SEMARANG-Menjelang akhir masa pengabdiannya sebagai Kepala SMK Negeri 10 Semarang pada Desember 2025, perjalanan kepemimpinan Ardan Sirodjuddin, M.Pd selama empat tahun terakhir mendapat apresiasi istimewa dari orang tua murid. Pengalaman mengelola dan mentransformasi sekolah tersebut dipotret dalam sebuah buku berjudul SMK Negeri 10 Semarang di Mata Orang Tua Murid, yang memuat refleksi, kesaksian, serta pandangan langsung para orang tua terhadap perubahan dan dinamika sekolah.
Buku tersebut lahir dari kesadaran bersama bahwa dunia pendidikan terus bergerak mengikuti arus perubahan sosial, teknologi, dan tuntutan zaman. Para penulis, yang mayoritas merupakan orang tua murid, menempatkan kepemimpinan sebagai jantung transformasi sekolah. Kepemimpinan tidak hanya dipahami sebagai jabatan struktural, melainkan sebagai daya penggerak yang mampu menyalakan harapan, membangun kepercayaan publik, dan menumbuhkan budaya mutu yang berkelanjutan di lingkungan sekolah.
Ardan Sirodjuddin menjabat sebagai Kepala SMK Negeri 10 Semarang sejak Januari 2022. Dalam kurun waktu empat tahun tersebut, ia memimpin sekolah vokasi itu melalui berbagai tantangan, mulai dari penguatan budaya disiplin, peningkatan mutu pembelajaran, hingga pembenahan citra sekolah di mata masyarakat. “Saya meyakini bahwa sekolah tidak cukup hanya dikelola, tetapi harus dihidupi bersama. Kepemimpinan bagi saya adalah soal keteladanan dan keberanian untuk berubah tanpa kehilangan nilai,” ujar Ardan.
Melalui narasi yang jujur dan reflektif, buku ini menggambarkan bagaimana kepemimpinan yang visioner, humanis, dan berintegritas mampu mengubah wajah SMK Negeri 10 Semarang. Sekolah yang sebelumnya kerap dilekati stigma kurang baik, perlahan bertransformasi menjadi institusi pendidikan vokasi yang dipercaya publik. Orang tua murid menilai sekolah kini tampil sebagai rumah kedua yang aman, nyaman, dan menumbuhkan karakter peserta didik.
Salah satu orang tua murid yang turut menulis dalam buku tersebut, Supriyadi menyampaikan kesaksiannya. “Kami merasakan perubahan yang nyata. Komunikasi sekolah dengan orang tua menjadi lebih terbuka, tegas tetapi mendidik. Anak-anak tidak hanya didorong berprestasi, tetapi juga dibimbing menjadi pribadi yang berkarakter,” tulisnya. Kesaksian serupa muncul dalam berbagai tulisan yang menyoroti budaya kerja kolaboratif, inovasi pembelajaran, serta pengelolaan lingkungan sekolah yang semakin tertata.
Buku ini juga merekam bagaimana prestasi akademik dan non-akademik berjalan seiring dengan pembentukan nilai-nilai kemanusiaan, religiusitas, disiplin, serta kepedulian terhadap lingkungan. SMK Negeri 10 Semarang ditampilkan sebagai ruang belajar yang inklusif, tempat siswa tumbuh tidak hanya sebagai calon tenaga terampil, tetapi juga sebagai warga yang beretika dan bertanggung jawab.
Menurut Ardan, buku tersebut merupakan cermin sekaligus pengingat bahwa pendidikan adalah ikhtiar bersama. “Apa yang ditulis para orang tua ini menjadi penguat bagi kami semua. Sekolah tidak bisa berjalan sendiri. Ketika kepercayaan terbangun, maka perubahan akan lebih mudah diwujudkan,” katanya.
Menjelang berakhirnya masa tugas Ardan Sirodjuddin di SMK Negeri 10 Semarang, kehadiran buku SMK Negeri 10 Semarang di Mata Orang Tua Murid menjadi penanda penting sebuah perjalanan kepemimpinan. Buku ini tidak hanya mendokumentasikan capaian, tetapi juga menegaskan bahwa kepemimpinan sejati dalam pendidikan diukur dari dampak dan keteladanan yang ditinggalkan, serta dari tumbuhnya harapan akan masa depan generasi muda yang lebih baik.
Kontributor : Muhammad Yunan Setyawan, S.Pd, Waka Humas SMK Negeri 10 Semarang

Beri Komentar