SALATIGA – SMP Negeri 10 Salatiga memperingati Hari Kemerdekaan ke-80 Republik Indonesia dengan gelaran lomba unik antar-kelas dan karnaval kostum kreatif pada Kamis-Jumat (14-15/8/2025). Kegiatan yang diprakarsai Urusan Kesiswaan ini bertujuan memperkuat pendidikan karakter berbasis nasionalisme dan kebersamaan warga sekolah.
Kamis (14/8) pagi, kegiatan diawali apel bersama yang menandai dimulainya “Olimpiade Netensa” – kompetisi estafet unik antar lima tim perwakilan kelas. Lomba melibatkan 5 cabang estafet berantai: octopus race (lari berkelompok saling membelakangi), memasukkan bola lewat sela kaki, mengoper hula hoop tanpa lepas tangan, memindahkan gelas plastik dengan sedotan di mulut, serta meniup bola pingpong antar wadah air. Tantangan tersulit terlihat saat peserta harus mengambil karet gelang dari wadah tepung menggunakan sedotan.
“Lomba ini dirancang untuk melatih sinergi tim dan problem solving. Contohnya saat memindahkan karet dari tepung, mereka harus strategi mengatur napas agar tepung tidak beterbukan,” ujar Dewi Indrawati, S.Pd., Koordinator Urusan Kesiswaan, saat ditemui di sela acara.
Antusiasme memuncak ketika guru dan tenaga kependidikan ikut bertanding dalam estafet memindah tepung dan memasukkan pensil ke botol. Sorak-sorai siswa memecah konsentrasi peserta dewasa yang gagal menyelesaikan tantangan. “Justru keseruan ini yang kami harapkan. Saat guru dan siswa tertawa bersama, hierarki kaku di kelas mencair,” tambah Dewi.
Jumat (15/8), kemeriahan berlanjut dengan karnaval menyusuri lingkungan sekolah. Seluruh kelas menampilkan kostum bertema kearifan lokal hingga futuristik, seperti perpaduan batik dengan aksesori daur ulang atau busana inspirasi teknologi hijau. Ratusan warga sekitar berjejer di jalan menyambut iring-iringan siswa yang melambai-lambaikan bendera merah putih.
“Sengaja desain kostum dari barang bekas pakai. Kami ingin tunjukkan bahwa merayakan kemerdekaan bisa ramah lingkungan,” kata Devina, siswa kelas 8B, dengan riasan wajah bergambar peta Indonesia. Kostum kelompoknya memenangi kategori paling inovatif.
Kepala Sekolah SMP Negeri 10 Salatiga, Ratna Dhianawati, S. Pd, M.Pd., menekankan esensi di balik kemeriahan acara. “Ini bukan sekadar seremonial. Setiap lomba dirancang untuk menanamkan nilai gotong royong, dan karnaval adalah medium ekspresi kebhinekaan,” tegasnya dalam sambutan penutupan.
Rangkaian acara yang diikuti 672 siswa ini berakhir tertib pukul 12.00 WIB. Panitia menyiapkan trofi daur ulang untuk pemenang lomba sebagai bentuk konsistensi pendidikan karakter berkelanjutan.
Penulis: Kukuh Aria Nusantara, Guru SMP Negeri 10 Salatiga

Beri Komentar