Selasa, 26-05-2026
  • Website Ardan Sirodjuddin menerima tulisan artikel Guru, Kepala Sekolah dan Praktisi Pendidikan dalam Kolom Tulisan SahabatWebsite Ardan Sirodjuddin menerima tulisan artikel Guru, Kepala Sekolah dan Praktisi Pendidikan dalam Kolom Tulisan SahabatWebsite Ardan Sirodjuddin menerima tulisan artikel Guru, Kepala Sekolah dan Praktisi Pendidikan dalam Kolom Tulisan SahabatWebsite Ardan Sirodjuddin menerima tulisan artikel Guru, Kepala Sekolah dan Praktisi Pendidikan dalam Kolom Tulisan SahabatWebsite Ardan Sirodjuddin menerima tulisan artikel Guru, Kepala Sekolah dan Praktisi Pendidikan dalam Kolom Tulisan Sahabat
  • Website Ardan Sirodjuddin menerima tulisan artikel Guru, Kepala Sekolah dan Praktisi Pendidikan dalam Kolom Tulisan SahabatWebsite Ardan Sirodjuddin menerima tulisan artikel Guru, Kepala Sekolah dan Praktisi Pendidikan dalam Kolom Tulisan SahabatWebsite Ardan Sirodjuddin menerima tulisan artikel Guru, Kepala Sekolah dan Praktisi Pendidikan dalam Kolom Tulisan SahabatWebsite Ardan Sirodjuddin menerima tulisan artikel Guru, Kepala Sekolah dan Praktisi Pendidikan dalam Kolom Tulisan SahabatWebsite Ardan Sirodjuddin menerima tulisan artikel Guru, Kepala Sekolah dan Praktisi Pendidikan dalam Kolom Tulisan Sahabat

Talkshow Etika Dunia Kerja di SMKN Jateng Semarang Bekali Siswa X Susun Masa Depan Karier Sejak Dini

Diterbitkan : - Kategori : Berita

SEMARANG-Suasana Ruang AVA SMKN Jawa Tengah Semarang tampak penuh semangat sejak pagi hari, Senin (25/5/2026). Ratusan siswa kelas X dari seluruh program keahlian mengikuti kegiatan Kokurikuler Etika Dunia Kerja bertema “Talkshow Etika Dunia Kerja dan Career Path” yang berlangsung mulai pukul 07.30 hingga 15.00 WIB. Kegiatan ini menjadi bagian dari upaya sekolah dalam memperkuat karakter, wawasan industri, serta kesiapan karier peserta didik sejak dini.

Kegiatan diawali dengan pemaparan materi Etika Budaya Kerja oleh Kepala Sekolah, Ardan Sirodjuddin. Dalam paparannya, Ardan memperkenalkan konsep inovatif bertajuk “DUMB Goals” sebagai pendekatan pendidikan vokasi yang tidak hanya menitikberatkan pada keterampilan teknis, tetapi juga pembentukan visi hidup dan karakter siswa secara menyeluruh.

Menurut Ardan, pendidikan vokasi saat ini menghadapi tantangan besar, yakni banyak lulusan yang memiliki kemampuan teknis memadai namun belum memiliki arah hidup dan tujuan karier yang jelas. Ia menegaskan bahwa keterampilan tanpa visi hanya akan melahirkan rutinitas tanpa makna.

“Di tengah dunia industri yang terus berubah, kemampuan untuk bermimpi, bertahan, dan bertindak secara konsisten adalah bekal yang jauh lebih berharga daripada sekadar keahlian teknis semata,” ujar Ardan di hadapan peserta.

Ia menjelaskan bahwa DUMB Goals merupakan metode penetapan tujuan yang terdiri atas empat prinsip utama, yakni Dream-Driven, Uplifting, Behavior-Triggered, dan Method-Friendly. Konsep tersebut dirancang agar siswa memiliki mimpi besar yang realistis dan mampu diwujudkan melalui kebiasaan kecil yang konsisten.

“Selama ini banyak siswa fokus pada hasil akhir, padahal yang paling penting adalah membangun kebiasaan baik setiap hari. Kami ingin siswa SMKN Jateng memiliki mimpi besar sekaligus disiplin menjalankan proses kecil secara terus-menerus,” jelasnya.

Ardan juga mengutip motivator internasional Brendon Burchard yang mengatakan, “You start with the dream. The how will come later.” Kutipan itu menurutnya menjadi fondasi penting dalam membangun pola pikir siswa vokasi agar berani bermimpi sebelum memikirkan keterbatasan.

Sebagai sekolah boarding school gratis bagi siswa dari keluarga kurang mampu, SMKN Jateng Semarang memanfaatkan sistem asrama sebagai laboratorium pembentukan karakter dan kebiasaan positif selama 24 jam. Berbagai program diterapkan untuk mendukung konsep DUMB Goals, mulai dari Dream Journal, afirmasi harian, Habit Loop Maghrib, hingga mikro-rutinitas sederhana yang dilakukan siswa setiap hari.

“Anak-anak kami ajak menulis mimpi karier mereka, memahami alasan emosional di balik cita-cita tersebut, lalu memecahnya menjadi langkah kecil yang bisa dilakukan setiap hari,” kata Ardan.

Ia menambahkan bahwa keberhasilan pendekatan tersebut tidak bisa dilepaskan dari kolaborasi tiga pilar utama, yakni dunia industri, lingkungan sekolah, dan guru pembimbing. Dunia industri memberikan gambaran nyata mengenai peluang kerja, sementara sekolah menyediakan lingkungan yang mendukung melalui berbagai media visual seperti Wall of Dreams dan Progress Tracker. Guru pembimbing berperan mendampingi siswa agar tetap konsisten menjalankan target pribadi mereka.

“Tujuan akhirnya bukan sekadar menghasilkan lulusan siap kerja, tetapi profesional muda yang punya visi hidup jelas, karakter kuat, dan kebiasaan baik yang terus berkembang,” tambahnya.

Setelah sesi pembukaan, kegiatan dilanjutkan dengan pengenalan dunia kerja dan tantangan industri oleh alumni sekolah, Naufal Insan Anggaraksa yang kini bekerja di PT Kubota Indonesia. Dalam sesi tersebut, Naufal berbagi pengalaman mengenai dinamika dunia kerja, budaya industri, serta pentingnya kemampuan adaptasi bagi generasi muda.

Ia menuturkan bahwa dunia industri saat ini tidak hanya mencari tenaga kerja yang pintar secara akademik, tetapi juga memiliki etika, disiplin, komunikasi yang baik, dan kemauan belajar tinggi.

“Di perusahaan, kemampuan teknis memang penting, tetapi sikap kerja jauh lebih menentukan apakah seseorang bisa bertahan dan berkembang,” ungkap Naufal.

Menurutnya, lulusan SMK harus memiliki kesiapan mental menghadapi tekanan kerja, target perusahaan, dan perubahan teknologi yang berlangsung sangat cepat. Karena itu, siswa perlu membiasakan diri dengan budaya disiplin dan tanggung jawab sejak masih di bangku sekolah.

Sementara itu, sesi Etika Profesional dan Career Path disampaikan oleh alumni lainnya, Farhan Nawaf Yassar dari PT Urip Gumulya. Dalam materinya, Farhan menjelaskan pentingnya perencanaan karier sejak usia sekolah agar siswa memiliki arah pengembangan diri yang jelas.

Farhan mengajak peserta memahami bahwa perjalanan karier tidak selalu berjalan lurus sesuai rencana. Namun, dengan etika profesional dan kemauan belajar yang tinggi, setiap tantangan dapat menjadi peluang untuk berkembang.

“Career path itu bukan hanya tentang jabatan, tetapi tentang bagaimana kita terus meningkatkan kualitas diri dari waktu ke waktu,” katanya.

Ia juga menekankan pentingnya komunikasi profesional, manajemen waktu, serta kemampuan bekerja sama dalam tim sebagai modal utama memasuki dunia industri.

Kegiatan kemudian ditutup dengan praktik pembuatan career path dalam bentuk video berdurasi 2–3 menit dengan format landscape. Dalam tugas tersebut, siswa diminta menyusun gambaran cita-cita, rencana karier, serta langkah-langkah yang akan mereka lakukan untuk mencapai tujuan tersebut.

Melalui kegiatan ini, siswa kelas X memperoleh wawasan lebih mendalam mengenai etika dunia kerja, tantangan industri, serta pentingnya menyusun perencanaan karier sejak dini. Kehadiran para alumni yang telah terjun langsung di dunia industri juga memberikan motivasi tersendiri bagi peserta untuk mempersiapkan masa depan secara lebih matang.

Kegiatan Kokurikuler Etika Dunia Kerja ini menjadi bukti komitmen SMKN Jawa Tengah Semarang dalam membangun pendidikan vokasi yang tidak hanya menghasilkan lulusan kompeten secara teknis, tetapi juga memiliki karakter kuat, visi hidup jelas, dan kesiapan menghadapi tantangan dunia kerja modern.

0 Komentar

Beri Komentar

Balasan