias mengikuti kegiatan literasi membuat puisi, apalagi temanya tentang ibu dan perjuangannya. Banyak dari mereka menceritakan kehidupan nyata yang mereka alami sendiri bersama ibu,” tuturnya.
Pandangan serupa datang dari Nur Kholifah, guru Bahasa Jepang. Ia menilai bahwa puisi adalah wadah yang efektif untuk menggali kepekaan siswa. “Kegiatan ini sangat positif untuk menumbuhkan semangat literasi. Melalui menulis puisi kita dapat mengekspresikan dan mencurahkan perasaan dengan bahasa yang indah. Semoga karya-karya yang dihasilkan menjadi inspirasi untuk kita semua agar lebih mencintai literasi,” katanya.
Sementara itu, guru Teknik Pengelasan, Nasiin Samsul Huda, menekankan pentingnya keaslian dalam berkarya. Menurutnya, menulis puisi melatih siswa untuk menuliskan perasaan yang jujur dan autentik. “Festival Literasi merupakan salah satu kegiatan untuk menumbuhkembangkan minat baca. Puisi adalah wujud ungkapan hati yang tertuang dalam tulisan, oleh karena itu kegiatan membuat puisi melatih kita untuk membuat karya yang asli, tanpa plagiarisme,” jelasnya.
Menurut Suci Nugraheni, siswi Kelas XI NKN, kegiatan menulis puisi dalam rangka Festival Literasi Jawa Tengah hari ini terasa sangat berkesan, menyenangkan, sekaligus menantang. “Kami bisa bergerak bersama, saling bertukar inspirasi, sekaligus belajar menyalurkan rasa melalui untaian kata,” ungkapnya.
Ia menambahkan, kegiatan ini menjadi ruang ekspresi dan apresiasi, tempat di mana setiap kata yang lahir memiliki makna dan mampu menyentuh hati. “Semoga Festival Literasi seperti ini terus berlanjut, agar semakin banyak generasi muda yang jatuh cinta pada sastra dan berani menyuarakan pikirannya lewat tulisan,” harapnya.
Kepala SMK Negeri 10 Semarang, Ardan Sirodjuddin, mengapresiasi penuh gerakan literasi ini. Ia menyebut bahwa kegiatan menulis puisi serentak merupakan bukti nyata budaya literasi yang semakin berkembang di sekolah vokasi tersebut. “Literasi SMK Negeri 10 Semarang semakin menggeliat dengan program yang terarah dan kolaboratif seluruh warga sekolah,” tegasnya.
Dengan adanya kegiatan ini, SMK Negeri 10 Semarang menunjukkan komitmen untuk terus menghidupkan budaya literasi, bukan hanya melalui teori tetapi juga praktik nyata yang melibatkan semua unsur sekolah. Ribuan puisi yang lahir hari ini menjadi bukti bahwa literasi bisa tumbuh subur ketika dikerjakan bersama-sama, dengan semangat kebersamaan dan penghargaan terhadap nilai-nilai kehidupan.

Beri Komentar