Selasa, 11-08-2026
  • Website Ardan Sirodjuddin menerima tulisan artikel Guru, Kepala Sekolah dan Praktisi Pendidikan dalam Kolom Tulisan SahabatWebsite Ardan Sirodjuddin menerima tulisan artikel Guru, Kepala Sekolah dan Praktisi Pendidikan dalam Kolom Tulisan SahabatWebsite Ardan Sirodjuddin menerima tulisan artikel Guru, Kepala Sekolah dan Praktisi Pendidikan dalam Kolom Tulisan SahabatWebsite Ardan Sirodjuddin menerima tulisan artikel Guru, Kepala Sekolah dan Praktisi Pendidikan dalam Kolom Tulisan SahabatWebsite Ardan Sirodjuddin menerima tulisan artikel Guru, Kepala Sekolah dan Praktisi Pendidikan dalam Kolom Tulisan Sahabat
  • Website Ardan Sirodjuddin menerima tulisan artikel Guru, Kepala Sekolah dan Praktisi Pendidikan dalam Kolom Tulisan SahabatWebsite Ardan Sirodjuddin menerima tulisan artikel Guru, Kepala Sekolah dan Praktisi Pendidikan dalam Kolom Tulisan SahabatWebsite Ardan Sirodjuddin menerima tulisan artikel Guru, Kepala Sekolah dan Praktisi Pendidikan dalam Kolom Tulisan SahabatWebsite Ardan Sirodjuddin menerima tulisan artikel Guru, Kepala Sekolah dan Praktisi Pendidikan dalam Kolom Tulisan SahabatWebsite Ardan Sirodjuddin menerima tulisan artikel Guru, Kepala Sekolah dan Praktisi Pendidikan dalam Kolom Tulisan Sahabat

Guru Bahasa Inggris SMKN Jateng di Semarang Tampil Sebagai Pembicara di Konferensi Internasional CONAPLIN ke-19 di UPI

Diterbitkan : - Kategori : Berita

BANDUNG — Guru Bahasa Inggris SMKN Jateng di Semarang, Mokhamad Sabil Abdul Aziz, S.Pd., M.Pd., tampil sebagai presenter dalam The 19th Conference on Applied Linguistics (CONAPLIN) yang digelar di Universitas Pendidikan Indonesia (UPI), Bandung, Senin, 10 Agustus 2026. Keikutsertaan tersebut menjadi bagian dari upaya pengembangan kompetensi guru sekaligus membuka ruang bagi pendidik untuk berbagi hasil kajian dan memperoleh wawasan terbaru mengenai pembelajaran bahasa Inggris.

The 19th Conference on Applied Linguistics (CONAPLIN) merupakan konferensi internasional tahunan di bidang linguistik terapan yang diselenggarakan oleh Balai Bahasa dan program studi terkait di UPI. Pada penyelenggaraan ke-19, konferensi tersebut berlangsung bersamaan dengan The 4th Primary English Language Teachers Indonesia (PELTIN) Conference. Forum ini mempertemukan peneliti, dosen, guru, serta praktisi bahasa dari berbagai latar belakang untuk mendiskusikan perkembangan penelitian, praktik pembelajaran, dan kebijakan bahasa.

Konferensi tahun ini mengangkat tema “Multilingual Pathways: Acquisition, Pedagogy, and Policy Beyond Additional Language Learning”. Tema tersebut menempatkan persoalan multibahasa sebagai bagian penting dalam pembahasan mengenai bagaimana bahasa diperoleh, diajarkan, dan dikelola dalam konteks sosial, budaya, serta politik yang semakin kompleks.

Kegiatan konferensi dibuka secara resmi oleh Rektor UPI, Prof. Dr. H. Didi Sukyadi, M.A. Dalam rangkaian kegiatan tersebut, para peserta mendapatkan kesempatan untuk mengikuti paparan dan diskusi dari sejumlah akademisi serta praktisi yang membahas berbagai isu mutakhir dalam bidang linguistik terapan dan pembelajaran bahasa.

Salah satu garis besar yang mengemuka dalam konferensi adalah pentingnya peran guru profesional dalam mendidik murid. Guru tidak hanya dituntut menguasai materi pembelajaran, tetapi juga perlu terus mengembangkan kemampuan profesional agar mampu merespons perubahan kebutuhan peserta didik, perkembangan ilmu pengetahuan, teknologi, serta dinamika masyarakat.

Dalam konferensi tersebut, Mokhamad Sabil Abdul Aziz tampil sebagai presenter atau pemateri. Ia dijadwalkan menyampaikan paparannya pada pukul 13.00 hingga 14.00 WIB di Ruang 5C. Kesempatan tersebut menjadi pengalaman penting bagi Sabil untuk berpartisipasi secara aktif dalam forum akademik internasional sekaligus menyampaikan gagasan yang berkaitan dengan pembelajaran bahasa Inggris.

Sabil menilai keikutsertaannya dalam konferensi tersebut memberikan manfaat yang lebih luas daripada sekadar kesempatan mempresentasikan kajian. Menurutnya, forum akademik semacam CONAPLIN dapat menjadi ruang bagi guru untuk melakukan eksplorasi terhadap berbagai kemungkinan pengembangan pembelajaran di sekolah.

“Mengikuti kegiatan konferensi seperti The 19th Conference on Applied Linguistics (CONAPLIN) memberikan kesempatan kepada saya untuk terlibat aktif dalam suatu penelitian atau kajian. Guru dapat memiliki kesempatan untuk eksplorasi lebih banyak dalam pembelajaran,” ujar Mokhamad Sabil Abdul Aziz.

Menurut Sabil, keterlibatan guru dalam forum ilmiah juga memberikan kesempatan untuk memperluas perspektif melalui interaksi dengan para ahli. Ia mengaku memperoleh tambahan wawasan mengenai isu-isu terkini yang berkembang dalam pembelajaran bahasa Inggris.

“Saya juga dapat mengikuti perkuliahan dan simposium dari para ahli terkait isu terkini dalam pembelajaran bahasa Inggris,” katanya.

Tidak hanya mendapatkan wawasan mengenai pembelajaran bahasa, Sabil juga melihat konferensi tersebut sebagai sumber inspirasi untuk mengembangkan materi dan pendekatan pembelajaran yang lebih kontekstual. Berbagai isu yang dibahas para akademisi dapat menjadi bahan pertimbangan guru untuk mengembangkan pembelajaran yang relevan dengan kebutuhan peserta didik dan tantangan masa kini.

“Terakhir, saya mendapat banyak penyegaran mengenai topik-topik yang dapat diintegrasikan dalam pembelajaran bahasa Inggris, seperti Sustainable Development Goals (SDGs), STEM, pendidikan karakter, dan lain-lain,” tutur Sabil.

Pembahasan dalam CONAPLIN ke-19 sendiri tidak hanya berfokus pada pembelajaran bahasa dalam pengertian konvensional. Konferensi tersebut mengangkat sejumlah isu penting, antara lain pemerolehan multibahasa sepanjang hayat, pedagogi inovatif dan inklusif, praktik translanguaging, ideologi bahasa, serta kebijakan bahasa yang membentuk praktik multibahasa di lingkungan pendidikan dan masyarakat.

Perspektif tersebut menunjukkan bahwa pembelajaran bahasa semakin membutuhkan pendekatan yang mampu melihat peserta didik dan lingkungan belajar secara lebih utuh. Bahasa tidak berdiri sendiri, melainkan berkaitan erat dengan identitas, budaya, interaksi sosial, perkembangan teknologi, serta berbagai persoalan global.

Bagi guru, forum seperti CONAPLIN sekaligus menjadi jembatan antara teori dan praktik. Hasil penelitian dan pemikiran akademik yang berkembang di perguruan tinggi dapat menjadi referensi untuk memperkaya praktik pembelajaran di sekolah. Sebaliknya, pengalaman guru di ruang kelas juga dapat menjadi sumber penting bagi pengembangan penelitian dan inovasi pendidikan.

Kepala SMKN Jateng di Semarang, Ardan Sirodjuddin, S.Pd., M.Pd., mengapresiasi keberhasilan guru Bahasa Inggris sekolah tersebut yang berhasil lolos dan tampil dalam konferensi internasional CONAPLIN ke-19. Menurutnya, kesempatan tersebut menunjukkan bahwa guru SMKN Jateng di Semarang memiliki ruang untuk berkembang dan berkontribusi dalam forum akademik yang lebih luas.

“Kami mengapresiasi keberhasilan guru Bahasa Inggris SMKN Jateng di Semarang yang berhasil lolos dalam The 19th Conference on Applied Linguistics (CONAPLIN). Tidak semua guru memiliki kesempatan untuk mengikuti konferensi seperti ini,” ujar Ardan.

Ardan menegaskan bahwa pengembangan kapabilitas guru dan tenaga kependidikan (GTK) merupakan salah satu program prioritas SMKN Jateng di Semarang. Sekolah, kata dia, perlu memberikan ruang yang cukup bagi guru untuk terus belajar, meningkatkan kompetensi, mengikuti perkembangan keilmuan, serta membangun jejaring profesional.

“Pengembangan kapabilitas GTK SMKN Jateng di Semarang menjadi program prioritas sekolah,” tegasnya.

Menurut Ardan, keterlibatan guru dalam konferensi ilmiah internasional memiliki nilai strategis bagi sekolah. Pengalaman yang diperoleh guru selama mengikuti kegiatan akademik dapat dibawa kembali ke lingkungan sekolah untuk memperkaya proses pembelajaran dan dibagikan kepada rekan-rekan guru lainnya.

Dengan demikian, partisipasi seorang guru dalam forum ilmiah tidak berhenti pada pencapaian personal. Pengetahuan, pengalaman, dan jejaring yang diperoleh dapat menjadi modal untuk membangun budaya belajar di lingkungan sekolah. Guru yang aktif mengikuti perkembangan keilmuan diharapkan mampu menerjemahkan gagasan baru menjadi praktik pembelajaran yang lebih bermakna bagi murid.

CONAPLIN ke-19 juga memperlihatkan pentingnya kolaborasi antara dunia akademik dan praktik pendidikan. Kehadiran guru dalam konferensi internasional membuat pengalaman yang berkembang di ruang kelas dapat berinteraksi dengan hasil penelitian dan gagasan para akademisi. Interaksi tersebut diharapkan melahirkan perspektif baru mengenai pembelajaran bahasa yang lebih adaptif, inklusif, dan sesuai dengan tuntutan zaman.

Bagi Sabil, kesempatan tampil di CONAPLIN bukan sekadar agenda akademik, tetapi juga menjadi momentum untuk melakukan refleksi terhadap praktik pembelajaran yang selama ini dilakukan. Berbagai pengetahuan yang diperoleh dari perkuliahan, simposium, presentasi, dan diskusi diharapkan dapat menjadi bahan untuk mengembangkan pembelajaran bahasa Inggris yang semakin kaya dan relevan.

Keikutsertaan guru SMKN Jateng di Semarang dalam konferensi internasional tersebut sekaligus memperkuat komitmen sekolah dalam mendorong pengembangan profesionalisme guru. Di tengah perubahan pendidikan yang berlangsung cepat, guru dituntut untuk tidak berhenti belajar. Forum akademik menjadi salah satu ruang penting bagi guru untuk memperbarui pengetahuan, menguji gagasan, serta membangun jejaring dengan komunitas pendidikan yang lebih luas.

Melalui pengalaman tersebut, hasil konferensi diharapkan tidak berhenti sebagai catatan perjalanan seorang guru. Pengetahuan yang diperoleh dapat ditransformasikan menjadi inovasi pembelajaran di kelas, dibagikan kepada sesama pendidik, dan pada akhirnya memberikan dampak terhadap peningkatan kualitas pendidikan di sekolah.

Tampilnya Mokhamad Sabil Abdul Aziz sebagai presenter pada The 19th Conference on Applied Linguistics di UPI Bandung dengan demikian menjadi bagian dari perjalanan pengembangan profesional guru. Di tengah forum internasional yang membahas pemerolehan bahasa, pedagogi, dan kebijakan bahasa, kehadiran guru dari SMKN Jateng di Semarang menunjukkan bahwa pendidik di sekolah vokasi juga memiliki kesempatan untuk berkontribusi dalam percakapan akademik yang lebih luas sekaligus membawa pulang gagasan baru untuk diterapkan dalam pembelajaran.

0 Komentar

Beri Komentar

Balasan