TUNTANG, 13 Januari 2026 — Dunia literasi berbahasa Jawa kembali mendapat perhatian melalui sebuah cerpen berjudul Celathu karya Riska Alviani, S.Pd., guru Bahasa Jawa dan Seni di SMK Negeri 1 Tuntang. Cerpen yang ditulis pada tahun 2025 tersebut menghadirkan kisah reflektif tentang pergulatan cinta, tuntutan orang tua, dan pilihan hidup generasi muda, yang dikemas dengan latar kekinian dan pendekatan budaya populer.
Cerpen Celathu mengisahkan tokoh utama bernama Srini, seorang analis keuangan yang bekerja di Jakarta. Dalam cerita, Srini pulang ke kampung halamannya di Yogyakarta, namun kepulangannya justru menjadi awal konflik batin ketika kedua orang tuanya memutuskan untuk menjodohkannya dengan seorang aparatur sipil negara (ASN). Keputusan tersebut diambil orang tua Srini dengan alasan jaminan masa depan, sementara Srini menolak menikah tanpa cinta.
“Tokoh Srini saya hadirkan sebagai representasi perempuan muda yang berpendidikan, mandiri secara ekonomi, tetapi tetap dihadapkan pada nilai-nilai tradisional keluarga,” ujar Riska Alviani saat ditemui di SMK Negeri 1 Tuntang, Senin (13/1/2026).
Konflik semakin berkembang ketika Srini memilih meninggalkan rumah dan pergi ke Korea Selatan untuk berlibur sekaligus menenangkan diri. Di negeri tersebut, ia bertemu dengan Dewangga, sesama warga Indonesia. Perkenalan yang awalnya singkat berkembang menjadi hubungan asmara yang dijalani jarak jauh atau long distance relationship (LDR). Namun, hubungan tersebut tiba-tiba terputus ketika Srini tidak lagi dapat menghubungi Dewangga.
Dengan perasaan cemas dan penuh tanda tanya, Srini memutuskan kembali ke Yogyakarta dan mendatangi rumah Dewangga. Di sanalah klimaks cerita terjadi. Srini terkejut mendapati kedua orang tuanya berada di ruang tamu rumah Dewangga, dan lebih terkejut lagi ketika mengetahui Dewangga mengalami kecelakaan. Fakta yang paling mengejutkan terungkap ketika diketahui bahwa Dewangga adalah sosok pria yang selama ini akan dijodohkan oleh orang tua Srini.
Menurut Riska, alur cerita tersebut sengaja disusun untuk menggugah emosi pembaca sekaligus menyampaikan pesan tentang pentingnya komunikasi dan kejujuran dalam keluarga. “Cerita ini ingin menunjukkan bahwa kadang keputusan orang tua dan pilihan anak bisa bertemu di titik yang tidak terduga,” katanya.
Dari sisi kebahasaan dan pengisahan, Celathu dinilai memiliki sejumlah kelebihan. Penggambaran latar dan suasana disampaikan secara detail, sehingga pembaca dapat membayangkan dengan jelas kondisi yang dialami tokoh. Selain itu, pengangkatan tema K-Pop dan latar Korea Selatan membuat cerpen ini terasa dekat dengan generasi milenial dan generasi Z.
“Pendekatan budaya populer sengaja saya gunakan agar Bahasa Jawa tetap relevan dan diminati generasi muda,” jelas Riska.
Meski demikian, cerpen ini juga memiliki keterbatasan. Tema kehidupan dewasa dan sentuhan budaya K-Pop dinilai tidak dapat menjangkau seluruh lapisan pembaca. Selain itu, penggunaan Bahasa Jawa yang sederhana tanpa banyak diksi sastra klasik membuat cerpen ini lebih komunikatif, namun dianggap kurang menonjolkan keindahan bahasa Jawa secara estetis.
Kendati demikian, Celathu tetap dipandang sebagai karya yang memberi warna baru dalam sastra Jawa modern. Cerpen ini tidak hanya menjadi media ekspresi kreatif, tetapi juga sarana pembelajaran bagi siswa dan masyarakat untuk memahami dinamika budaya, keluarga, dan identitas generasi muda di tengah arus globalisasi.
“Harapan saya, karya ini bisa menjadi jembatan agar Bahasa Jawa terus hidup dan berkembang mengikuti zamannya, tanpa kehilangan nilai-nilai dasarnya,” pungkas Riska Alviani.
Cerpen bisa dibaca disini
Kontributor : Nurul Rahmawati, M.Pd, Guru Bahasa Inggris SMKN 1 Tuntang

Beri Komentar