Banyumas – Setiap momentum dalam dunia pendidikan selalu menghadirkan pelajaran berharga, baik bagi pelaksana maupun bagi orang lain yang turut menyaksikan. Hal itu pula yang dirasakan para guru ketika mengikuti kegiatan On the Job Training (OJT) di SMP Negeri 1 Cilongok pada Rabu, 13 Agustus 2025. Kegiatan ini mengangkat tema Sosialisasi Hasil Pembelajaran Mendalam dan Revisi Visi, Misi, Tujuan serta Strategi Pencapaian, dengan narasumber sekaligus role model, Kepala SMP Negeri 1 Cilongok, Trisnatun, M.Pd.
Pembelajaran mendalam atau deep learning sendiri mulai diimplementasikan pada tahun pelajaran 2025/2026. Dalam konteks pendidikan, pendekatan ini menekankan pada pemahaman konsep secara utuh, bukan sekadar hafalan materi. Deep learning mengajak guru dan siswa untuk berpikir kritis, merefleksikan, serta menerapkan pengetahuan dalam konteks nyata. Selama ini, sebagian guru hanya mengenal istilah tersebut dari media massa atau sekadar membayangkan praktiknya di kelas. Melalui OJT ini, mereka mendapat pengalaman langsung bagaimana sebuah proses pembelajaran mendalam diterapkan.
Trisnatun memimpin sesi layaknya seorang guru di kelas. Ia membuka kegiatan dengan mengondisikan peserta agar siap mengikuti pembelajaran, mulai dari mengabsen kehadiran, memberi pengarahan, hingga menjelaskan alur kegiatan. Untuk membangkitkan antusiasme, ia menunjuk tiga peserta sebagai pemantik, lalu membagi peserta menjadi tiga kelompok: Pinter, Bener, dan Pener. “Kami ingin para guru merasakan langsung atmosfer kelas yang aktif dan kolaboratif. Ini bukan sekadar sosialisasi, melainkan praktik nyata pembelajaran mendalam,” ujar Trisnatun.
Setiap kelompok diberi kesempatan menyusun yel-yel, yang langsung dipraktikkan bergantian. Suasana aula pun semarak. Setelah itu, mereka mendapat tugas utama: mendiskusikan penyusunan visi, misi, dan tujuan sekolah. Ketua kelompok membagi peran kepada setiap anggota untuk merangkum materi, kemudian menggabungkannya menjadi laporan yang akan dipresentasikan. Seluruh peserta tampak antusias.
Hasil diskusi dipresentasikan secara bergiliran. Kelompok lain diberi kesempatan untuk memberikan masukan atau perbaikan. Dari dinamika tersebut, peserta mengaku lebih memahami proses penyusunan visi, misi, dan tujuan sekolah yang sesuai arah satuan pendidikan. “Saya baru menyadari bahwa menyusun visi, misi, dan tujuan itu bukan sekadar menulis kata-kata indah. Ada prinsip relevansi dan kesesuaian dengan profil pelajar yang ingin kita capai,” ujar salah seorang peserta.
Pembelajaran mendalam berlanjut dengan refleksi. Kelompok Pinter diberi tugas menelaah visi sekolah, kelompok Bener merefleksi misi, sementara kelompok Pener merefleksi tujuan sekolah. Hasilnya, visi dianggap sudah sejalan dengan delapan dimensi profil lulusan, namun ada beberapa misi yang dinilai kurang relevan sehingga perlu diselaraskan. Begitu pula dengan tujuan sekolah yang masih perlu penyesuaian.
Di sesi akhir, Trisnatun memantik peserta untuk mengganti visi sekolah. Jika sebelumnya visi berbunyi BERADAB, KOMPETEN, KREATIF, INOVATIF, maka hasil refleksi bersama melahirkan rumusan baru: “Mewujudkan peserta didik yang cerdas (pinter), berkarakter (bener), dan mampu mengamalkan ilmunya secara bijak dan tepat (pener) dalam kehidupan nyata.”
“Visi baru ini lahir dari proses pembelajaran mendalam yang kolaboratif. Bukan keputusan satu orang, tetapi hasil kerja bersama. Dengan begitu, seluruh unsur sekolah memiliki rasa memiliki terhadap visi ini,” jelas Trisnatun. Ia menambahkan bahwa tugas berikutnya adalah menyusun misi, tujuan, dan strategi pencapaian yang relevan dengan visi tersebut.
Peserta yang hadir mengaku mendapatkan gambaran yang lebih konkret tentang deep learning. “Hari ini saya melihat langsung bagaimana pembelajaran mendalam dijalankan. Saya yakin bisa mengimplementasikannya dalam kelas dan pelayanan di SMP Negeri 1 Cilongok,” ungkap salah seorang guru seusai kegiatan.
Kegiatan OJT ini menegaskan bahwa pembelajaran mendalam bukan lagi sebatas konsep, melainkan sebuah praktik nyata yang mampu mengubah cara pandang guru. Dengan implementasi yang tepat, diharapkan siswa tidak hanya pintar secara akademik, tetapi juga memiliki karakter kuat dan keterampilan hidup untuk menghadapi tantangan masa depan.
Penulis : Andjar Widjianingsih, Guru SMP 1 Cilongok

Beri Komentar