Pekuncen – Upaya menumbuhkan budaya literasi di kalangan siswa terus digencarkan oleh SMP Negeri 3 Pekuncen. Salah satunya melalui kegiatan “Pembekalan dan Motivasi Literasi Duta Baca” yang diselenggarakan pada Selasa, 23 September 2025 di Laboratorium IPA SMP Negeri 3 Pekuncen. Kegiatan ini diikuti oleh perwakilan siswa dari setiap kelas, masing-masing 10 siswa dari kelas VII, VIII, dan IX, yang telah lolos tahap seleksi untuk menjadi calon Duta Baca Sekolah.
Acara dimulai pada pagi hari dengan penuh antusiasme dari para peserta. Mereka tampak bersemangat mengikuti setiap rangkaian kegiatan yang dikemas secara menarik dan interaktif. Pembekalan ini dibuka secara resmi oleh Kepala SMP Negeri 3 Pekuncen, Esti Purwaningsih, M.Pd., yang menyampaikan sambutan penuh motivasi dan makna tentang pentingnya peran literasi dalam kehidupan pelajar.
Dalam sambutannya, Esti menegaskan bahwa literasi bukan sekadar kegiatan membaca atau menulis, tetapi mencakup kemampuan berpikir kritis, memahami informasi, serta mengekspresikan gagasan dengan baik. Ia juga menekankan bahwa para calon Duta Baca memiliki tanggung jawab moral untuk menjadi teladan dalam menumbuhkan semangat membaca di lingkungan sekolah.
“Saya berharap calon Duta Baca ini bisa menjadi contoh bagi teman-temannya untuk gemar membaca dan aktif dalam kegiatan literasi. Literasi bukan hanya membaca dan menulis, tetapi juga kemampuan memahami, berpikir kritis, dan mengekspresikan gagasan secara positif,” ujar Esti dalam sambutannya.
“Kegiatan ini juga menjadi wadah untuk melatih siswa mengelola program literasi, seperti membuat pojok baca atau mengadakan kegiatan menulis kreatif yang melibatkan seluruh warga sekolah,” tambahnya.
Setelah sambutan pembukaan, acara dilanjutkan dengan sesi pembekalan utama oleh narasumber Titi Anisatul Laely, M.Pd., seorang pendidik sekaligus pegiat literasi yang telah banyak berkontribusi dalam pengembangan gerakan membaca di sekolah-sekolah. Dalam paparannya, Titi Anisatul Laely memberikan materi tentang kiat, motivasi, dan keterampilan mengelola kegiatan literasi sekolah agar para peserta siap menjalankan peran sebagai duta baca yang inspiratif.
Ia menjelaskan pentingnya membangun kebiasaan membaca sejak dini dan menumbuhkan rasa cinta terhadap buku. Menurutnya, seorang Duta Baca bukan hanya pembaca aktif, tetapi juga komunikator yang mampu menularkan semangat literasi kepada orang lain.
“Menjadi Duta Baca berarti menjadi teladan. Kalian harus bisa menginspirasi teman-teman lain agar membaca bukan karena kewajiban, tetapi karena kebutuhan dan kesenangan,” tutur Titi Anisatul Laely dengan penuh semangat.
“Mulailah dengan hal kecil, seperti rutin membaca setiap hari, menulis refleksi dari bacaan, dan berbagi kisah inspiratif dari buku yang kalian baca. Dari situ, budaya literasi akan tumbuh dengan sendirinya,” lanjutnya.
Sesi pembekalan berlangsung interaktif. Para peserta aktif mengajukan pertanyaan, berbagi pengalaman membaca, hingga berdiskusi tentang ide-ide kreatif untuk menghidupkan kegiatan literasi di sekolah. Beberapa di antaranya mengusulkan pembentukan “Komunitas Baca Ceria” sebagai wadah berbagi bacaan dan hasil karya tulis siswa.
Selain materi dan motivasi, narasumber juga memberikan simulasi pengelolaan program literasi, termasuk cara menyusun kegiatan pojok baca, lomba menulis puisi, hingga kampanye “One Book One Week” yang menargetkan setiap siswa membaca minimal satu buku setiap minggu. Suasana kegiatan berlangsung hangat dan penuh inspirasi.
Salah satu peserta dari kelas 9B, Revalina, mengaku sangat senang bisa mengikuti kegiatan ini. Menurutnya, pembekalan tersebut memberikan banyak pengetahuan baru tentang bagaimana mengelola kegiatan literasi yang menarik dan bermanfaat.
“Kegiatan ini membuka wawasan saya bahwa literasi tidak hanya soal membaca buku, tetapi juga berpikir kritis dan mengekspresikan pendapat dengan baik. Saya jadi lebih termotivasi untuk menjadi contoh bagi teman-teman agar sama-sama mencintai membaca,” ungkap Rara dengan semangat.
Kegiatan yang berlangsung hingga siang hari itu ditutup dengan sesi refleksi dan penyusunan rencana tindak lanjut dari masing-masing kelompok calon Duta Baca. Para peserta diminta merancang ide kegiatan literasi sederhana yang akan diterapkan di kelas masing-masing, seperti pojok baca mini, papan rekomendasi buku, hingga pajangan karya tulis siswa di mading sekolah.
Guru pembina literasi sekolah, Untung Trisno Waluyo,S.Pd, turut memberikan apresiasi atas terselenggaranya kegiatan ini. Ia menilai bahwa semangat dan partisipasi aktif para siswa menjadi bukti bahwa budaya literasi di SMP Negeri 3 Pekuncen semakin berkembang.
“Melalui pembekalan ini, kami berharap para Duta Baca benar-benar menjadi motor penggerak literasi di sekolah. Mereka tidak hanya membaca, tetapi juga menularkan semangat itu kepada seluruh warga sekolah,” ujarnya.
Secara keseluruhan, kegiatan Pembekalan dan Motivasi Literasi Duta Baca di SMP Negeri 3 Pekuncen tidak hanya menumbuhkan semangat membaca di kalangan siswa, tetapi juga membentuk karakter pelajar yang berpikir kritis, komunikatif, dan kreatif.
Antusiasme peserta menjadi bukti nyata bahwa gerakan literasi sekolah bukan sekadar program formalitas, melainkan sebuah gerakan bersama untuk membangun generasi muda yang cerdas, berbudaya, dan berdaya saing.
Kegiatan ini juga membuka wawasan baru tentang pentingnya kolaborasi dan inovasi dalam dunia pendidikan. Dengan semangat yang ditunjukkan oleh para calon Duta Baca, SMP Negeri 3 Pekuncen optimistis mampu menjadi sekolah yang unggul dalam menciptakan ekosistem literasi yang hidup dan berkelanjutan.









Beri Komentar